Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Dongkrak Permintaan AC Buatan China, Penjualan Melonjak Tajam
INDOZONE.ID - Gelombang panas yang melanda sejumlah negara di Eropa memicu lonjakan permintaan terhadap pendingin ruangan (AC), terutama produk buatan China.
Produsen asal Negeri Tirai Bambu kini meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi pesanan yang terus berdatangan dari berbagai negara di kawasan tersebut.
Berbeda dengan banyak negara di Asia maupun Amerika Serikat, penggunaan AC di rumah-rumah Eropa masih tergolong rendah.
Sebagian besar bangunan dan hunian di kawasan itu sejak lama dirancang untuk mempertahankan kehangatan saat musim dingin, bukan menghadapi suhu panas ekstrem.
Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Pecah hingga Tembus 41 Derajat Celsius
Produsen China Kerja Tanpa Henti Penuhi Pesanan
Sejumlah produsen AC terbesar di China mengaku harus menggenjot produksi demi memenuhi permintaan yang melonjak, khususnya untuk model AC portabel tipe split yang praktis digunakan.
Salah satunya adalah Midea yang mengoperasikan pabriknya di Guangdong selama 24 jam penuh. Perusahaan tersebut fokus memproduksi seri PortaSplit yang belakangan menjadi salah satu produk paling diminati di pasar Eropa.
Produk tersebut dipasarkan sebagai AC yang tidak memerlukan proses instalasi rumit. Pengguna cukup memasangnya tanpa perlu mengebor dinding maupun menggunakan peralatan khusus.
Selain itu, desainnya diklaim kompatibel dengan sebagian besar jenis jendela di Eropa.
Baca juga: Prancis Dihantam Gelombang Panas, 40 Warga Meninggal Dunia Saat Berenang
Aturan Bangunan Bersejarah Jadi Kendala
Di kota-kota seperti Paris, pemasangan AC konvensional sering kali menghadapi berbagai hambatan. Banyak bangunan tua maupun bersejarah dilindungi aturan yang melarang perubahan tampilan eksterior, sehingga pemasangan unit AC permanen tidak diperbolehkan.
Kondisi tersebut membuat AC portabel menjadi solusi yang lebih praktis bagi masyarakat.
Midea mengungkapkan bahwa penjualannya di beberapa negara Eropa Barat mengalami pertumbuhan sangat signifikan. Di Prancis, Spanyol, Jerman, hingga Inggris, penjualan meningkat lebih dari 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, Gree Electric Appliances juga mencatat pertumbuhan penjualan lebih dari 40 persen di sejumlah negara seperti Prancis, Italia, dan Spanyol selama Januari hingga Juni 2026.
Menurut perusahaan, stok AC portabel mereka bahkan hampir habis di berbagai distributor karena tingginya permintaan konsumen.
China Kuasai Pasar Pendingin Ruangan Dunia
Dominasi China dalam industri pendingin ruangan global semakin terlihat. Pada 2025, negara tersebut mengekspor AC senilai hampir US$28 miliar atau menguasai sekitar 40 persen total ekspor dunia.
Tak hanya AC, berbagai produk penunjang untuk menghadapi cuaca panas seperti kipas genggam, topi berkipas, hingga selimut pendingin juga laris di pasar internasional.
Data bea cukai China menunjukkan ekspor AC ke negara-negara Uni Eropa pada paruh pertama 2026 mencapai US$3,76 miliar atau naik 43,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pengiriman ke Prancis, Belanda, dan Belgia, bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara ekspor ke Spanyol dan Jerman juga mencatat pertumbuhan dua digit.
Selain produsen China, perusahaan elektronik asal Korea Selatan dan Jepang seperti Samsung serta LG Electronics juga melaporkan peningkatan permintaan yang cukup tinggi dari pasar Eropa.
Pabrik-pabrik mereka kini beroperasi dengan kapasitas maksimal, untuk memenuhi kebutuhan selama musim panas.
Gelombang panas yang mulai melanda Eropa sejak 20 Juni 2026 disebut sebagai salah satu yang paling parah dalam sejarah.
Suhu udara di sejumlah negara seperti Polandia, Republik Ceko, dan Jerman menembus angka 40 derajat Celsius pada akhir pekan lalu.
Cuaca ekstrem tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan membebani sistem layanan kesehatan.
Di Prancis, lebih dari 1.000 kematian tambahan dilaporkan selama periode gelombang panas. Otoritas kesehatan setempat menyebut sebagian besar korban merupakan kelompok lanjut usia yang sangat rentan terhadap suhu ekstrem.
Kepemilikan AC di Eropa Masih Rendah
Meski suhu semakin panas dari tahun ke tahun, tingkat kepemilikan AC di Eropa diperkirakan baru mencapai sekitar 20 persen.
Selain proses pemasangan yang rumit, biaya instalasi juga tergolong mahal. Midea memperkirakan pemasangan satu unit AC di Eropa bisa menelan biaya lebih dari US$1.137 sehingga tidak semua rumah tangga mampu memasangnya.
Kabar mengenai gelombang panas di Eropa ramai menjadi pembahasan di media sosial China. Banyak warganet mengaku terkejut mengetahui masih banyak rumah di Eropa yang belum memiliki AC.
Di platform Weibo, tagar mengenai Prancis yang memesan 30.000 unit AC sempat menjadi topik paling populer.
Salah seorang pengguna Weibo mengaku melihat banyak keluhan warga Prancis mengenai sulitnya proses pemasangan AC di negara tersebut.
Pemerintah Prancis dilaporkan telah menyetujui pengadaan sekitar 30.000 unit AC untuk rumah sakit.
Sementara itu, politikus Prancis Geoffroy Boulard membagikan video di TikTok yang memperlihatkan pengiriman AC merek Haier ke sejumlah sekolah di wilayah Paris.
Ia menilai langkah tersebut perlu dilakukan karena respons pemerintah dinilai terlalu lambat dalam menghadapi suhu panas ekstrem.
Gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim mulai mengubah pola konsumsi masyarakat Eropa.
Permintaan terhadap pendingin ruangan terus meningkat, membuka peluang besar bagi produsen Asia, terutama China, yang kini menjadi pemasok utama berbagai perangkat penyejuk udara di pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com