Gempa Dahsyat di Filipina Angkat Dasar Laut hingga 2 Meter, Terumbu Karang Rusak dan Biota Laut Mati
INDOZONE.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah selatan Filipina tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga menyebabkan perubahan geologi yang cukup besar.
Salah satu dampak paling mencolok adalah terangkatnya dasar laut hingga sekitar dua meter di beberapa wilayah pesisir.
Fenomena tersebut membuat area yang sebelumnya berada di bawah permukaan air kini muncul ke atas dan terlihat jelas dari daratan. Akibatnya, hamparan terumbu karang, padang lamun, hingga berbagai organisme laut ikut terekspos dan mengalami kerusakan.
Baca juga: Gempa Dahsyat 7,8 Magnitudo di Filipina Picu Peringatan Tsunami, 3 Orang Dilaporkan Tewas
Garis Pantai Bertambah Panjang hingga 200 Meter
Perubahan kondisi pesisir pertama kali disadari oleh warga setempat sekitar dua hari setelah gempa terjadi. Mereka melaporkan bahwa garis pantai tampak semakin memanjang, bahkan di beberapa lokasi bertambah hingga sekitar 200 meter dibandingkan sebelumnya.
Menurut penjelasan otoritas lingkungan Filipina, fenomena ini dikenal sebagai coastal uplift atau pengangkatan pesisir. Peristiwa tersebut terjadi ketika pergerakan lempeng tektonik mendorong sebagian dasar laut naik ke permukaan.
Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina menjelaskan bahwa pergeseran di Palung Cotabato menyebabkan sebagian wilayah pesisir di Provinsi Sarangani dan Davao Occidental terdorong ke atas, sehingga dasar laut yang sebelumnya terendam kini terlihat di permukaan.
Baca juga: Tiga Orang Tewas dalam Runtuhnya Gedung di Filipina, 17 Orang Masih Hilang
Korban Jiwa dan Orang Hilang Masih Bertambah
Selain memicu perubahan bentang alam, gempa besar yang melanda Pulau Mindanao pada awal pekan itu juga menimbulkan dampak kemanusiaan yang serius.
Hingga pembaruan terakhir dari badan penanggulangan bencana setempat, sedikitnya 61 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara sekitar 40 orang lainnya masih belum ditemukan.
Proses pencarian terus dilakukan meski terkendala gempa susulan dan kerusakan berbagai fasilitas pendukung.
Terumbu Karang dan Padang Lamun Mengering
Tim dari Kementerian Lingkungan Hidup Filipina yang diterjunkan ke lokasi menemukan bahwa area pesisir yang luas mengalami perubahan drastis. Terumbu karang yang biasanya berada di bawah air, kini mengering akibat terpapar udara terbuka.
Tidak hanya itu, padang lamun yang menjadi habitat penting bagi berbagai spesies laut juga ikut terdampak. Karena kehilangan lingkungan alaminya, banyak organisme yang hidup di kawasan tersebut tidak mampu bertahan.
Foto-foto yang dirilis pemerintah memperlihatkan pemandangan memilukan berupa hamparan karang yang dipenuhi ikan mati, belut, kerang, dan berbagai hewan laut lainnya.
Para ahli menjelaskan bahwa organisme tersebut tidak dapat beradaptasi dengan perubahan mendadak akibat dasar laut yang terangkat. Ketika air surut secara permanen dari habitatnya, banyak spesies akhirnya mati karena kekurangan air dan paparan sinar matahari.
Kondisi ini juga memicu kekhawatiran warga mengenai bau menyengat dari proses pembusukan biota laut yang berpotensi mengganggu lingkungan sekitar.
Dampak Ekologis Berpotensi Berlangsung Lama
Palung Cotabato yang berada sekitar 50 kilometer dari pesisir selatan Mindanao memang dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi. Pada awal tahun bahkan sempat terjadi ribuan gempa kecil yang beruntun di wilayah tersebut.
Karena letaknya berada di zona pertemuan lempeng bumi, kawasan ini memiliki potensi mengalami pergerakan yang dapat memicu gempa besar maupun perubahan struktur dasar laut seperti yang terjadi kali ini.
Kerusakan pada terumbu karang dan padang lamun diperkirakan tidak hanya berdampak sesaat. Kedua ekosistem tersebut merupakan rumah bagi berbagai jenis ikan, moluska, hingga biota laut lainnya yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Jika proses pemulihan berlangsung lambat, maka dampaknya bisa meluas terhadap keanekaragaman hayati maupun mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada hasil laut di kawasan tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters