Jepang Aktifkan Kembali Pembangkit Nuklir Terbesar di Dunia Setelah 15 Tahun Pascabencana Fukushima
INDOZONE.ID - Jepang kembali mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia setelah lebih dari satu dekade berhenti beroperasi akibat tragedi Fukushima pada 2011.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah Jepang untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.
Pembangkit nuklir Kashiwazaki-Kariwa yang berada di Prefektur Niigata resmi kembali memasok listrik sejak 16 April 2026. Fasilitas yang dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Company (TEPCO) itu kini mampu menyuplai kebutuhan listrik sekitar 450 ribu rumah tangga di Jepang.
Baca juga: Jepang Kerahkan Ribuan Petugas Pemadam untuk Jinakkan Kebakaran Hutan di Wilayah Utara
Pembangkit Nuklir Terbesar di Dunia Mulai Beroperasi Lagi
Kashiwazaki-Kariwa dikenal sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di dunia berdasarkan kapasitas produksinya. Kompleks tersebut memiliki tujuh reaktor dengan total kapasitas mencapai 8.212 megawatt.
Lokasinya berada di wilayah Kashiwazaki dan desa Kariwa, Prefektur Niigata. Daerah itu dulunya terkenal sebagai pusat produksi minyak mentah sebelum akhirnya berkembang menjadi kawasan energi nuklir.
Meski memiliki tujuh reaktor, saat ini baru satu reaktor yang kembali diaktifkan. Listrik yang dihasilkan nantinya akan dialirkan ke wilayah Kanto, termasuk Tokyo, yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan Jepang.
Pembangkit tersebut pertama kali beroperasi pada 1985. Namun seluruh reaktor nuklir di Jepang dihentikan sementara setelah gempa bumi dan tsunami besar pada 2011 memicu kecelakaan nuklir Fukushima Daiichi, salah satu bencana nuklir terburuk sejak tragedi Chernobyl.
Baca juga: Geger Ada Jaringan Pedofilia WNA Jepang di Blok M, Polda Metro Jaya Langsung Bertindak!
Jepang Perlahan Menghidupkan Kembali Energi Nuklir
Saat ini Jepang memiliki 33 reaktor nuklir. Berdasarkan data Japan Atomic Industrial Forum, sebanyak 15 reaktor telah kembali aktif hingga tahun fiskal 2025.
Kashiwazaki-Kariwa menjadi fasilitas pertama milik TEPCO yang kembali beroperasi sejak insiden Fukushima.
Sebelumnya, perusahaan tersebut mendapat sorotan tajam karena juga mengelola PLTN Fukushima Daiichi yang kini masih dalam proses dekomisioning atau penonaktifan permanen.
Pengawas pembangkit Kashiwazaki-Kariwa, Takeyuki Inagaki, mengakui bahwa pengalaman bencana Fukushima menjadi pelajaran besar bagi seluruh industri nuklir Jepang.
Ia mengatakan tragedi tersebut meninggalkan pengalaman yang sangat berat, tetapi sekaligus menjadi momentum untuk memperbaiki standar keselamatan dan pengelolaan operasional pembangkit nuklir di Jepang.
Menariknya, Inagaki pernah bekerja sebagai manajer di Fukushima Daiichi ketika bencana besar itu terjadi pada 2011.
Operasional Sempat Terkendala Alarm Keselamatan
Reaktor Unit 6 di Kashiwazaki-Kariwa sebenarnya sudah sempat diaktifkan kembali pada Januari 2026 untuk pertama kalinya sejak 2012. Namun operasional sempat dihentikan setelah alarm keselamatan berbunyi ketika batang kendali reaktor dilepas.
Masalah lain kembali muncul pada Maret lalu akibat kerusakan sirkuit listrik saat daya dinyalakan. TEPCO kemudian menghentikan sementara operasional untuk melakukan perbaikan menyeluruh.
Meski begitu, pihak pengelola memastikan gangguan tersebut tidak sampai membahayakan keselamatan nuklir.
Inagaki menjelaskan bahwa penghentian sementara dilakukan sebagai langkah kehati-hatian setelah sejumlah staf menyampaikan kekhawatiran terkait sistem kendali reaktor.
Setelah proses perbaikan selesai, operasional komersial Unit 6 akhirnya kembali berjalan normal pada April 2026.
Fokus Besar pada Sistem Keamanan dan Pelatihan
Pasca tragedi Fukushima, Jepang menerapkan standar keselamatan yang jauh lebih ketat untuk seluruh pembangkit nuklir. TEPCO sendiri telah menginvestasikan hampir 1,2 triliun yen atau sekitar US$7,4 miliar guna meningkatkan sistem keamanan di Kashiwazaki-Kariwa.
Berbagai fasilitas tambahan dibangun, termasuk reservoir air tawar untuk pendinginan darurat reaktor serta sistem cadangan listrik jika terjadi kondisi darurat.
Selain itu, para pekerja rutin menjalani simulasi situasi kritis guna meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan kecelakaan.
Menurut Inagaki, sistem komando dan pengendalian menjadi hal paling penting yang dipelajari dari bencana Fukushima. Karena itu, latihan penanganan krisis kini dilakukan secara intensif untuk memastikan seluruh personel memahami prosedur darurat.
Tantangan Menyiapkan Tenaga Kerja Berpengalaman
Saat ini sekitar 6.700 pekerja bertugas di fasilitas Kashiwazaki-Kariwa. Namun TEPCO mengakui bahwa regenerasi tenaga kerja menjadi tantangan tersendiri.
Banyak pekerja muda belum pernah merasakan langsung pengalaman bekerja di pembangkit yang aktif beroperasi. Bahkan sekitar setengah staf di Unit 6 disebut belum pernah bekerja di fasilitas nuklir aktif sebelumnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan mengirim sejumlah pekerja ke pembangkit lain agar mereka memahami kondisi operasional nyata, mulai dari suara turbin, getaran mesin, hingga karakteristik suhu dan tekanan di dalam fasilitas.
Pengalaman langsung dianggap penting agar pekerja mampu membedakan kondisi normal dan potensi gangguan sejak dini.
Reaktor Lain Menyusul Aktif pada 2029
Selain Unit 6, reaktor Unit 7 di Kashiwazaki-Kariwa juga sudah mendapat persetujuan untuk kembali dioperasikan.
TEPCO menargetkan proses renovasi selesai pada Agustus 2029. Jika seluruh tahapan berjalan lancar, kapasitas pasokan listrik dari fasilitas tersebut diperkirakan meningkat dua kali lipat dibanding saat ini.
Pemerintah Jepang melihat kebangkitan energi nuklir sebagai bagian penting dari strategi ketahanan energi nasional, terutama di tengah tingginya harga energi global dan kebutuhan untuk menekan emisi karbon.
Meski demikian, isu keselamatan nuklir masih menjadi perhatian besar masyarakat Jepang. Tragedi Fukushima meninggalkan trauma mendalam sehingga pemerintah dan operator pembangkit dituntut menjaga transparansi serta standar keamanan tertinggi.
Jepang Berupaya Kurangi Ketergantungan Energi Impor
Kembalinya Kashiwazaki-Kariwa beroperasi menunjukkan arah baru kebijakan energi Jepang. Negara tersebut selama bertahun-tahun sangat bergantung pada impor batu bara, gas alam cair, dan minyak bumi setelah sebagian besar reaktor nuklir ditutup.
Dengan menghidupkan kembali pembangkit nuklir, Jepang berharap dapat mengurangi biaya impor energi sekaligus menjaga stabilitas pasokan listrik domestik.
Di sisi lain, pemerintah Jepang juga terus menekankan bahwa pengembangan energi nuklir harus berjalan seiring dengan peningkatan keselamatan, pengawasan ketat, dan kesiapan menghadapi situasi darurat.
Langkah ini diperkirakan akan terus menjadi perdebatan publik di Jepang, terutama antara kebutuhan energi nasional dan kekhawatiran masyarakat terhadap risiko kecelakaan nuklir di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com