Desak Gencatan, Pemimpin Eropa Minta Moratorium Serangan Fasilitas Energi di Timur Tengah
INDOZONE.ID - Para pemimpin Eropa akhirnya angkat bicara di tengah konflik yang mengguncang Timur Tengah.
Dalam KTT yang digelar di Brussel, Kamis (19/3/2026), Uni Eropa secara resmi menyerukan moratorium atau penghentian sementara serangan militer terhadap fasilitas energi dan air di kawasan tersebut.
Seruan ini muncul di tengah kekhawatiran yang semakin dalam tentang dampak perang Iran terhadap perekonomian global.
Para pemimpin 27 negara anggota UE menegaskan pentingnya de-eskalasi dan pengekangan maksimal dari semua pihak yang bertikai.
Baca juga: Mantan Direktur FBI James Comey Dipanggil Paksa, Jadi Target Investigasi Pemerintahan Trump
"Dewan Eropa menyerukan de-eskalasi dan pengendalian maksimal, perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil, serta penghormatan penuh terhadap hukum internasional oleh semua pihak," demikian bunyi kesimpulan tertulis KTT tersebut.
Fasilitas Sipil Jadi Sorotan
Yang menjadi sorotan utama adalah perlindungan terhadap infrastruktur dasar yang sangat penting bagi kelangsungan hidup warga sipil.
"Dalam hal ini, kami menyerukan moratorium serangan terhadap fasilitas energi dan air," tegas pernyataan tersebut.
Serangan terhadap fasilitas energi dan air dalam beberapa pekan terakhir telah memicu kekhawatiran global.
Baca juga: Operasi Kejar Bos Kartel di Sinaloa Meksiko Berujung Baku Tembak, 11 Tersangka Tewas
Selain menimbulkan korban sipil, kerusakan infrastruktur vital ini berpotensi menciptakan krisis kemanusiaan jangka panjang dan mengganggu pasokan energi dunia.
Memperkuat Keamanan Laut
Para pemimpin Eropa juga sepakat untuk memperkuat misi angkatan laut yang sudah ada di kawasan tersebut.
Aspides, misi angkatan laut di Laut Merah, dan Atalanta, misi anti-pembajakan di Tanduk Afrika, akan ditambah asetnya sesuai mandat masing-masing.
Soal Selat Hormuz, jalur air yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, Eropa menyambut baik upaya negara-negara anggota untuk meningkatkan koordinasi dengan mitra regional.
Baca juga: Serangan Israel di Gaza Terus Berlanjut, Tiga Orang Tewas di Tengah Evakuasi Medis Terbatas
Tujuannya jelas: memastikan kebebasan navigasi di selat strategis itu, "begitu kondisinya terpenuhi".
Seruan Eropa ini datang di tengah tekanan dari Presiden AS Donald Trump yang menginginkan sekutu-sekutunya lebih aktif membantu mengamankan Selat Hormuz.
Sejauh ini, respons sekutu Eropa terhadap permintaan Trump masih cenderung hati-hati.
Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda mereda, moratorium serangan infrastruktur ini diharapkan menjadi langkah awal menuju penghentian permusuhan yang lebih luas, sekaligus melindungi warga sipil dan ekonomi global dari kehancuran lebih lanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters