Rabu, 25 FEBRUARI 2026 • 12:05 WIB

Angka Kelahiran Korsel Kembali Naik, Krisis Demografi Mulai Teratasi?

Author

Ilustrasi kelahiran anak di Korea Selatan. (allkpop.com)

INDOZONE.ID - Setelah nyaris satu dekade terpuruk dalam krisis demografi, Korea Selatan akhirnya menunjukkan secercah harapan. 

Data resmi pemerintah yang dirilis Rabu (25/2/2026) mencatat angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR) di Negeri Ginseng pada tahun 2025 berada di angka 0,80. 

Meski masih sangat rendah, angka ini naik dari 0,75 di tahun 2024.

Kenaikan ini menandai tahun kedua berturut-turut angka kelahiran Korsel mengalami peningkatan. 

Sebelumnya, negara dengan angka kelahiran terendah di dunia ini mencatat rekor terburuk pada 2023 dengan TFR hanya 0,72.

Baca juga: Meksiko Klaim Kondisi Telah Pulih Usai Operasi Militer yang Menewaskan El Mencho

Lonjakan Pernikahan Jadi Pendorong Utama

Apa yang membuat angka kelahiran mulai merangkak naik? Kementerian Data dan Statistik Korsel menyebut bahwa peningkatan jumlah pernikahan menjadi faktor kunci. 

Tahun 2025, angka pernikahan melonjak 8,1%, melanjutkan rekor kenaikan terbesar sepanjang masa sebesar 14,8% di tahun sebelumnya. 

Padahal, pernikahan biasanya menjadi indikator utama kelahiran dengan jeda waktu satu hingga dua tahun.

Selain itu, ada faktor demografis alami: meningkatnya jumlah penduduk berusia 30-an, yang merupakan usia paling umum untuk menikah dan memiliki anak. 

Baca juga: Helikopter Militer Iran Jatuh di Komplek Pasar Buah, Penyebabnya Belum Diketahui

Perubahan sikap sosial terhadap pernikahan dan keluarga juga ikut berkontribusi. 

Survei pemerintah tahun 2024 menunjukkan 52,5% warga Korsel memiliki pandangan positif tentang pernikahan, naik dari 50,1% di tahun 2022.

Lebih Cepat dari Proyeksi, Tapi Masih Perlu Dicermati

Yang menarik, laju pemulihan ini ternyata lebih cepat dari perkiraan optimis pemerintah sekalipun. 

Proyeksi sebelumnya memperkirakan TFR baru akan mencapai 0,80 pada tahun 2026. Sekarang, target itu tercapai setahun lebih awal.

Namun, para ahli mengingatkan untuk tidak terburu-buru merayakan. 

Shin Kyung-ah, profesor sosiologi di Universitas Hallym, mengatakan data ini perlu diteliti lebih dalam karena ada efek statistik dari perubahan komposisi populasi. 

Baca juga: Israel Cemas jika Tentara Indonesia Masuk ke Jalur Gaza

"Meski begitu, ini berarti sebagai indikator yang menunjukkan perubahan positif, yang setidaknya secara tidak langsung akan membantu orang menjadi lebih positif tentang memiliki anak," ujarnya.

Data menunjukkan jumlah kelahiran baru tahun 2025 mencapai 254.457, naik 6,8% dan menjadi kenaikan persentase terbesar sejak 2007. 

Sayangnya, jumlah kematian (363.389) masih lebih tinggi, sehingga populasi tetap menyusut untuk tahun keenam berturut-turut.

Ibu kota Seoul mencatatkan kenaikan tertinggi, dengan TFR naik 8,9% menjadi 0,63, meski masih menjadi yang terendah secara nasional.

Baca juga: Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Lepas Pantai Sabah, Terbesar dalam 11 Tahun Terakhir

Kebijakan Pemerintah dan Ancaman Ekonomi di Masa Depan

Pemerintahan Presiden Lee Jae-myung berencana menyusun peta jalan kebijakan lima tahun untuk merespons perubahan demografi tahun ini. 

Kekhawatiran utama adalah guncangan ekonomi akibat populasi yang menua dengan cepat. 

Bank sentral memperkirakan tingkat pertumbuhan ekonomi potensial Korsel, yang saat ini sekitar 2% per tahun, akan turun hingga 0,6% pada periode 2045-2049.

Lembaga pemeringkat kredit juga memperingatkan tekanan pada keuangan publik akibat membengkaknya belanja kesejahteraan sosial. 

Dana pensiun publik Korsel, yang merupakan terbesar ketiga di dunia dengan aset $1 triliun, diproyeksikan akan habis pada 2071.

Baca juga: Rupanya Ada Campur Tangan AS dalam Operasi Militer yang Tewaskan Bos Kartel Meksiko

Pemerintah berencana memperluas dukungan kebijakan untuk kelahiran dan menarik pekerja asing terampil. 

Di tingkat regional, Lee juga telah mengajak China dan Jepang untuk berkolaborasi mengatasi masalah populasi menua.

Populasi Korsel yang saat ini 51,8 juta jiwa diproyeksikan menyusut hampir sepertiga menjadi 36,2 juta pada 2072. 

Kenaikan angka kelahiran ini adalah langkah kecil, tapi penting untuk membalikkan tren yang lebih besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU