INDOZONE.ID - Amerika Serikat (AS) keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada 22 Januari 2026. Padahal, Paman Sam adalah penyandang dana terbesar organisasi tersebut.
Presiden AS, Donald Trump, menandatangani perintah eksekutif untuk menarik diri negaranya dari keanggotaan WHO, pada 20 Januari 2025.
Setelah melewati masa pemberitahuan setahun yang diwajibkan, AS keluar dari organisasi tersebut pada 22 Januari 2026.
Keluarnya AS dari keanggotaan WHO berdasarkan dua alasan, yaitu penanganan pandemi Covid-19 dan krisis kesehatan global lainnya.
Penyesalan pun disampaikan oleh WHO atas keluarnya AS. Apalagi, AS merupakan anggota pendiri WHO pada 7 April 1948. Sejak itu hingga sebelum keluar, AS telah banyak membantu kinerja WHO.
Baca juga: Virus Nipah Kembali Makan Korban di India, WHO Peringatkan Potensi Pandemi
AS Penyumbang Dana Terbesar WHO
Jika WHO ketar-ketir dengan keluarnya AS, itu dapat dimaklumi. Sebab, AS merupakan penyumbang dana terbesar organisasi tersebut.
Melansir dari Health Policy Watch, Rabu (28/1/2026), AS menyediakan 18 persen dari total pendanaan WHO.
Kamu harus tahu, kontribusi AS untuk WHO pada 2024-2025 menyentuh USD6,8 miliar (sekira Rp113 triliun). Karena telah keluar, penghentian pendanaan AS untuk WHO akan dilakukan dalam 12 bulan.
Kontribusi besar AS dalam pendanaan WHO pun dapat kritik dari Trump. Ia menilai kontribusi AS terlalu besar ketimbang negara-negara lainnya, seperti China.
“WHO telah memanfaatkan kita, sama seperti orang lain,” kata Trump saat penandatanganan perintah eksekutif.
“Itu harus berhenti sekarang,” sambungnya.
Baca juga: Israel Hancurkan Rumah Sakit Terakhir di Gaza Utara, WHO: Hentikan Segera!
WHO Sayangkan Keluarnya AS
WHO menyayangkan keluarnya AS dari keanggotaan organisasi tersebut. Dalam sebuah pernyataan, WHO menyebut AS dan organisasi tersebut telah menyelamatkan banyak nyawa selama lebih dari tujuh dekade.
“Selama lebih dari tujuh dekade, WHO dan AS telah menyelamatkan banyak nyawa dan melindungi warga Amerika serta semua orang dari ancaman kesehatan,” kata WHO.
“Bersama-sama, kita mengakhiri cacar, dan bersama-sama kita telah membawa polio ke ambang pemberantasan. Lembaga-lembaga Amerika telah berkontribusi dan memperoleh manfaat dari keanggotaan WHO,” sambungnya.
Tak lupa, WHO menekankan perannya dalam melindungi kesehatan dan keamanan semua orang, termasuk warga Amerika.
AS Secara Resmi Keluar WHO?
Melansir dair Time, berdasarkan Piagam WHO, tidak ada klausul yang mengizinkan anggota untuk keluar. Akan tetapi, ada pengecualian untuk AS.
Saat bergabung ke WHO, Kongres AS memasukkan opsi untuk keluar dari organisasi tersebut jika memberi pemberitahuan setahun sebelumnya dan memenuhi kewajiban keuangannya dengan bayar iuran secara penuh.
Baca juga: Serangan Berlanjut, WHO Kecam Situasi Kesehatan di Gaza Utara yang Kritis
Syarat pertama telah dilakukan oleh AS dengan via perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pada 25 Januari 2025. Akan tetapi, AS belum membayar tunggakannya dari pemerintahan Joe Biden.
Oleh sebab itu, keluarnya AS dari WHO akan dibahas dewan eksekutif organisasi tersebut pada Februari mendatang. Pembicaraan itu akan berlanjut ke Majelis Umum yang akan bertemu pada Mei 2026.
“Kami berharap negara-negara anggota dapat membahas hal ini,” kata Pejabat Hukum Utama WHO, Steven Solomon.
“Karena pertanyaan-pertanyaan tentang penarikan diri, pertanyaan tentang syarat, janji, dan kesepakatan yang dicapai antara AS dan Majelis Kesehatan Dunia (WHO). Ini adalah masalah yang dikhususkan untuk negara-negara anggota, dan bukan masalah yang dapat diputuskan oleh staf WHO,” sambungnya.
Risiko AS Usai Keluar dari WHO
Penarikan diri AS dari WHO tentu menghadirkan risiko. Salah satu risiko mendasar dari aksi AS ini, adalah para ilmuwan Paman Sam kehilangan aksen pada data penyakit menular.
Meski para ilmuwan AS bisa mengakses data yang bersifat publik, mereka akan kekurangan pengetahuan perihal bagaimana data dikumpulkan dan diproses secara komprehensif.
Baca juga: WHO Akan Evakuasi 1.000 Wanita dan Anak-anak dari Gaza untuk Perawatan Medis Darurat
Padahal, data komprehensif dibutuhkan untuk menafsirkan hingga memahami potensi wabah penyakit berbahaya yang mungkin terjadi di masa depan.
Risiko lainnya adalah penurunan kesiapan AS dalam menghadapi wabah penyakit. Tanpa persiapan matang, peluang wabah penyakit jadi makin parah di AS membesar. Ujungnya, kesehatan dan keselamatan warga AS, termasuk tenaga medis, yang dipertaruhkan.
Selain itu, AS juga dihadapkan pada risiko geopolitik. Sebab, keluarnya AS dari WHO meninggalkan lubang yang bisa dimaksimalkan oleh negara lain.
Meski keputusan WHO diambil berdasarkan konsensus semua anggota, negara-negara besar lain bisa mengambil peran yang mempengaruhi prioritas kesehatan global.
Dari sisi WHO, keluarnya AS juga meninggalkan risiko besar. Bagaimana tidak, AS merupakan penyandang dana terbesar di organisasi tersebut.
Tanpa AS, WHO harus merevisi anggaran dana. WHO juga harus mengurangi ketergantungan pada penyandang dana terbesar, yang telah dilakukan sebelum keputusan Trump untuk keluar.
Namun, tanpa pendonor dana terbesar, sumber daya WHO untuk membantu negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah akan berkurang.
Baca juga: WHO: Lebih Dari 1 Miliar Orang di Dunia Menderita Obesitas
Dampak terburuknya dari kekurangan sumber daya terhadap negara-negara yang membutuhkan, adalah meningkatnya potensi percepatan penyebaran penyakit.
Direktur Jenderal WHO, dr. Tedros Ghebreysus, menyatakan keluarnya AS merupakan kerugian bagi Paman Sam sendiri dan seluruh dunia.
Apalagi, secara ekonomi, kekuatan dan stabilitas negara maju, seperti AS, juga berkaitan dengan negara-negara berkembang.
“Penarikan diri dari WHO adalah kerugian bagi Amerika Serikat, dan juga kerugian bagi seluruh dunia,” ujar Ghebreysus.
Bahkan, Ghebreysus menegaskan bahwa keputusan AS keluar dari WHO bukan keputusan yang tepat.
“Hal itu juga membuat AS dan seluruh dunia tidak aman. Ini bukanlah keputusan tepat,” tegasnya.
Meski telah menarik diri, WHO tetap terbuka pada peluang AS kembali bergabung di masa depan. Ghebreysus berharap AS kembali mempertimbangkan dan memikirkan kembali keputusannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: TIME, Health Policy Watch