Minggu, 27 JULI 2025 • 17:40 WIB

Donald Trump Serukan Gencatan Senjata, Baku Tembak Masih Terjadi di Perbatasan Thailand-Kamboja

Author

Orang-orang berkumpul untuk menerima pasokan air yang disumbangkan di kamp Sekolah Dasar Batthkao, di tengah bentrokan yang sedang berlangsung di perbataan Thailand-Kamboja. (REUTERS/Soveit Yarn)

INDOZONE.ID - Konflik bersenjata di perbatasan Thailand dan Kamboja belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Meskipun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah menyerukan gencatan senjata, kedua negara tetap terlibat dalam aksi baku tembak yang memanas pada Minggu (27/7/2025).

Kamboja menyatakan dukungan penuh terhadap seruan damai tersebut dan siap menghentikan semua bentuk kekerasan.

Baca juga: Kamboja Ajak Thailand Berdamai, Serukan Gencatan Senjata Setelah Bentrokan Mematikan

Namun, Thailand menyatakan tidak dapat memulai pembicaraan selama serangan terhadap warga sipilnya terus berlangsung, klaim yang langsung dibantah oleh Kamboja.

Pelaksana Tugas Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, menyampaikan bahwa negaranya tidak berniat melibatkan negara ketiga dalam konflik ini, tetapi menghargai perhatian Presiden Trump.

Ia juga menambahkan bahwa Thailand telah mengusulkan pertemuan antara menteri luar negeri kedua negara, untuk membahas syarat-syarat gencatan senjata serta penarikan mundur pasukan dan senjata jarak jauh.

Seruan Gencatan Senjata Belum Berbuah Hasil

Pemerintah Kamboja menegaskan bahwa justru Thailand yang lebih dulu memulai bentrokan terbaru, dengan menggerakkan pasukannya di sepanjang garis perbatasan.

Sebaliknya, Thailand mengklaim bahwa tindakan mereka hanyalah bentuk balasan atas serangan dari Kamboja.

Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menyatakan bahwa pihaknya siap menerima gencatan senjata secara langsung dan tanpa syarat.

Baca juga: Thailand Peringatkan Konflik Perbatasan dengan Kamboja Bisa Meletus Jadi Perang

Ia mengaku telah menyampaikan hal tersebut langsung kepada Presiden Trump. Hun Manet juga menambahkan bahwa Kamboja sebelumnya telah menerima usulan serupa dari Malaysia.

Pada Sabtu (26/7/2025), Donald Trump mengatakan bahwa ia telah berbicara langsung dengan para pemimpin Thailand dan Kamboja, dan mereka sepakat untuk bertemu serta mencari solusi damai.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menulis bahwa kedua pihak berkomitmen untuk segera mengupayakan gencatan senjata.

Ia juga menyampaikan bahwa negosiasi tarif antara AS dan kedua negara akan ditangguhkan sampai konflik mereda.

Sengketa Lama yang Belum Terselesaikan

Kendaraan militer terlihat di provinsi Sisaket, ketika Kamboja dan Thailand masing-masing mengatakan bahwa pihak lain telah meluncurkan serangan artileri di daerah perbatasan yang disengketakan. (REUTERS/Athit Perawongmetha)

Ketegangan antara Thailand dan Kamboja bukanlah hal baru. Perselisihan ini kembali memanas sejak seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan pada akhir Mei lalu.

Situasi ini turut memperburuk kondisi politik di Thailand, yang saat ini dipimpin oleh koalisi pemerintahan yang rapuh.

Sengketa wilayah di sepanjang perbatasan sepanjang 817 kilometer telah berlangsung selama beberapa dekade.

Titik utama konflik berkisar pada kepemilikan kuil Hindu kuno Ta Moan Thom dan Preah Vihear yang dibangun pada abad ke-11.

Baca juga: Hari Kedua Ketegangan Thailand-Kamboja, PM Sementara Thailand Peringatkan Potensi Perang!

Mahkamah Internasional pernah menetapkan pada tahun 1962 bahwa kuil Preah Vihear adalah bagian dari wilayah Kamboja.

Namun, ketegangan kembali mencuat pada tahun 2008, saat Kamboja berupaya mendaftarkan situs tersebut sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Bentrokan yang terjadi selama beberapa tahun menyebabkan puluhan korban jiwa dari kedua belah pihak.

Pada Juni lalu, Kamboja mengumumkan bahwa mereka telah membawa sengketa ini ke pengadilan internasional.

Namun, Thailand menolak langkah tersebut dan menyatakan bahwa mereka tidak mengakui yurisdiksi pengadilan. Pemerintah Thailand tetap memilih pendekatan bilateral dalam menyelesaikan masalah ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU