Israel Dituduh Masukkan Narkoba ke Dalam Tepung Bantuan dari AS Buat Warga Gaza Palestina
INDOZONE.ID - Otoritas Gaza mengklaim menemukan pil narkoba jenis Oxycodone yang dimasukkan ke dalam kantong tepung bantuan yang dikirim melalui jalur distribusi yang dikelola Amerika Serikat (AS). Mereka menuduh Israel berada di balik kejadian tersebut.
Dalam pernyataannya, mereka mengatakan bahwa obat-obatan tersebut ditemukan tersembunyi di dalam kantong tepung bantuan yang dibagikan kepada warga.
Pil tersebut diduga adalah Oxycodone. Ini adalah jenis obat penghilang rasa yang biasa digunakan dalam pengobatan medis, tapi juga berisiko tinggi menimbulkan kecanduan.
Kantor media pemerintah Gaza menyebut temuan ini berpotensi membahayakan keselamatan publik.
“Ada kemungkinan bahwa pil-pil ini sengaja digiling atau dilarutkan di dalam tepung itu sendiri, yang merupakan serangan langsung terhadap kesehatan masyarakat,” demikian peringatan resmi mereka dikutip dari Anadolu, Senin (30/6/2025).
Tuduh Israel
Dalam pernyataannya, pemerintah Gaza menuding Israel. Mereka menyebut penemuan narkoba tersebut sebagai kejahatan keji, dan bentuk baru dari perang diam-diam terhadap rakyat Palestina.
"Ini adalah bagian dari genosida Israel yang sedang berlangsung terhadap warga Palestina," tulis mereka.
Mereka juga menyebut taktik ini sebagai "senjata lunak dalam perang kotor terhadap warga sipil", merujuk pada strategi perang non-konvensional lewat penyebaran narkoba.
Distribusi Bantuan Jadi Kontroversi
Israel memang sedang mengembangkan sistem distribusi bantuan sendiri di Gaza bagian selatan dan tengah. Langkah ini banyak dikritik oleh dunia internasional karena dianggap mengabaikan mekanisme bantuan yang dijalankan oleh PBB.
Media Israel menyebutkan tujuan dari sistem ini adalah untuk memindahkan warga sipil dari Gaza utara ke arah selatan. Namun, banyak yang melihatnya sebagai cara Israel untuk menghindari pengawasan internasional.
Baca juga: RS Indonesia di Gaza Diserang Israel, 55 Orang Terjebak!
Ribuan Tewas di Sekitar Titik Bantuan
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, sejak 27 Mei lalu, setidaknya 549 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.000 orang terluka akibat serangan yang terjadi di dekat pusat distribusi bantuan dan konvoi truk makanan PBB.
Situasi ini memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza, yang terus berlangsung sejak serangan Israel dimulai pada Oktober 2023.
Hingga saat ini, serangan Israel ke Gaza telah menewaskan lebih dari 56.300 orang, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak.
November 2024 lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Israel juga masih menghadapi gugatan kasus genosida yang diajukan ke Mahkamah Internasional (ICJ) terkait invasi dan blokade di Gaza.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Anadolu