Profil Frans Manansang, Pendiri Taman Safari yang Terseret Isu Kekerasan dan Eksploitasi Eks Pemain Sirkus OCI
INDOZONE.ID - Nama Frans Manansang belakangan ini menjadi perbincangan hangat oleh publik, buntut kasus dugaan eksploitasi dan kekerasan eks pemain sirkus Oriental Circus Indonesia (OCI).
Frans Manansang adalah salah satu pendiri Taman Safari Indonesia yang kini jadi ikon wisata alam dan konservasi satwa liar.
Frans Manansang bersama keluarganya, membangun kerajaan wisata tersebut dari nol.
Namun, perjalanan Frans tidaklah sepenuhnya bersih dari kontroversi yang telah ramai beredar di media sosial belakangan ini.
Baca Juga: Sosok Brigjen Eko Hadi, Dirnarkoba Bareskrim Baru: Kerap Ungkap Kasus Terorisme!
Lantaran, Frans terjerat dugaan eksploitasi pekerja sirkus yang mencoreng citra keluarga Manansang.
Lantas, siapakah sebenarnya Frans Manansang ini? Berikut ulasan lengkapnya mengenai kiprah, keluarga, serta kontroversi yang menyelimutinya.
Frans Lahir dari Tradisi Sirkus Keluarga
Frans Manansang merupakan putra dari Hadi Manansang, seorang seniman akrobat yang berasal dari Shanghai.
Hadi memulai perjalanan kariernya dengan membangun sirkus keliling di Indonesia. Sejak kecil, Frans telah akrab dengan dunia pertunjukan sirkus.
Ia pun mulai berlatih atraksi sejak usia dini dan tampil di berbagai wilayah bersama Oriental Circus Indonesia (OCI).
Pada tahun 1980, Hadi bersama ketiga putranya, yakni Frans, Jansen, dan Tony, mendirikan Taman Safari Indonesia di Bogor, yang kemudian berkembang menjadi bisnis yang sangat sukses.
Taman Safari dikenal sebagai pelopor konservasi satwa yang mengedepankan nilai-nilai edukasi di Tanah Air.
Frans memainkan peran penting dalam perkembangan tempat wisata tersebut.
Karena kontribusi besar mereka, ketiganya dijuluki sebagai "Tiga Macan Safari" atas dedikasi dalam membangun Taman Safari dari nol.
Perjalanan dari Sirkus ke Konservasi Satwa
Beralih dari dunia sirkus ke ranah konservasi satwa bukanlah langkah yang mudah. Namun, keluarga Manansang berhasil menjadikan diri mereka sebagai pionir dalam sektor wisata berbasis konservasi.
Frans memainkan peran penting dalam pembangunan kawasan wisata dan pengelolaan satwa liar yang dinaungi oleh Taman Safari Indonesia.
Saat ini, Taman Safari telah berkembang dan memiliki beberapa cabang, termasuk yang berada di Prigen dan Bali, dengan konsep yang memadukan unsur edukasi dan hiburan.
Frans juga dikenal sebagai sosok yang aktif dalam pelestarian hewan-hewan khas Indonesia, seperti komodo, orangutan, dan harimau sumatera.
Meski begitu, jejak masa lalu dari dunia sirkus ternyata menyisakan kontroversi yang belakangan mulai mencuat ke permukaan.
Teseret Isu Eksploitasi dan Kekerasan
Nama Frans tidak hanya dikenal karena kontribusinya di dunia konservasi, tetapi juga mulai menuai sorotan akibat sejumlah kontroversi.
Ia dikabarkan terseret dalam dugaan kasus kekerasan terhadap anak-anak yang terlibat dalam pertunjukan sirkus.
Kasus ini mencuat setelah sejumlah mantan anggota Oriental Circus Indonesia (OCI) mengungkapkan bahwa mereka menjadi korban kekerasan fisik dan pelecehan sejak usia dini.
Dugaan praktik eksploitasi ini disebut telah berlangsung sejak tahun 1970-an, ketika OCI masih aktif melakukan pertunjukan keliling.
Beberapa korban bahkan telah menyampaikan pengakuannya melalui media sosial.
Frans disebut-sebut mengetahui adanya perlakuan tersebut, meski hingga kini belum ada tindakan hukum yang ditujukan langsung kepadanya.
Isu ini memicu sorotan terhadap praktik dalam dunia sirkus tradisional yang selama ini jarang mendapat perhatian serius.
Walaupun Taman Safari kini sudah tidak lagi menampilkan pertunjukan sirkus, jejak masa lalu itu masih melekat pada sosok Frans Manansang.
Frans Manansang merupakan tokoh sentral di balik keberhasilan Taman Safari Indonesia. Ia melanjutkan jejak keluarga dalam dunia pertunjukan dan pelestarian satwa.
Baca Juga: Profil Pengacara Kondang Hotma Sitompul yang Meninggal Dunia di Usia 68 Tahun
Namun, latar belakang sirkus yang menjadi bagian dari sejarah keluarganya juga membawa sisi kelam yang dirasakan sebagian orang.
Dugaan praktik eksploitasi mencoreng reputasinya, meski hingga kini belum ada tindakan hukum yang dilakukan.
Perhatian publik terhadap masa lalunya pun tak kunjung reda. Masyarakat menunggu adanya penjelasan dan bentuk tanggung jawab.
Perjalanan hidup Frans mencerminkan rumitnya persinggungan antara budaya, bisnis hiburan, dan isu hak asasi manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Taman Safari Indonesia