Jadi Wilayah Kasus Stunting Tertinggi di Bantul Sampai Hari Ini, Panewu Srandakan Lakukan Genting Angsa, Apa Itu ?
INDOZONE.ID - Pemerintah Kapanewon Srandakan mengakui jika persoalan stunting masih jadi pekerjaan rumah besar sampai sekarang. Pasalnya, kapanewon yang bertepatan dengan Kabupaten Kulonprogo tersebut mencatatkan jumlah stunting tertinggi di Bantul selama tahun 2024 kemarin yakni mencapai lebih dari 200 anak.
Banyaknya informasi yang menyatakan alasan terjadinya kasus stunting karena keterbatasan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Namun, Panewu Srandakan tersebut, Sarjiman menyampaikan bahwa, banyaknya angka stunting di wilayahnya bukan karena kurangnya perekonomian.
"Sampai saat ini juga masih sedang dalan kajian ya, soal kemarin kenapa permasalahan stunting disini masih tinggi dari empat kapanewon ya bukan karena tidak punya kemampuan secara ekonomi tapi karena pola asuhnya yang tidak pas. Srandakan bukan desa miskin atau kekurangan,"katanya saat dihubungi, pada Kamis (16/1/2025).
Baca Juga: Harga Gabah Anjlok di Jogja, Ketua Komisi IV Titiek Soeharto Semprot Bulog Harga Rp5500
Lebih lanjut, Sarjiman memang mengakui masih ada kendala dalam optimalisasi penimbangan balita, terutama karena rendahnya partisipasi masyarakat.
"Jadi ya karena kurangnya pengetahuan pola asuh orang tua kepada anak terutama orang tua muda ya. Kadang-kadang orang tua itu malas masak. Nah ini yang harus kita edukasi," jelasnya.
"Sehingga cara itu menjadi salah satu prioritas kita adalah parenting seperti melalui posyandu yang didampingi oleh puskesmas tentang bagaimana mengedukasi bagaimana mengasuh agar memberikan asupan gizi yang sesuai dengan usia.
Jadi, upaya-upaya kita untuk mengatasi stunting saya kira ini sudah terintegrasi ya," imbuhnya.
Sebagai salah satu upaya menekan angka stunting di wilayahnya, pihaknya melakukan sejumlah sosialisasi. Salah satunya adalah sosialisasi program Genting Angsa.
"Kalau di Srandakan sendiri, kami punya program yang namanya Genting Angsa (Gerakan Penanggulangan Stunting Bangsa). Program ini dilakukan secara terpadu lintas sektor dengan instansi terkait seperti dinas-dinas, KUA, Polsek, hingga Koramil. Untuk apa ? Untuk mencari penyebab utama stunting agar angkanya turun kalau bisa sudah tidak ada lagi kasus," terangnya.
Diketahui pula, Pemkab Bantul juga memperkuat program ini dengan menambahkan anggaran sebesar Rp669 juta melalui APBD Bantul 2025.
Sebagai informasi, berdasarkan data penimbangan balita pada Juni 2024, tercatat 3.417 balita atau 7,01 persen mengalami stunting di Bantul. Kasus ini tersebar di 17 kecamatan, dengan prevalensi tertinggi berada di Imogiri, Srandakan, dan Pundong. Secara jumlah kasus, wilayah Imogiri, Jetis, dan Piyungan menjadi penyumbang terbesar.
Dan terhadap target nasional untuk prevalensi stunting tahun 2024 kemarin adalah sebesar 14 persen, tetapi hasil SSGI 2024 untuk Bantul belum dirilis. Sementara target pemerintah pusat untuk tahun 2025 inj naik menjadi 18,8 persen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung