Ramai Isu Megathrust Tinggal Tunggu Waktu, Berikut Daerah di Jatim yang Berpotensi Terdampak
INDOZONE.ID - BMKG Juanda melalui akun TikToknya @infobmkgjuanda menyatakan bahwa berita megathrust yang saat ini kembali ramai dibahas lagi bukanlah sesuatu yang baru.
Di dalam videonya, BMKG Juanda menjelaskan bahwa informasi tentang megathrust ini bukanlah sebuah prediksi atau suatu peringatan dini. Gempa ini dapat terjadi kapan saja entah besok atau lusa, sehingga masyarakat dihimbau agar tidak langsung panik.
Provinsi Jawa Timur menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi akan terdampak oleh gempa bumi megathrust.
Baca Juga: 5 Tanda Gempa Megathrust yang Diprediksi Terjadi di Indonesia
Daerah Jawa Timur yang paling terkena dampak dari gempa bumi megathrust adalah wilayah bagian selatan terutama daerah pesisir, seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungangung, Malang, dan seterusnya.
Daerah-daerah pesisir tersebut akan menerima dampak yang lebih besar saat terjadi gempa dan berpotensi untuk terjadinya tsunami.
Daerah utara juga tidak luput dari dampak gempa megathrust, tetapi daripada kejadian gempanya, masyarakat sebaiknya memahami mitigasi untuk bencana gempa bumi dan bersyukur dengan kejadian gempa bumi yang sebenarnya terjadi setiap hari.
Memang benar gempa bumi terjadi setiap hari karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk pelepasan energi yang terpendam di dalam bumi. Pelepasan tersebut terjadi dengan dicicil secara perlahan-lahan hingga menjadi gempa bumi.
Baca Juga: Apa Itu Megathrust? Ramai di Medsos soal Potensi Gempa hingga 8,9 SR yang Menghantui Indonesia
Jika energi yang terpendam it uterus tertahan, maka akan terjadi pelepasan besar yang mengakibatkan gempa bumi mematikan. Dalam menghadapi ancaman dari gempa bumi megathrust ini diperlukan upaya kerja sama dari semua pihak.
Upaya pertama dimulai dari segi infrastruktur, kemudian disusul dengan upaya komunikasi tentang mitigasi bencana, lalu pengembangan teknologi pada jalur evakuasi, dan lain sebagainya. Hal tersebut dapat menjadi bekal bagi Masyarakat untuk menghadapi bencana gempa bumi.
Alih-alih meningkatkan kepanikan masyarakat, lebih baik lebih fokus pada membuat persiapan diri dan lingkungan untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.
Dampak yang ditimbulkan bila gempa bumi terjadi sangatlah berbahaya dan menimbulkan korban jiwa karena tertimpa reruntuhan bangunan.
Pihak BMKG Juanda menyarankan agar pemerintah dapat mengadakan simulasi gempa secara rutin, misalnya sebulan sekali. Simulasi gempa ini mungkin dapat dilakukan mulai dari lingkungan sekolah, perkantoran, perhotelan, dan seterusnya.
Setiap bencana alam memiliki proses mitigasi bencana yang berbeda. BMKG Juanda menjelaskan metode 20, 20, 20 untuk mitigasi bencana gempa bumi dan potensi tsunami. Metode 20, 20, 20 ini lebih jelasnya, yakni gempa bumi dapat terjadi dalam durasi kurang lebih 20 detik.
Selanjutnya, masyarakat memiliki waktu selama kurang lebih 20 menit untuk mengungsi. Terakhir, jika terjadi tsunami, masyarakat perlu naik ke tempat yang lebih tinggi setidaknya 20 meter dari daratan yang sebelumnya ditempati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: TikTok/@infobmkgjuanda