Sosok Orient Riwu Kore, Warga Amerika yang Terpilih Jadi Bupati di NTT, Anaknya Tentara AS
Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak jadi sorotan usai terungkap ke permukaan bahwa calon bupati terpilih di daerah itu, yakni Orient Patriot Riwu Kore, ternyata berstatus warga negara Amerika Serikat.
Terungkapnya status kewarganegaraan Orient berawal dari surat balasan yang diterima Badan Pengawal Pemilu (Bawaslu) Sabu Raijua dari Keduataan Besar AS di Jakarta, yang isinya menginformasikan bahwa Orient merupakan warga AS.
"Informasi dari sana benar Orient Riwu Kore warga negara Amerika Serikat,” kata Ketua Bawaslu Sabu Raijua, Yudi Tagihuma.
Berdasarkan penelusuran Indozone, Orient diketahui lahir di Kupang, Nunbaun Sabu, 7 Oktober 1965 dari pasangan suami istri Agustinus David Riwu Kore dan Ema Mariance Koroh Dimu.
Sehari-hari, Orient akrab disapa Ama Ori. Ia anak keempat dari delapan bersaudara.
Orient menempuh pendidikan SD di SD Inpress Nunbaun Sabu, Kupang pada tahun 1971 hingga 1977. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Kupang (1977-1980), dan di SMEA Negeri Kupang (1980-1983).
Selanjutnya, Orient meraih gelar gelar Sarjana Administrasi Niaga dari Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang, tahun 1987.
Orient menikah dengan Trini Martinez pada tahun 1996. Mereka bertemu di AS saat Orient menempuh kuliah S-2 di sana. Tak cuma satu, Orient tercatat meraih gelar Master of Arts (MA) in Religius Studies di Universitas California (1996), Master of Business Administration (MBA) dari University of Southern California (1999), dan Master of Theology (Th.M) di California Center of Theological Studies (2001).
Selesai S-2, Orient kemudian menempuh pendidikan S-3 dan meraih tiga gelar doktor, yakni Doktor of Philosophy (Ph.D) di Dallas Theology Seminary di Texas (2004), Ph.D Accouting and Finance di Argosy University of San Diego (2010), dan Doktor of Business Administration (DBA) di North Central University, Presscott, Arizona (2016).
Trini Martinez sendiri lahir dan besar di Los Angeles, AS. Trini merupakan keturunan Yahudi dari Spanyol. Orang tuanya pindah ke Amerika Serikat setelah Perang Dunia II.
Dari pernikahannya dengan Trini, Orient dikaruniai dua anak, yakni Franklin Riwu Kore dan Jessica Riwu Kore. Putranya, Franklin, sekarang menjadi sniper militer AS, pernah bertugas di Afganistan dan Suriah.
Sedangkan putrinya, Jessica, menempuh pendidikan di South Western College, San Diego, AS, jurusan Keperawatan.
Pembohongan Publik
Menurut Yugi, apa yang dilakukan oleh Orient bisa dikatakan mencederai proses demokrasi di Negara Republik Indonesia (NKRI) dan bisa saja merusak tatanan sistem perpolitikan di Indonesia.
"Ada pembohongan publik yang dilakukan oleh bupati terpilih Sabu Raijua," katanya, seperti dikutip dari Antara, Rabu (2/2/2021).
Yugi mengaku bahwa sejak awal pihaknya sudah mencurigai hal tersebut. Selama masa Pilkada bahkan sampai pada masa sebelum penetapan pemenang, pihaknya sudah mengingatkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sabu Raijua untuk menelusuri status kewarganegaraan Orient.
"Kami bahkan juga sudah mengirimkan surat ke Kedubes sejak awal Januari lalu, namun baru dibalas usai penetapan bupati terpilih pada Selasa (2/2/2021) kemarin," tambah dia.
Lebih lanjut kata Yudi, pihaknya juga sudah mengirimkan surat ke Bawaslu NTT, KPU NTT, KPU RI dan juga Bawaslu di Jakarta untuk menangani kasus ini.
"Kita tunggu saja hasilnya bagaimana. Karena negara kita ini negara hukum sehingga kita serahkan saja ke hukum," tambah dia.
Menanggapi kasus ini, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri Zudan Arif Fakrulloh menyebut bahwa Orient memiliki paspor Amerika Serikat tanpa melepaskan statusnya sebagai warga negara Indonesia (WNI).
"Saya berhasil menelepon Pak Orient hari ini, 3 Februari 2020. Diperoleh informasi bahwa benar yang bersangkutan pernah memiliki paspor negara Amerika Serikat tanpa melepaskan status kewarganegaraan Indonesia, dan yang bersangkutan memiliki paspor Indonesia diterbitkan pada tanggal 1 April 2019," kata Zudan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Kemendagri juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) terkait kepemilikan paspor atas nama Orient Patriot Riwu Kore.
Menurut Zudan, Kemenkumham menerbitkan paspor RI tersebut karena Orient belum secara resmi melepaskan status kewarganegaraannya dari Indonesia.
"Bahwa benar paspor (RI) tersebut diterbitkan oleh pihak Imigrasi karena Orient belum pernah melakukan pelepasan kewarganegaraannya sebagai warga negara Indonesia untuk menjadi warga negara asing," katanya menjelaskan.
Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, kata Zudan, status kewarganegaraan seseorang merupakan dasar dari pencatatan administrasi kependudukannya sehingga status kewarganegaraan itu akan menentukan dokumen pencatatan sipil yang bersangkutan.
"Karena dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, kewarganegaraan adalah hulu, dan pencatatan administrasi kependudukan adalah hilirnya. Maka, kewarganegaraan seseorang akan memengaruhi pencatatan administrasi kependudukannya," katanya menegaskan.
Dari koordinasi tersebut, Kemenkumham masih mengkaji status kewarganegaraan Orient sebagai WNI. Apabila terbukti Orient merupakan warga negara AS, kata Zudan, data kependudukannya akan dibatalkan oleh Dinas Dukcapil.
"Apabila terbukti Orient Riwu Kore adalah warga negara asing, kartu keluarga (KK) dan KTP elektroniknya akan dibatalkan oleh Dinas Dukcapil," ujarnya.
Artikel Menarik Lainnya:
-
Natalius Pigai Dilaporkan Soal Suku Minang, DPR Minta Polri Bekerja Secara Independen
-
12 Anak di India Muntah-muntah Setelah Menelan Hand Sanitizer saat Program Vaksinasi Polio
-
2 Pekan Jadi Sekda DKI, Marullah Matali Masih Rangkap Jabatan Plt Wali Kota Jaksel
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: