INDOZONE.ID - Fenomena Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus menjadi perhatian masyarakat di berbagai platform digital dinilai mencerminkan perubahan pola komunikasi publik di era digital.
Perbincangan yang berkembang tidak hanya menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap suatu isu, tetapi juga memperlihatkan semakin besarnya keterlibatan publik dalam membentuk ruang diskusi bersama.
Pengamat Komunikasi Digital Laju Institute, Mandra Pradipta atau yang akrab disapa Dipta, menilai fenomena MBG menarik dicermati karena menunjukkan bagaimana masyarakat kini tidak lagi hanya berperan sebagai penerima informasi, melainkan juga menjadi bagian dari proses pembentukan percakapan publik.
Menurut Dipta, media sosial telah mengubah hubungan antara informasi dan masyarakat. Jika sebelumnya komunikasi publik lebih banyak berlangsung secara satu arah, kini masyarakat memiliki ruang yang lebih luas untuk memberikan tanggapan, berbagi pengalaman, serta ikut memengaruhi arah percakapan yang berkembang.
Baca juga: LPSK Siap Turun Tangan di Kasus Korupsi Proyek MBG hingga Kasus Wamen Imipas
"Fenomena MBG memperlihatkan bahwa masyarakat tidak lagi hanya menjadi audiens yang menerima informasi, tetapi juga aktor yang ikut membentuk percakapan publik. Di era digital, perhatian publik lahir dari interaksi, bukan sekadar dari penyampaian informasi," kata Dipta, Senin, 8 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa tingginya keterlibatan masyarakat dalam membicarakan suatu isu merupakan salah satu karakteristik utama komunikasi digital.
Dalam ruang digital, perhatian publik tidak hanya dibangun oleh informasi yang disampaikan, tetapi juga oleh proses diskusi, pertukaran pandangan, dan pengalaman yang dibagikan oleh masyarakat.
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa komunikasi publik saat ini semakin bersifat partisipatif. Masyarakat tidak lagi ditempatkan sebagai objek komunikasi, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang ikut membangun, memperkaya, dan mengembangkan percakapan publik.
Baca juga: Prabowo Sebut MBG Jadi Rujukan Dunia: Dorong Ekonomi, Serap Jutaan Tenaga Kerja
"Yang menarik dari ruang digital saat ini adalah setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam percakapan publik. Dari proses itulah lahir berbagai perspektif yang membuat suatu isu terus berkembang dan menjadi perhatian masyarakat luas," ujarnya.
Dipta menilai berkembangnya budaya partisipasi digital merupakan perkembangan positif bagi ekosistem komunikasi publik. Namun demikian, tingginya partisipasi juga perlu diimbangi dengan etika komunikasi, keterbukaan terhadap perbedaan pandangan, serta komitmen untuk membangun diskusi yang konstruktif.
Menurutnya, kualitas ruang digital tidak hanya ditentukan oleh banyaknya percakapan yang terjadi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam menciptakan dialog yang sehat dan produktif.
"Ke depan, tantangan komunikasi publik bukan lagi bagaimana menyampaikan informasi kepada masyarakat, melainkan bagaimana membangun ruang percakapan yang mampu melibatkan masyarakat secara bermakna dan berkelanjutan," jelasnya.
Lebih lanjut, Dipta menilai fenomena MBG menjadi salah satu contoh bagaimana ruang digital telah berkembang menjadi arena partisipasi publik yang semakin dinamis.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin aktif mengambil peran dalam berbagai isu yang dianggap dekat dengan kehidupan mereka.
"Pada akhirnya, kekuatan komunikasi digital bukan hanya terletak pada kecepatan penyebaran informasi, tetapi pada kemampuannya menghadirkan ruang dialog yang memungkinkan masyarakat terlibat, berbagi pandangan, dan membangun pemahaman bersama," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: