BUMDES panen labu madu. (Edelweis Ratushima/Z Creators)
INDOZONE.ID - Superfood sekarang banyak dicari orang untuk menunjang hidup sehat. Salah satunya labu madu (butternut squash) yang kaya vitamin, rendah kalori, kaya serat, dan lain-lain. Memanfaatkan peluang tersebut, Bumdes Sumber Berkah, Desa Kapungan , Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, menanam labu madu di tanah kas desa.
Saat ini, tanaman sebagai ajang ujicoba tersebut, justru tengah panen melimpah di lahan seluas 2300 meter persegi itu.
Di tangan dingin Direktur Bumdes Sumber Berkah, Kurniawan Arief Nugroho, tanaman buah labu bisa panen tepat waktu, yaitu 80 hari setelah tanam.
Baca juga: Panen Raya Toddang Pulu, Bupati Syaharuddin Targetkan Sidrap Jadi Lumbung Pangan Nasional
Menurut Arief, awalnya tanah kas desa tersebut ditanami padi pada umumnya. Namun karena kurang produktif dan sering nganggur bila musim kemarau.
Sawah tersebut berada di depan rumahnya, yang sering ia lewati. Sebagai warga yang mempunyai jiwa enterpreneur, dirinya merasa sayang bila sawah tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal.
Menepis keresahannya tersebut, Arief yang mantan jurnalis televisi tersebut, mengajukan diri menawarkan proposal kepada Kepala Desa dan disetujui.
Kegiatan yang dilakukan Arief ini berada di unit ketahanan pangan Sregep Mertani. Sebagai langkah awal, tanah kas desa tersebut ia tanami 300 labu madu, pepaya kalifornia, alpukat, melon, dan kandang ayam elba 100 ekor.
Untuk tanaman labu madu sebanyak itu, bisa menghasilkan buah 600-700 biji, dengan berat rata-rata 1 kilogram. Harga jual antara Rp13.000 sampai Rp15.000 per kilonya. Omsetnya sekitar Rp15 juta.
"Bila ditanami padi, kurang produktif. Kini hasil labu madu sudah lumayan bisa beromset Rp15 juta, belum tanaman lainnya," jelas Arief.
Baca juga: Pascabanjir Aceh, Hasil Panen Tidak Bisa Diangkut, Warga Jagong Jeget Terancam Hadapi Krisis
Labu madu ia pilih karena tanaman ini perawatannya mudah, tahan hama, tidak membutuhkan banyak air, dan nilai ekonominya tinggi bila dibanding labu biasa.
Dengan sistem pertanian terintegrasi, kotoran ayam dimanfaatkan untuk pupuk, sehingga tidak mengandalkan penuh pupuk kimia.
Menurut rencana, lanjut Arief, akan dibangun kolam ikan lele, yang air kotorannya bisa untuk pupuk juga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan