INDOZONE.ID - Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah juga mengacu pada material sisa yang tidak lagi bermanfaat bagi manusia. Saat ini, sampah telah menjelma menjadi salah satu krisis lingkungan paling serius yang dihadapi dunia, termasuk Indonesia.
Indonesia tercatat sebagai negara penghasil sampah terbesar kelima di dunia. Hal itu berdasarkan laporan World Bank Group bertajuk World Bank’s Atlas of Sustainable Development Goals pada 2023. Kondisi tersebut menjadi tantangan nyata yang harus mendapat perhatian serius terkait pengelolaan sampah di Indonesia.
Data terbaru dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang telah terverifikasi pada 2025 menunjukkan kondisi pengelolaan sampah Indonesia masih memprihatinkan. Dari 514 kota/kabupaten yang telah diverifikasi di lapangan, tercatat hanya 25 persen sampah yang berhasil ditangani atau setara 35.747 ton per hari. Sementara itu, sebanyak 75 persen atau 109.092 ton sampah per hari masih belum terkelola dengan baik.
Indonesia saat ini memiliki 524 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk melayani 285 juta penduduk. Namun, kapasitas tersebut dinilai belum mencukupi kebutuhan pengelolaan sampah nasional.
Baca juga: Longsor Sampah di TPST Bantargebang: 4 Orang Tewas, Proses Evakuasi Masih Berlanjut
Berdasarkan data SIPSN 2025, timbulan sampah Indonesia secara nasional mencapai 144.839 ton per hari. Beban terbesar ditanggung wilayah perkotaan, di mana 20 kota metropolitan dan 61 kota sedang menyumbang lebih dari 82 persen total timbulan sampah nasional.
Sebagai respons, pemerintah telah mengaktifkan 22.898 Bank Sampah Unit, 424 Bank Sampah Induk, dan 2.925 TPS 3R di seluruh Indonesia. Namun, dengan hanya 25 persen sampah yang berhasil terkelola, infrastruktur yang ada dinilai belum mampu mengimbangi laju produksi sampah nasional.
Tantangan pengelolaan sampah di Indonesia diproyeksikan akan terus meningkat. Menurut laporan What a Waste 3.0milik World Bank Group, pada 2050 setiap penduduk Indonesia diperkirakan menghasilkan 0,82 kilogram sampah per hari. Dengan jumlah penduduk yang terus bertumbuh, angka tersebut berpotensi melipatgandakan total volume sampah nasional apabila tidak diimbangi dengan perbaikan infrastruktur dan sistem pengelolaan sampah yang memadai.
Kondisi sampah di Indonesia juga dinilai semakin memprihatinkan. TPST Bantargebang di Bekasi, West Java, dilaporkan melepaskan 6,3 ton gas metana per jam ke atmosfer. Fakta tersebut dipaparkan dalam laporan Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills yang diterbitkan oleh Emmett Institute on Climate Change and the Environment pada April 2026.
Laporan itu menggunakan data satelit Carbon Mapper milik Planet Labs dan instrumen EMIT milik NASA yang dipasang di International Space Station (ISS). Berdasarkan temuan tersebut, Bantargebang dinobatkan sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia dari sektor persampahan.
Gas metana sendiri merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tetapi sangat mudah terbakar. Keberadaannya sangat berbahaya bagi manusia. Paparan gas metana dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pusing, mual, gangguan penglihatan, hingga kehilangan kesadaran.
Baca juga: Sampah Malam Tahun Baru 2026 di Jakarta Capai 91,41 Ton!
Selain itu, gas metana juga berkontribusi terhadap pemanasan global karena mampu menjebak panas di atmosfer sehingga meningkatkan suhu bumi secara signifikan.
Di balik tumpukan sampah yang menggunung, tersimpan cerminan pola konsumsi masyarakat yang belum bijak. Jika tidak ada perubahan nyata, proyeksi buruk pada 2050 bukan sekadar ancaman, melainkan kenyataan yang harus dihadapi.
Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Masyarakat bisa mulai dari kebiasaan sederhana, seperti membawa tote bag saat berbelanja agar tidak menggunakan kantong plastik, membawa tumbler sendiri untuk mengurangi gelas plastik sekali pakai, menggunakan kotak makan dari rumah, hingga mengganti sedotan plastik dengan sedotan stainless dan membawa alat makan sendiri saat makan di luar.
Kebiasaan kecil tersebut mungkin terasa sepele. Namun, jika dilakukan secara konsisten oleh jutaan orang, dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan.
Sudah saatnya masyarakat berhenti menganggap masalah sampah sebagai urusan pemerintah semata. Setiap pilihan yang dibuat, termasuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, merupakan kontribusi nyata untuk masa depan Indonesia yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Worldbank.org, Sampahnasional.kemenlh.go.id