INDOZONE.ID - Tragedi meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli pena dan buku, mengguncang nurani publik. Peristiwa memilukan ini bukan sekadar kabar duka, tetapi menjadi sorotan tajam atas masih rapuhnya akses pendidikan dasar dan perlindungan sosial bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Korban, bocah laki-laki berusia 10 tahun berinisial YBS, diduga mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi yang tak sanggup ia tanggung di usia belia. Kejadian ini memantik keprihatinan luas dari masyarakat hingga kalangan pendidik di NTT.
Salah satu suara keprihatinan datang dari Kepala SMA Katolik Santo Arnoldus Jansen Kupang, Pater Apolynarius Wawo, SVD. Ia menilai, tragedi ini mencerminkan realitas pahit yang kerap luput dari perhatian negara.
“Ada beberapa hal yang saya cermati. Permintaan untuk membeli buku dan pena adalah permintaan yang sangat sederhana. Namun bagi anak ini, itu adalah kebutuhan dasar, bahkan bisa disamakan dengan makanan,” ujar Pater yang akrab disapa Pater Aris.
Baca juga: Kata Cak Imin soal Siswa SD Gantung Diri di NTT: Jadi Cambuk untuk Semua
Ia menjelaskan, YBS berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sangat terbatas. Sang ibu merupakan seorang janda miskin yang harus menghidupi lima orang anak. Demi mengurangi beban ekonomi, korban dititipkan kepada neneknya yang telah berusia lebih dari 80 tahun. Kondisi ini, menurut Pater Aris, memperlihatkan betapa beratnya beban hidup yang harus ditanggung seorang anak.
“Pendidikan sejatinya adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai kemiskinan. Karena itu, pemerintah harus memberi perhatian serius kepada keluarga-keluarga miskin di daerah, tentu dengan data yang tervalidasi dan intervensi yang tepat,” tegasnya.
Pater Aris juga menyoroti kebijakan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai baik, namun perlu dievaluasi dari sisi ketepatan sasaran. Menurutnya, program tersebut diberikan secara merata kepada seluruh siswa, termasuk anak-anak dari keluarga mampu yang tidak mengalami kesulitan pangan.
“Bagaimana jika kebutuhan seperti ini lebih difokuskan kepada anak-anak di daerah yang kondisi pendidikannya sangat memprihatinkan? Ada anak yang bahkan untuk membeli buku dan pena saja tidak mampu,” ujarnya.
Baca juga: Polisi Akhirnya Stop Kasus Guru Dilaporkan Orang Tua Siswa di Tangsel
Lebih jauh, ia menilai persoalan ini tidak semata soal biaya pendidikan, tetapi juga kesehatan mental anak. Pater Aris menekankan pentingnya layanan psikologi yang menjangkau hingga tingkat RT dan RW. Ia mengingatkan, kasus bunuh diri di NTT seolah menjadi pola berulang yang hampir setiap tahun terjadi.
“Bunuh diri seakan-akan menjadi jalan keluar dari masalah. Ini berbahaya. Pemerintah perlu hadir melalui edukasi dan pendampingan psikologis. BKKBN bisa melakukan penyuluhan kepada masyarakat, sementara RT dan RW harus berperan aktif dalam mendeteksi dan membantu keluarga rentan,” katanya.
Ia menegaskan, bantuan sosial dan pendidikan gratis bagi warga miskin harus benar-benar tepat sasaran, agar tidak ada lagi anak yang merasa sendirian menghadapi kemiskinan dan tekanan hidup.
Tragedi YBS kini menjadi cermin pahit bagi dunia pendidikan di NTT. Di balik jargon sekolah gratis, masih ada anak-anak yang terhimpit kebutuhan paling mendasar. Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa kehadiran negara tidak boleh terlambat, sebab yang dipertaruhkan adalah masa depan, bahkan nyawa anak-anak bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan