Rabu, 10 DESEMBER 2025 • 11:40 WIB

Empat Gajah Sumatera Dikerahkan untuk Pemulihan Pidie Jaya, Begini Penjelasan Kemenhut

Author

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak membersihkan puing kayu yang menutupi jalan dan permukiman warga akibat bencana alam di Desa Meunasah Bie, Pidie Jaya, Aceh. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

INDOZONE.ID - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan mobilisasi empat gajah sumatera jinak dalam operasi pemulihan pascabanjir di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh dilakukan dengan perencanaan matang dan berpedoman pada prinsip kesejahteraan satwa.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengatakan sebelum penurunan gajah ke lapangan, tim melakukan survei menyeluruh mengenai kondisi lokasi, akses, keamanan, serta kebutuhan operasional.

“Gajah terlatih diangkut menggunakan truk dari titik tambat menuju lokasi target, untuk keamanan dan mencegah stres,” ujarnya dari Padang, Sumatera Barat, dikutip Rabu (10/12/2025).

Ujang menegaskan bahwa pemanfaatan gajah terlatih pada situasi darurat merupakan bentuk tanggung jawab moral KSDA untuk membantu masyarakat, terutama dalam pembersihan material pascabencana.

Survei awal menjadi dasar penentuan rute, area kerja, titik istirahat, dan durasi aktivitas yang disesuaikan dengan kondisi satwa. 

Baca juga: Sedihnya, Banjir di Pidie Jaya Aceh pun Berdampak pada Hewan: Gajah Sumatra Ditemukan Mati Terhimpit Kayu!

Tim juga mempersiapkan area istirahat dengan pakan yang cukup, suplemen pendukung, dan pemantauan kesehatan berkala oleh dokter hewan.

Untuk memastikan kecukupan air minum, tim menyiagakan satu unit mobil slip-on dengan tangki dan selang air yang standby di lokasi kerja.

Operasi Sesuai Prinsip Animal Welfare

Penggunaan gajah terlatih sebagai dukungan pemulihan bencana bukan kali pertama diterapkan. 

Ujang menjelaskan praktik ini juga pernah dilakukan dalam penanganan tsunami Aceh 2004, serta di beberapa negara Asia, sepanjang memenuhi prinsip kehati-hatian dan pengawasan mahout.

Gajah dinilai efektif membantu penanganan di wilayah terdampak yang sulit dijangkau alat berat, dengan catatan keselamatan satwa menjadi prioritas.

'Pemanfaatan gajah memang banyak dilakukan, tetapi tidak untuk terus dinormalisasi,” kata Ujang.

Baca juga: Tari, Gajah Lucu Tesso Nilo yang Jadi Favorit Publik, Meninggal Dunia

Tim pendukung terdiri dari delapan mahout, personel Polisi Kehutanan, dan dokter hewan dengan perlengkapan medis lapangan. Seluruh kegiatan mendapat pengawalan kepolisian agar operasional tertib dan terarah.

Mobilisasi gajah dilakukan sebagai langkah kolaboratif mempercepat pemulihan lingkungan pascabanjir, terutama di titik terdampak yang tidak dapat diakses kendaraan berat.

Misi tersebut juga menegaskan komitmen bahwa penggunaan satwa dalam operasi darurat wajib mengutamakan keamanan, kesehatan, dan kesejahteraan gajah.

"Jangan rusak habitatnya, jangan ganggu rumah mereka. Dalam situasi darurat, saat semua sudah lumpuh, gajahlah yang membantu manusia,” tutup Ujang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU