Rabu, 15 OKTOBER 2025 • 17:00 WIB

Apa Bedanya Hoaks, Disinformasi, dan Misinformasi? Ini Cara Bedainnya

Author

Ilustrasi hoaks/The Star Online

INDOZONE.ID - Kamu pernah nggak, tanpa sengaja membagikan berita yang ternyata bohong? Atau lihat postingan di media sosial yang jelas palsu tapi malah viral dan banyak dipercaya orang?

Di era digital sekarang, hoaks, disinformasi, dan misinformasi bisa menyebar sangat cepat. Sayangnya, masih banyak yang belum tahu apa bedanya ketiga istilah ini. Yuk, kenali perbedaannya biar kamu nggak gampang jadi korban berita palsu!

1. Misinformasi: Informasi Salah Tanpa Niat Jahat

Misinformasi adalah informasi yang salah atau menyesatkan, tapi disebarkan tanpa niat jahat. Artinya, orang yang menyebarkannya percaya kalau informasi itu benar.

Contohnya, seseorang membagikan artikel tentang “obat ajaib” yang katanya bisa menyembuhkan penyakit tertentu, padahal belum ada bukti ilmiah yang mendukung. Ia menyebarkannya karena yakin itu fakta, bukan karena ingin menipu.

Menurut Snopes, misinformasi sering muncul akibat rumor, kesalahan persepsi, atau kekeliruan informasi tanpa tujuan manipulatif.

Baca juga: Akademisi: Pemerintah Harus Melindungi Warga dari Hoaks

2. Disinformasi: Info Salah dengan Niat Menipu

Berbeda dengan misinformasi, disinformasi adalah informasi salah yang disebarkan dengan sengaja dan punya tujuan tertentu, seperti menipu, memanipulasi, atau menggiring opini publik.

Jenis informasi ini sering muncul dalam kampanye politik, propaganda, atau upaya mempengaruhi masyarakat.

The Conversation menyebut, disinformasi bisa berubah jadi misinformasi ketika orang yang menerimanya menyebarkan ulang tanpa sadar bahwa itu salah.

Intinya, kalau ada niat jahat, itu disinformasi. Kalau tanpa sadar, itu misinformasi.

3. Hoaks: Kebohongan yang Dibungkus Seolah Nyata

Hoaks (atau hoax) adalah informasi bohong yang sengaja dibuat dan dikemas menarik agar terlihat seperti fakta. Tujuannya jelas: membuat orang percaya dan tertipu.

Menurut Snopes, hoaks termasuk dalam kategori disinformasi karena dibuat dengan niat menipu publik. National Library of Australia bahkan menyebutnya sebagai “berita palsu yang dikemas seperti berita asli untuk memengaruhi opini masyarakat.”

Jadi gampangnya:

  • Misinformasi: Salah, tapi tanpa niat jahat.
  • Disinformasi: Salah dan sengaja dibuat menipu.
  • Hoaks: Salah satu bentuk disinformasi yang dikemas menarik agar viral.

4. Contoh Nyata di Dunia Maya

  • Misinformasi: Temanmu membagikan info vaksin belum terverifikasi karena ia percaya itu benar.
  • Disinformasi: Sebuah akun politik sengaja menyebar artikel palsu untuk memengaruhi pemilih.
  • Hoaks: Kabar bohong tentang meninggalnya selebriti yang sengaja dibuat supaya viral.

5. Tips Anti Ketipu ala Gen Z

Ilustrasi penyebaran hoaks. (Pixabay/memyselfaneye)

Biar nggak gampang termakan berita palsu, coba lakukan hal ini:

  1. Cek sumbernya. Pastikan dari media resmi, institusi riset, atau ahli yang kredibel.
  2. Periksa niat di balik info. Kalau terlalu provokatif atau sensasional, patut dicurigai.
  3. Cari bukti pendukung. Jangan percaya kalau nggak ada data atau referensi ilmiah.
  4. Jangan asal share. Lihat dulu apakah orang lain sudah memverifikasi info tersebut.
  5. Gunakan situs cek fakta. Misalnya: turnbackhoax.id, CekFakta.com, atau Snopes.

6. Kenapa Info Salah Bisa Berbahaya?

Penyebaran hoaks dan disinformasi bisa menciptakan infodemic, situasi di mana informasi benar dan salah bercampur, bikin masyarakat bingung membedakan fakta dan kebohongan.

Apalagi sekarang muncul teknologi seperti deepfake dan AI-generated content, yang bisa menghasilkan foto atau video palsu tampak sangat nyata.

Kalau terus dibiarkan, kepercayaan publik terhadap media, sains, bahkan pemerintah bisa runtuh.

Baca juga: Apa Itu Hoaks, Misinformasi, dan Disinformasi?

Yuk, Jadi Netizen Cerdas!

Misinformasi, disinformasi, dan hoaks bisa terlihat mirip, tapi dampaknya sangat berbeda.
Kuncinya ada pada niat si penyebar dan kesadaran kita sebagai penerima informasi.

Jadi, sebelum klik “share” atau “repost,” pastikan dulu kebenarannya. Karena di dunia yang penuh informasi, berpikir kritis adalah bentuk perlindungan terbaik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia, BBC, Theconversation.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU