INDOZONE.ID - Seorang bidan bernama Dona Lubis (46) terekam bertaruh nyawa menantang derasnya arus Sungai Batang Pasaman, demi mengobati pasien TBC.
Pasien yang akan ditanganinya berada di wilayah pedalaman Kejorongan Sinuangon, Nagari Cubadak Barat, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
Dona mengaku tak punya pilihan lain. Satu-satunya jembatan kayu yang biasa ia lewati putus sejak Jumat (1/8/2025). Maka ia pun turun langsung ke sungai, berjalan melewati tebing napal yang licin, dan mengarungi arus air yang deras.
Akisinya diunggah akun Facebook @/fajarpanomuan.ramadhan.79. Dalam klip itu terlihat ia berenang dari satu tepi sungai ke tepi lainnya.
"Ada seorang pasien Tb mesti diobati di Kejorongan Sinuangon. Namun di perjalanan, ternyata jembatannya terputus. Terpaksa turun ke badan sungai melewati napal tebing yang curam dan mengarungi arus sungai," ujar Dona dikutip Antara, Selasa (5/8/2025).
Perjalanan itu membuat tubuhnya basah kuyup. Tapi ia tak berhenti. Meski medan berat dan kondisi cuaca tak bersahabat, ia tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di rumah pasien.
"Baju kering di badan dalam perjalanan. Ini jadi tantangan tersendiri bagi kami tenaga kesehatan dalam menyelamatkan nyawa masyarakat," tambahnya.
Baca juga: Fakta-Fakta Pria Ngaku Bawa Bom di Pesawat Lion Air, Terkait Gangguan Psikologis?
Dona menyebut Kejorongan Sinuangon dan Kejorongan Batang Kundur adalah daerah terluar di Kecamatan Dua Koto. Kondisinya jauh dari akses mudah, dan pelayanan kesehatan harus menjangkau mereka meskipun penuh tantangan.
"Bahwa pelayanan kesehatan memiliki tantangan tersendiri khususnya daerah terluar di Pasaman. Namun ini merupakan dedikasi kami sebagai tenaga kesehatan yang harus sampai ke rumah pasien demi menyelamatkan nyawa masyarakat," katanya.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas banyaknya dukungan setelah videonya ramai diperbincangkan publik.
"Semoga ke depan jadi perhatian serius bersama agar pelayanan kesehatan tercapai dengan baik," tutupnya.
Baca juga: Cara Ikutan Upacara dan Pesta Rakyat 17 Agustus 2025 di Istana Merdeka, Begini Daftarnya
Diketahui, jembatan yang terputus adalah satu-satunya jalur penghubung ke dua kejorongan tersebut. Jembatan itu terbuat dari kayu balok dan papan, panjangnya sekitar 15 meter.
Menurut warga setempat, Sumarno, jembatan itu menjadi urat nadi masyarakat, termasuk untuk akses anak-anak sekolah dan distribusi logistik.
Kini, sekitar 150 kepala keluarga di Kejorongan Sinuangon dan Batang Kundur benar-benar terisolasi. Warga hanya bisa mengandalkan jalur sungai yang berisiko tinggi. Anak-anak pun terpaksa menyeberangi arus sungai untuk bisa sampai ke sekolah.
Dampaknya terasa langsung di kehidupan sehari-hari. Harga bahan pokok melonjak tajam, bahkan naik hingga 150 persen dari biasanya.
Sementara ongkos transportasi ojek yang sebelumnya Rp100 ribu, kini melonjak jadi Rp250 ribu per orang. Situasi ini makin memberatkan warga, terutama mereka yang tinggal di daerah tanpa akses alternatif.
Wali Nagari Cubadak Barat, Kesria Novi, telah meninjau lokasi dan berkoordinasi dengan Pemkab Pasaman.
Ia menyebutkan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan solusi darurat berupa pembangunan jembatan sementara agar akses bisa kembali terbuka.
"Kami sudah berkomunikasi dengan Pemkab Pasaman agar segera turut serta melakukan penanganan," kata Kesria.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: