INDOZONE.ID - Jakarta sang kota megapolitan enggak berdaya menghadapi banjir yang terjadi Minggu (6/7/2025) hingga Selasa (8/7/2025). Gubernur Pramono Anung mengaku kewalahan dan meminta maaf kepada warga.
Pramono Anung buka suara, mengakui Pemprov DKI kewalahan dan meminta maaf kepada warga yang terdampak.
“Banjir itu terkadang memang tidak bisa dilawan. Maka untuk itu kita harus mensiasati bagaimana supaya banjirnya tidak memberikan dampak negatif atau dampak kepada warga,” kata Pramono dikutip dari Berita Jakarta, media Pemprof DKI Jakarta, Selasa (8/7/2025).
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total ada 50 RT yang terdampak banjir di Jakarta. Sementara BPBD DKI mencatat banjir dipicu kombinasi curah hujan ekstrem sejak Sabtu (5/7/2025) dan air laut pasang (rob) yang memperparah situasi di wilayah pesisir.
Wilayah Terendam dan Pengungsi
Banjir kali ini paling parah melanda Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Di Jakarta Selatan, 20 RT terdampak, tersebar di Tanjung Barat, Pengadegan, Rawa Jati, Pejaten Timur, Kebon Baru, dan Manggarai.
Baca juga: Daftar 58 RT di 4 Wilayah Jakarta yang Masih Tergenang Banjir
Sementara di Jakarta Timur, 30 RT di Bidara Cina, Kampung Melayu, Bale Kambang, Cawang, dan Cililitan ikut terendam. Ketinggian air bervariasi, dari 40 cm hingga 270 cm.
Akibat banjir, total ada 371 jiwa atau 105 KK mengungsi ke sejumlah titik.
Pompa Baru Bisa Jalan Setelah Air Surut
Pramono menjelaskan, upaya penanganan banjir baru berjalan maksimal setelah air laut mulai surut sekitar pukul 22.30 WIB, Minggu malam. Saat itulah pompa-pompa penyedot air bisa dioperasikan penuh untuk mengalirkan air ke laut.
“Kita harus mempunyai planning untuk mempersiapkan kalau terjadi banjir seperti kemarin, karena kemarin itu sesuatu yang tidak mungkin dilawan sebenarnya,” ujar Pramono.
Baca juga: Hampir Seribu Orang Mengungsi Akibat Banjir Jakarta, BPBD Siapkan Kebutuhan Dasar
Ia menyebut banjir ini sebagai pelajaran besar untuk Pemprov DKI Jakarta agar lebih siap menghadapi potensi serupa di masa depan.
Minta Maaf
Hingga Selasa (8/7/2025), masih ada sekitar 25 RW yang tergenang banjir. Pramono kembali menyampaikan permintaan maaf kepada warga yang terdampak.
“Secara khusus saya juga ingin meminta maaf kepada warga yang terdampak. Karena sekarang ini masih ada beberapa warga yang terdampak banjir satu hari sebelumnya, termasuk di daerah ini,” ucapnya.
Menurut dia, banjir bukan bencana yang bisa direncanakan. Tapi pemerintah harus berani bertanggung jawab dan tidak malu mengakui kesalahan.
“Tadi saya juga mendapatkan laporan dari Ibu Kepala Dinas SDA. Beliau datang pagi-pagi meminta maaf kepada warga. Kita nggak usah malu untuk meminta maaf kepada warga. Karena ini bukan sesuatu yang kita rencanakan,” tambahnya.
Proyek Normalisasi Sungai Ciliwung
Di sisi lain, Pramono menyebut proyek normalisasi Sungai Ciliwung kini sudah mulai bergerak. Penetapan lokasi (penlok) untuk pembebasan lahan telah diteken, empat di antaranya berada di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Ia meminta proses pembebasan lahan dilakukan dengan pendekatan yang persuasif.
“Jadi pendekatannya bukan kemudian yang seperti menggunakan kekuasaan. Saya nggak mau,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas SDA DKI, Ika Agustin Ningrum, menambahkan bahwa pembayaran lahan kemungkinan dilakukan bulan depan. Saat ini, mereka tinggal menunggu Kementerian PUPR untuk mulai pengerjaan fisik proyek tersebut.
“Kami tinggal menunggu Kementerian PU untuk melakukan pekerjaan fisik,” kata Ika.
Untuk pencegahan jangka pendek, Pramono meminta Dinas Bina Marga dan SDA DKI bekerja sama menyelesaikan sumbatan-sumbatan di saluran air. Genangan, kata dia, seringkali terjadi karena masalah teknis di lapangan yang bisa dicegah jika ditangani serius.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita Jakarta, BNPB