Ilustrasi. (REUTERS/Joe Skipper)
Uji coba rudal anti-satelit (anti-satellite weapons/ASAT) terbaru milik Rusia pada Senin (15/11/2021) dikecam oleh banyak pihak, salah satunya Amerika Serikat. AS menilai Rusia sangat tidak hati-hati, karena rudal yang menghancurkan salah satu satelit menciptakan puing-puing yang membahayakan astronot di luar angkasa.
Rudal yang diluncurkan Kementerian Pertahanan Rusia itu merupakan jenis rudal terbaru, karena berbeda dari rudal biasanya yang dimiliki Rusia.
Negara-negara lain termasuk Rusia, sebelumnya telah melakukan tes ASAT. Pada tahun 2007 China meluncurkan rudal ASAT di salah satu satelit cuacanya sendiri, sementara India meluncurkan uji coba ASAT petamanya pada tahun 2019. Kemudian pada tahun 2020, Rusia meluncurkan dua rudal ASAT dan secara terpisah menguji teknologi ASAT berbasis ruang angkasa.
Baca juga: AS Murka, Rudal Rusia Tembak Satelit di Luar Angkasa: Dasar Sembrono
Namun astrofisikawan dan pelacak satelit Jonathan McDowell dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian di Cambridge, Massachusetts, menilai uji coba teranyar Rusia merupakan sesuatu yang berbeda. Kepada Space dia mengatakan, ini merupakan pencegatan resmi pertama Rusia dengan sistem ASAT yang dikenal sebagai Nudol.
"Dengan tes sebelumnya dari sistem ASAT yang sama, Rusia kemungkinan mengarahkan senjatanya ke titik imajiner di luar angkasa, berpura-pura ada satelit di sana," kata McDowell.
Namun kali ini, tes tersebut mencapai target nyata di orbit rendah Bumi: satelit Soviet yang sudah mati bernama Cosmos 1408 yang tidak berfungsi sejak 1980-an. Sementara tes ASAT era Soviet diluncurkan dari sistem yang berbeda, tes hari Senin adalah intersepsi pertama dengan sistem modern Rusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: