Jurnalis wanita melarikan diri setelah wawancara dengan Taliban. (Twitter/@TOLOnews)
Seorang presenter wanita bernama Beheshta Arghand (24) mendapat banyak pujian dari semua kalangan setelah dia mewawancarai seorang perwakilan senior Taliban di TV untuk Tolo News.
Saat Beheshta Arghand berada di puncak karirnya sebagai jurnalis. Tapi kini dia dilaporkan telah melarikan diri dari Afghanistan dengan alasan bahaya yang dihadapi Jurnalis sejak Taliban mengambil alih.
"Saya meninggalkan negara itu karena, seperti jutaan orang, saya takut pada Taliban," kata Beheshta Arghand kepada CCN, dikutip India Today.
"Jika Taliban melakukan apa yang mereka katakan, apa yang mereka janjikan, dan situasinya menjadi lebih baik, dan saya tahu saya aman dan tidak ada ancaman bagi saya, saya akan kembali ke negara saya dan saya akan bekerja untuk negara saya, untuk rakyat saya," tambahnya.
Pemilik Tolo News, Saad Mohseni, menyebut situasi Beheshta Arghand sebagai cerminan dari apa yang terjadi di Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban.
NIMA WORAZ: #Kabul Situation Discussed [Pashto]
— TOLOnews (@TOLOnews) August 17, 2021
In this program, host Beheshta Arghand interviews Mawlawi Abdulhaq Hemad, a close member of the Taliban’s media team, about Kabul’s situation and house-to-house searches in the city. https://t.co/P11zbvxGQC pic.twitter.com/Pk95F54xGr
Mereka juga mengatakan bahwa hampir semua reporter dan jurnalis terkenal mereka telah pergi.
Beheshta Arghand melakukan wawancara dengan salah satu anggota Taliban pada 17 Agustus.
Baca juga: Ulama Afghanistan Maulvi Mohammad Sardar Zadran Ditangkap Taliban
Beheshta Arghand mengatakan bahwa wawancara yang dilakukannya itu sangat sulit. Tapi demi wanita Afghanistan dia melakukannya.
"Kami menginginkan hak kami. Kami ingin bekerja. Kami ingin dan kami harus berada di masyarakat. Ini adalah hak kami," kata Beheshta saat wawancara dengan anggota Taliban.
Laporan serangan, pelecehan terhadap wartawan telah muncul di Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban meskipun kelompok pemberontak itu menjanjikan kebebasan pers.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: