Ilustrasi korban perang Armenia dan Azerbaijan. (REUTERS/handout).
Perang perebutan wilayah Nagorno-Karabakh antara Armenia dan Azerbaijan berakhir dengan kemenangan Azerbaijan. Pasca peperangan tersebut, kini kedua negara melakukan gencatan senjata dengan saling bertukar jenazah dari korban perang tersebut.
Melansir Aljazeera, setidaknya ada 200 jenazah dipertukarkan di hadapan pasukan penjaga perdamaian Rusia, menurut kepala Komite Palang Merah Internasional, Peter Maurer.
Namun, seorang juru bicara Palang Merah lainnya yang menangani konflik Nagorno-Karabakh tidak mengkonfirmasi jumlah jenazah yang dipertukarkan. Namun prosesnya sudah dimulai minggu lalu.
Lebih dari 1.000 orang tewas dalam gejolak enam minggu antara Azerbaijan dan negara tetangga Armenia di wilayah Nagorno-Karabakh. Puluhan warga sipil menjadi antara korban, baik dari kedua sisi, dan ratusan pasukan yang didukung Armenia. Sementara Azerbaijan sendiri belum merilis jumlah korban tewas dari militernya.
Nagorno-Karabakh berada di Azerbaijan tetapi telah didominasi oleh etnis Armenia selama bertahun-tahun. Azerbaijan memperoleh keuntungan teritorial yang signifikan dalam serangan militernya ke wilayah itu, yang dimulai pada akhir September.
Baca Juga: Jokowi Siap Jadi Orang yang Pertama Divaksin Covid-19
Armenia setuju untuk menyerahkan beberapa bagian wilayah itu ke Azerbaijan sebagai bagian dari kesepakatan damai yang disepakati minggu lalu antara kedua pihak dan kekuatan regional Rusia.
Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, sekutu dekat Azerbaijan, mengirimkan mosi pada Senin ke parlemen Turki untuk mengerahkan tentara ke Azerbaijan guna memantau gencatan senjata di Nagorno-Karabakh, seperti yang dikutip dari Anadolu.
Sementara itu, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan di bawah tekanan serta kemarahan yang meningkat atas penerimaannya atas kesepakatan damai, Presiden Armen Sarkissian, telah menyerukan pemilihan parlemen lebih awal.
“Mempertimbangkan situasi saat ini dan keharusan untuk mengatasinya dengan bermartabat, juga mendengarkan tuntutan publik, jelas bahwa untuk menjaga negara dari guncangan, pemilihan awal ke Majelis Nasional tidak akan terelakkan,” ucap Presiden Sarkissian.
Sebelumnya, Perdana Menteri Pashinyan telah mengaku kalah perang dari Azerbaijan. Ia pun mendeklarasikan berakhirnya perang yang dimulai pada 27 September dan dilanjutkan dengan keunggulan luar biasa tentara Azerbaijan.
“Perang di Armenia sudah berakhir. Saya membuat keputusan yang sangat sulit bagi kita semua. Saya menandatangani perjanjian dengan Presiden Rusia dan Azerbaijan untuk mengakhiri perang Karabakh. Kesepakatan ini sangat menyakitkan bagi saya dan rakyat saya,'' kata Pashinyan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: