INDOZONE.ID - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), Muhammad Tito Karnavian meluruskan sejumlah informasi yang beredar terkait Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Menurut Tito, ada dua narasi yang dinilainya kurang tepat, yakni anggapan bahwa pemerintah tidak hadir menangani kerusakan jembatan dan klaim bahwa masyarakat membangun jembatan tersebut secara mandiri.
Tito menegaskan, pemerintah telah turun langsung ke lokasi sejak awal. Ia bahkan mengaku telah meninjau kondisi jembatan secara langsung.
"Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, saya sudah datang ke sana langsung. Besoknya Menteri PU datang Pak Dodi Hanggodo, dua hari kemudian juga ada Menteri Pertanian menyelesaikan masalah perkebunan di Bener Meriah," ujar Mendagri Tito dalam keterangannya yang diterima Indozone, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan, Jembatan Enang-Enang merupakan jembatan baja yang tidak roboh saat longsor terjadi. Yang mengalami kerusakan justru akses jalan menuju jembatan akibat longsor sepanjang sekitar tiga kilometer.
Akibat longsor tersebut, posisi jembatan menjadi miring hampir 45 derajat sehingga dinilai masih berbahaya untuk dilalui karena kondisi tanah di sekitarnya belum stabil.
"Pemerintah bukan tidak hadir. Balai PU Aceh sudah datang, hadir di sana. Persoalannya adalah di lapangan, saya sudah melihat langsung," ungkapnya.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh pun telah meminta masyarakat untuk sementara menggunakan jalur alternatif melalui kawasan Werlah.
Namun, warga mengeluhkan jalur tersebut karena jaraknya lebih jauh. Selain itu, jembatan di jalur alternatif juga ikut hanyut sehingga hanya tersisa jalan tanah yang kondisinya kurang stabil.
Karena alasan itulah, warga berharap akses menuju Jembatan Enang-Enang tetap bisa digunakan, setidaknya untuk kendaraan ringan seperti sepeda motor maupun mobil pribadi.
Tito menjelaskan bahwa gotong royong yang dilakukan masyarakat bukanlah membangun jembatan baru, melainkan membuat akses jalan menggunakan material pasir dan batu (sirtu) sepanjang sekitar 75 hingga 100 meter agar kendaraan dapat kembali mencapai jembatan.
"Yang dibangun bukan jembatannya, tetapi jalan sirtu menuju jalan aspal. Jembatannya tetap yang lama," jelasnya.
Setelah berdialog dengan masyarakat, pemerintah akhirnya mencapai sejumlah kesepakatan terkait penanganan akses di kawasan tersebut. Untuk sementara, Jembatan Enang-Enang akan tetap difungsikan dengan sejumlah pembatasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Istimewa