Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur keluarkan lahar panas (Instagram/ib_ntt24)
INDOZONE.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginformasikan bahwa hujan abu, pasir, dan batu kerikil masih terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pasca-erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
“Hasil laporan tim reaksi cepat di lapangan menunjukkan situasi di sekitar gunung sangat terbatas untuk dijangkau karena gelap dan disertai hujan kerikil serta abu vulkanik yang menyulitkan proses penelusuran lebih lanjut,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Selasa malam.
Erupsi yang terjadi pada pukul 17.35 Wita memicu kolom abu setinggi 10.000 meter di atas puncak, atau sekitar 11.584 meter di atas permukaan laut, dengan abu berwarna kelabu tebal yang menyebar ke berbagai arah mata angin.
Baca juga: Gunung Lewotobi Laki-Laki Meletus: 4 Bandara Ditutup, 10 Orang Tewas
Meskipun intensitas erupsi tergolong tinggi, hingga laporan ini diturunkan belum terdapat informasi resmi terkait korban atau kerusakan dari pemerintah desa di wilayah sekitar.
"BPBD Flores Timur belum menerima laporan adanya warga terdampak dari para kepala desa," ujar Abdul.
Hujan pasir dilaporkan terjadi di beberapa permukiman yang berada di luar radius kawasan rawan bencana (KRB), termasuk Desa Boru, Desa Hewa, dan Desa Watobuku.
Sementara itu, warga Desa Nurabelen, Kecamatan Ile Bura, dilaporkan telah mengungsi ke titik aman di Konga untuk menghindari paparan material letusan.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Pos Pemantauan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki berada di lokasi yang lebih dekat ke pusat erupsi di Desa Pululera juga terdampak hujan kerikil.
Para petugas pos dilaporkan telah melakukan evakuasi ke Gereja Pululera yang berjarak sekitar1,2 kilometer dari lokasi pos.
Sementara beberapa warga lainnya sudah mulai bergerak ke Desa Nileknoheng, yang terletak sekitar 5 kilometer dari pos atau 12 kilometer dari kawah gunung.
BNPB dan Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan bahwa aktivitas vulkanik tetap dipantau secara ketat, dengan alat pemantauan seismik di Pululera yang merekam gempa-gempa yang terkait dengan aktivitas magma.
Baca juga: Video Erupsi Gunung Etna Ternyata Asli, Bukan Hasil AI: Ini Faktanya!
"Masih terdeteksi tremor. Hasil pengamatan Badan Geologi juga menunjukkan satu kali gempa hembusan, tremor non-harmonik, dua kali gempa vulkanik dalam, serta empat kali gempa tektonik jauh,” jelas Abdul Muhari.
Menurut laporan Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas erupsi masih berlangsung hingga pukul 19.37 Wita, dengan data seismogram menunjukkan amplitudo maksimum 47,3 mm dan durasi gempa sekitar 8 menit 22 detik, meskipun kolom abu tidak lagi terlihat.
BNPB mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang, mengikuti arahan dari pemerintah daerah, jangan lupa untuk selalu menggunakan masker atau pelindung mulut dan hidung saat beraktivitas di luar ruangan, khususnya di wilayah terkena hujan abu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara