INDOZONE.ID - Industri kosmetik di Indonesia berkembang pesat dengan kehadiran beragam merek di pasaran. Tak hanya merek besar yang sudah familiar, produk-produk baru hasil impor maupun produk lokal, bermunculan bak jamur di musim hujan.
Hanya saja, kondisi ini dinodai kehadiran sejumlah produk mengandung bahan berbahaya, seperti merkuri atau raksa (hg), juga hidrokuinon.
Penindakan hukum terhadap tindak pidana ini bukan tidak dilakukan, sebab Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selalu melakukan pengawasan baik sebelum maupun sesudah masa produksi, yaitu setelah produk beredar di pasaran.
Hanya saja, merek-merek baru kosmetik, utamanya skincare, terus bermunculan dengan beberapa di antaranya mengandung bahan berbahaya seperti merkuri.
Bahaya Merkuri dalam Skincare
Eklendro Senduk, dokter kecantikan sekaligus pemilik brand skincare, menyebut merkuri yang berharga murah, memang memiliki efek sangat cepat dalam memutihkan kulit. Hal ini membuat para pengusaha nakal fokus menjual efek pemutih instan, dengan mengabaikan beragam bahaya yang dapat ditimbulkan.
Padahal, merkuri atau raksa (Hg), yang merupakan satu-satunya logam berbentuk cair, sudah dimasukkan dalam daftar bahan berbahaya yang dilarang penggunaannya pada manusia.
Di dunia internasional, hal ini tercantum dalam Konvensi Minamata yang juga diadopsi Indonesia. Selain itu, pembatasan penggunaannya di Indonesia tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2019 tentang Aksi Nasional dan Penghapusan Merkuri.
Penggunaan merkuri dalam kosmetik dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius. Namun para produsen nakal mengabaikan hal ini karena gelap mata tergiur besarnya keuntungan.
"Karena merkuri ini efeknya bikin cepat putih kulit. Memberikan efek whitening yang cepat, yang instan,"
"Apalagi kan orang Indonesia tuh pengin putih semua, whitening minded. Jadi dengan efek yang instan, dengan harga yang murah meriah, tergiur kan," kata dokter yang kerap disapa Ekles itu saat ditemui Indozone.
Derita Korban Kosmetik Berbahaya
Meski demikian, tak semua merek skincare yang mengandung merkuri dijual dengan harga murah. Vita Paulino, pernah menggunakan paket skincare yang ternyata mengandung merkuri dengan harga Rp250 ribu hingga Rp400 ribu.
Ibu rumah tangga di Surabaya ini tergoda memakainya demi tampil lebih cantik mempesona dengan kulit putih. Setelah penggunaan rutin pada 2011 hingga 2017, mulai timbul flek hitam di wajahnya.
Flek Hitam hingga Ochronosis
Perubahan buruk yang dialami Vita, membuat orang-orang mempertanyakan hingga melontarkan hinaan. Hal ini membuatnya mengalami tekanan mental hingga membatasi keluar rumah dan berinteraksi dengan orang lain.
"Hampir gila aku gara-gara flek. Malu lah wajahnya jadi jelek, apalagi sebelumnya putih, mulus, glowing. Ya gak salah juga sih yang ngatain aku kayak kena azab, karena emang jadi jelek," kata Vita yang kini kerap memberi edukasi soal kecantikan di akun TikTok @vta_paulino.
Hal seperti ini juga dirasakan oleh Nur Lenny Astia, yang menjadi korban karena menggunakan skincare mengandung bahan berbahaya pada 2013-2015, karena warna kulit wajahnya yang dirasa tak merata.
Baca Juga: Bahaya Kosmetik-Sabun yang Mencatut Brand Ternama, Polda Metro: Pakai Bahan Dasar Limbah!
Perempuan asal Samarinda itu menghentikan pemakaiannya karena mulai timbul flek hitam, yang saat itu dia rasa sebagai reaksi ketidakcocokan.
Namun setelah dibiarkan tanpa perawatan, flek hitam itu justru menebal. Saat berkonsultasi dengan dokter, perempuan yang akrab disapa Nur Tya itu didiagnosis terkena ochronosis, perubahan warna kulit menjadi kebiruan atau kehitaman, karena penggunaan produk pemutih dengan bahan berbahaya.
"Ada satu tahun saya gak keluar rumah, tidak mau berinteraksi sama orang lain karena risih ditanya kenapa mukanya gosong. Ada yang ngatain juga kena azab neraka," kata Nur.
Menurut Vita, penggunaan skincare dengan bahan berbahaya seperti merkuri atau hidrokuinone, memberi efek seperti kecanduan, yang menimbulkan gatal hingga kulit wajah mengelupas saat tak digunakan.
Keguguran hingga Meninggal Dunia
Namun efek yang membuatnya terasa lebih menyakitkan bagi Vita, terjadi saat hamil pada 2018. Saat itu, dokter menyatakan anak yang dikandungnya mengalami cacat fisik karena efek penggunaan merkuri, hingga akhirnya mengalami keguguran di bulan keempat.
"Pas USG itu baru ketauan janinnya ga sempurna organ tubuhnya, pas dicek dokter karena skincare itu," kata Vita.
Hal yang sama terjadi pada Celline. Perempuan 25 tahun itu mengaku telah menggunakan skincare mengandung merkuri sejak duduk di bangku kelas 1 SMP pada 2014. Kulitnya yang sawo matang membuat dia menjadi korban bullying dari teman-teman di sekolahnya.
Dia pun mencari solusi, hingga menemukan krim pemutih di pasar tradisional tak jauh dari rumahnya. Perempuan asal Kediri ini pun senang karena krim seharga Rp5.000 itu sangat efektif membuat kulitnya menjadi putih.
"Seneng banget karena baru 3 hari pakai langsung putih. Waktu itu aku jual juga ke temen-temen, karena banyak yang nanya kan. Aku jual Rp15.000 dari harga Rp5.000," kata Celline.
Celline mengatakan, dia berhenti menggunakan skincare berbahan merkuri itu saat duduk di SMK Farmasi di kotanya. Salah satu guru mengenali tanda-tanda penggunaan merkuri di wajahnya, hingga menyarankan Celline untuk tak lagi memakainya.
Celline yang mengikuti saran gurunya, beruntung tak mengalami dampak buruk pada wajahnya. Namun seperti Vita, dia juga mengalami keguguran karena dampak merkuri yang dipakainya.
"Jadi pas USG usia (kandungan) 8 minggu, dokternya nanya pake krim enggak, gitu. Dokternya udah curiga. Bener, pas usia kandunganku 16 minggu, pendarahan, akhirnya keguguran," cerita Celline.
Dampak berbeda dirasakan oleh Husnul Hotimah. Penggunaan skincare yang mengandung merkuri dan hidrokuinon selama 10 tahun, membuat daya tahan tubuh Husnul mengalami penurunan.
Wajahnya menjadi sensitif, sehingga kerap timbul ruam kemerahan saat terkena paparan sinar matahari. Dia juga kerap pingsan hingga harus menjalani perawatan opname di rumah sakit. Selain itu, daya ingatnya juga mengalami penurunan.
"Pernah waktu itu aku kuliah bawa mobil, pulangnya naik ojek. Baru inget mobil aku tinggal di kampus. Pernah juga mau naro buah di kulkas, malah ke kamar mandi, jadi ga sinkron otak sama badan," kata Husnul sambil tertawa.
Selain itu, Husnul juga mengaku melakukan infus whitening setiap pekan, hingga membuat mengalami infeksi ginjal. Siklus menstruasinya juga terganggu, hingga dia mengalami dua kali haid dalam satu bulan.
Saat berkonsultasi dengan dokter, Husnul disarankan untuk operasi karena mengalami penebalan dinding rahim.
Menurut Husnul, seorang temannya bahkan mengidap komplikasi penyakit karena menggunakan skincare mengandung bahan berbahaya, mulai kelainan ginjal, liver, infeksi kulit, autoimun, hingga akhirnya meninggal dunia.
Hal ini juga yang menjadikan Husnul menyadari bahaya skincare abal-abal, hingga akhirnya benar-benar berhenti menggunakannya.
Perempuan 30 tahun kelahiran Banyuwangi itu mengatakan, dirinya menghabiskan uang hampir ratusan juga karena ingin tampil cantik dengan kulit putih. Sayangnya, skincare yang ia gunakan mengandung bahan berbahaya, sehingga menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mentalnya.
Meski kulit putih glowing yang diharapkan sempat terwujud, namun efek negatifnya tak sebanding. Wajah breakout hingga kondisi kesehatan yang menurun, membuat pengobatan dan perawatan yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar.
"Jadi kalau gak kaya, jangan pake krim atau skincare yang abal-abal, karena penyembuhannya mahal. Ratusan juta aku habis buat itu," kata Husnul.
Cara Identifikasi Kosmetik Berbahaya
Untuk menghindari paparan produk kosmetik berbahaya dengan kandungan merkuri atau hidrokuinon, selalu lakukan cek KLIK yang selalu dikampanyekan BPOM.
Cek KLIK
Cek KLIK adalah pengecekan terhadap 4 hal, yaitu Kemasan, Label, Izin edar, serta Kedaluwarsa.
Pada 'Kemasan', kosmetik yang perlu dicurigai mengandung bahan berbahaya adalah jika kemasan penyok, menggelembung, terbuka, atau rusak.
Pengecekan 'Label' dilakukan untuk memastikan apakah pada produk terdapat label BPOM.
Kemudian lakukan pengecekan 'Izin Edar' untuk memastikan keberadaan nomor registrasi BPOM. Jangan lupa, hal lain yang perlu diperiksa adalah tanggal kedaluwarsa.
Cek Merek
Namun karena saat ini banyak kasus pemalsuan label dan nomor izin edar BPOM dalam produk skincare, pemeriksaan kemasan melalui Cek KLIK saja tidak cukup.
Kamu perlu melakukan pengecekan merek di situs https://cekbpom.pom.go.id/. Saat ini, ada 400.830 produk kosmetik yang terregistrasi di BPOM.
Sebanyak 947 produk di antaranya telah masuk dalam daftar berbahaya larang edar yang bisa kamu cek di sini.
Baca Juga: Toko Kosmetik di Karawaci Digerebek, Polisi Amankan Penjual Berikut Ratusan Butir Obat Terlarang
Selain itu, identifikasi skincare mengandung bahan berbahaya juga dapat dilakukan pada bahan fisiknya. Kosmetik dengan kandungan hidrokuinon atau merkuri, biasanya memiliki tekstur stretchy atau lengket dan tidak meresap di kulit.
Warnanya juga tampak mencolok atau mengkilat,memiliki bau yang tajam, serta dapat berubah warna ketika sudah lama atau terkena sinar matahari.
Dukungan dan Penerimaan pada Korban
Husnul yang kini aktif memberi edukasi pada masyarakat soal kosmetik berbahaya di akun TikTok @musuhcreamabalabal, menyebut dukungan pada korban merupakan hal penting dalam proses kebangkitan untuk melanjutkan hidup.
Ini karena penampilan korban pengguna skincare berbahaya, kerap kali berubah drastis dari putih glowing menjadi breakout dengan warna gelap.
Tak jarang hal ini membuat mereka menjadi korban bullying, atau tak lagi percaya diri, sehingga kesehatan mentalnya jatuh karena perubahan penampilannya tersebut.
Dukungan Komunitas
Hanya saja, kata Nur Tya, para korban skincare abal-abal tak jarang menerima bullying dari keluarga dekat. Jika ini terjadi, komunitas menjadi alternatif paling relevan untuk bertahan hingga akhirnya bangkit dari keterpurukan.
"Pahit banget jadi korban krim abal-abal tuh. Apalagi kalau orang deket kita ga peduli, malah ikutan ngehina," kata Husnul.
Nur Tya, Husnul, Vita, dan Celline, sama-sama tergabung dalam komunitas Melanin Hero. Tak sedikit mereka yang tergabung di komunitas ini adalah korban kosmetik berbahaya. Kesamaan ini membuat mereka dapat saling berbagi untuk saling menguatkan.
"Komunitas kayak gini tuh penting karena support sesama perempuan. Ada event kumpul bareng juga, saling menginspirasi dari orang-orang yang bernasib sama," kata Nur Tya.
Didirikan oleh seorang brand strategy consultant Verra Oktavianti bersama dokter sekaligus edukator perawatan kulit, dr Ika, dan beauty enthusiast Farah Fransiska, Melanin Hero mengajak wanita Indonesia mencintai warna kulit masing-masing.
Celline, yang kini jadi content creator kecantikan di akun TikTok @ashcelline, mengaku saat ini sudah dapat menerima kondisi dirinya sendiri. Karena itu, dia kini tak lagi mempersoalkan orang lain yang melontarkan komentar negatif soal penampilannya.
"Kena bully sebenarnya gapapa, karena kulitnya emang gitu, yang penting mencintai diri sendiri. Sebenernya semua warna kulit itu cantik, tidak usah mengubahnya, tapi cukup dirawat dan yang penting sehat," katanya.
Nur Tya, yang kini kerap menjadi pembicara dalam acara yang digelar Melanin Hero, mengatakan proses kebangkitannya dimulai dari penerimaan terhadap keadaan dirinya sendiri.
Dia pun mulai mensyukuri karunia tuhan atas hidupnya, dan memaafkan kesalahan masa lalu yang telah dia perbuat.
"Intinya jangan jadi penyesalan, kita harus pelan-pelan bangkit," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release, Liputan