Catatan Indozone: Menembus Pelosok Maluku saat Iduladha: Desa Tanpa Internet hingga Daging Kurban Jadi Makanan Mewah Warga
INDOZONE.ID - Minggu, 24 Mei 2026 malam, langkah kaki kami terasa sangat ringan menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang untuk melihat secara langsung proses Iduladha di pelosok Timur Indonesia. Sepekan lebih di sana, kami cukup kaget melihat prosesi Iduladha di sana yang sangat berbeda dengan Ibu Kota.
Tiba di Bandara Soetta dini hari, kami bertemu dengan tim Dompet Dhuafa, jurnalis, influencer, dan aktor Masaji Wijayanto. Kami bersama-sama menjadi satu tim dalam perjalanan ini.
Tapi, mereka ya mereka, kami ya kami Indozone. Kami melakukan perjalanan, melakukan pendalaman lebih jauh dan menulis kisah masyarakat pelosok untuk khalayak pembaca Indozone.
Baca juga: Presiden Prabowo Salat Iduladha 1447 H di Paris Bersama Diaspora Indonesia
Pesawat kami terbang pada pukul 01.25 WIB dari Bandara Soetta dan tiba di Bandara Pattimura Ambon pada pukul 07.15 WIT. Tiba di tanah Ambon, langkah kami semakin cepat bergerak menuju pesawat selanjutnya yakni pesawat kecil untuk menuju wilayah Namlea.
Untungnya kami bisa menaiki pesawat ATR yang bisa menghemat waktu. Sebab jika melalui laut perjalanan kami bisa menghabiskan waktu delapan jam lamanya.
Kisah di Perkampungan Mualaf
Dompet Dhuafa baru saja membangun dan meresmikan masjid pertama yang ada di Desa Wabloi Adat, Kampung Mualaf, Namlea. Mereka juga memberikan dua ekor sapi untuk dikurbankan pada momen idul adha kali ini.
Kami memang tidak menyaksikan langsung prosesi pemotongan Iduladha di sana karena kami tiba pada Selasa, 26 Mei. Meski begitu, di sana kami bertemu dengan sosok ustaz berdarah Jawa yang sangat berperan di kampung tersebut.
Namanya ustaz Fauzan Abdurahman. Ia merupakan pribadi yang sederhana tapi memiliki peran luar biasa karena sudah banyak memualafkan warga di sana.
Desa Terisolir, Tanpa Internet
Hari selanjutnya langkah kaki kami tentunya semakin cepat untuk masuk ke jantung lebih dalam pelosok di Maluku. Kami melanjutkan perjalanan darat cukup jauh menerobos hutan sampai mobil kami terhenti lantaran akses jalan terputus sungai.
Sungai cukup deras, tak ada penerangan apalagi jembatan. Dibalut derasnya hujan di tengah malam itu, kami harus menaiki rakit kayu untuk menyebrang dengan ditemani cahaya lampu senter dari ponsel kami masing-masing.
Setelah menyebrang sungai, kami dipaksa berjalan kaki kurang lebih 1 km dengan kontur jalan berbatu dan tergenang air serta berlumpur. Seolah membelah hutan belantara tengah malam, seperti tak ada kehidupan di sepanjang jalan.
Di ujung jalan, kami melihat lampu berwarna agak orange, sangat remang membentang sepanjang jalan. Tidak panjang, lampu-lampu itu seolah menyambut kita saat menapakan kaki di desa bernama Wamana Baru.
Ya, daerah ini sangat terisolir dan seolah terpinggirkan. Bukan tanpa alasan, suasana di sini sangatlah jauh dari kehidupan di kota-kota besar.
Sudah membawa dua ponsel dengan dua provider besar yang berbeda, alhasil ponsel kerja kami lumpuh total di sana. Tidak ada sinyal sama sekali membuat kami cukup kaget selama berada di sana.
"Di sini tak ada internet. Yang ada Starlink di depan rumah. Harus di rumah itu saja, keluar sedikit sinyalnya hilang," begitu kata Sandi, warga di sana yang rumahnya kami tumpangi.
Semacam Wi-Fi, Starlink hanya di satu rumah tertentu. Untuk mendapatkan internet, kami harus menggunakan voucher per-15 jam yang hanya bisa diakses satu voucher untuk satu ponsel.
Pergerakan kami terkunci di rumah tetangga itu. Keluar sedikit saja, jaringan internet kami pudar.
Matahari mulai menyambut, pagi itu kami memulai hari dengan membersihkan diri bukan di kamar mandi melainkan di sungai. Air sungai menyadarkan kita betapa bersyukurnya tinggal di kota yang sudah maju.
Singkat cerita di desa itu, dua ekor sapi dari Dompet Dhuafa dieksekusi dan dagingnya dibagikan kepada warga. Kami berfikir daging sapi di sana merupakan daging yang biasa saja karena di sana cukup banyak warga yang memelihara sapi.
Pemikiran kami salah total. Warga di sana memang memelihara sapi tapi mereka tidak memotongnya sendiri dengan alasan kerugian jika dipotong sendiri.
"Mereka memang memelihara sapi, tapi kalau untuk dipotong dia rugi. Makanya mereka ingin menjual sapi sapinya. Misalnya di Pulau Buru tidak ada sapi yang terjual jika tidak ada Dompet Dhuafa yang membeli," kata Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Maluku, La Januri.
Terjang Ombak Bawa Sapi untuk Warga Pulau Tiga
Titik berikutnya kami harus menyebrangi ombak besar di Timur Indonesia agar bisa menginjakkan kaki di Pulau Tiga. Kami dengar, Dompet Dhuafa menyalurkan tiga ekor sapi yang dibawa dari Ambon dan harus menaiki kapal kecil agar bisa tiba di pulau ini.
Kapal yang sangat kecil kami rasakan. Kami berfikir bagaimana bisa warga di sana mengangkut sapi menggunakan kapal sekecil ini?
Tiba di Pesisir Pantai Pulau Tiga, kami disambut bak pahlawanan. Merdunya marawis yang dibawakan warga saat menyambut membuat kami nyaman berada di sana.
Singkat cerita, kami sampai ke tahap pemotongan. Sebelum memotong hewan kurban, warga di sana lebih dulu mengarak hewan kurban ke Masjid dengan lantunan shawalat dan marawis sebagai bentuk rasa syukur mereka mendapatkan hewan kurban pada tahun ini.
"Sapi ini diarak dengan hadroh ke masjid sebagai bentuk kebahagiaan mereka dengan adanya hewan kurban," kata La Januri.
Ikan menjadi makanan sehari-hari masyarakat di sana. Sedangkan daging sapi sangat jarang mereka rasakan.
"Biasanya makan daging itu setahun sekali, idul fitri-pun tidak. Kurban ya kalau ada yang kurban. Tahun lalu pernah dapat tapi hanya satu ekor. Tahun ini tiga kita upayakan semua warga dapat," kata Dulawalih, warga di sana.
Kisah Warga Islam Minoritas Tapi Berbagi dengan Warga Non Islam
Kami kembali mengarungi lautan, membelah ombak hingga keberadaan kami semakin jauh dari kota Ambon. Desa Rohua, Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah menjadi titik terakhir kami.
Suasana sangat sederhana namun berkesan. Memang kala itu waktu Jumatan sudah tiba, namun jemaah di Masjid di sana terlihat tidak banyak.
Di sana memang syarat akan adat, bukan Islam. Suku Naulu namanya menjadi suku legendaris yang tentunya mereka tidak menganut agama Islam.
"Di sini Islam minoritas. Di sini banyak animisme. Kepala Dusun di sini saja dari mereka," ucap Imam warga sekitar.
Tiga ekor sapi dari Dompet Dhuafa disembelih, uniknya pembagian daging kurban juga diberikan kepada warga suku di sana. Toleransi yang kuat terpancar, kami diterima dan diperkenankan masuk ke kediaman mereka saat kami memberi daging kurban.
Memakai kain sarung mengatung dan kain di kepala berwarna merah menandakan mereka adalah warga Suku Naulu. Dengan tangan terbuka, senyum terpancar, mereka menerima daging yang dikemas warga menggunakan daun kelapa dan daun pisang.
Baca juga: Jelang Lebaran Iduladha, Harga Sapi di Parepare Alami Kenaikan
Empat wilayah ini hanya sebagian kecil wilayah pelosok masyarakat di Tanah Air yang setiap tahunya berharap adanya daging kurban pada momen Iduladha.
Masih banyak lagi wilayah-wilayah terpencil lainnya di Indonesia yang bukan cuma membutuhkan hewan kurban, namun kehidupan mereka sangatlah tertinggal dibanding wilayah maju lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Dan Pengalaman Langsung