Rabu, 04 FEBRUARI 2026 • 16:43 WIB

Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD Bunuh Diri di NTT

Author

Ilustrasi mayat.

INDOZONE.ID - Kasus siswa kelas IV SD Kabupaten Ngada bunuh diri karena tidak dibelikan buku dan pensil, jadi atensi nasional. Kapolda NTT, Irjen Pol Rudi Darmoko, mengirim tim konselor psikologi untuk keluarga korban.

Irjen Rudi menjelaskan, konselor itu akan memberikan pendampingan dan penguatan bagi keluarga yang ditinggalkan korban.

Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko saat memberikan kata sambutan dalam acara peresmian Direktorat Reserse PPA dan PPO Polda NTT di Kupang. (ANTARA/Kornelis Kaha)

Ia menyampaikannya di sela-sela syukuran peresmian Direktorat Reserse PPA dan PPO Polda NTT di Kupang.

"Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban," kata Irjen Rudi di Kupang, dikutip dari Antara, Rabu (4/2/2026).

Kamu harus tahu, tim konselor psikologi itu terdiri dari Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan bersama Kasubbag Psipol Bagian Psikologi Biro SDM Kompol Prasetyo Dwi Laksono dan Bamin Bagian Psikologi Biro SDM Polda NTT Bripda Yoseph Alexander Rewo.

Tim konselor psikologi akan melakukan tugasnya per hari ini hingga Minggu 8 Februari 2026 di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

"Tim melakukan pembinaan dan pendampingan mental kepada keluarga korban," ujar Kapolda NTT itu.

Baca juga: Tragedi Siswa SD di Ngada Jadi Alarm Keras Pendidikan Gratis di NTT

Kronologi dan Motif Siswa SD di NTT Bunuh Diri

Korban yang berumur 10 tahun, ditemukan meninggal dunia pada Kamis 29 Januari 2026, pukul 11.00 WITA. Ia gantung diri di batang pohong cengkeh, dekat pondok sederhana di tengah kebun, tempatnya tinggal bersama sang nenek.

Kejadian nahas ini bermula pada Rabu 28 Januari 2026, malam WITA. Korban yang tinggal bersama sang nenek, sempat menginap di rumah ibunya di desa tetangga.

Ibu korban merupakan orang tua tunggal yang mengurusi lima anak, termasuk korban. Sejak korban masih di dalam kandungan, sang ayah telah meninggal dunia.

Untuk hidup, sang ibu bekerja sebagai petani hingga melakoni berbagai pekerjaan serabutan lain. Oleh karena itu, korban hidup bersama sang nenek.

Saat menginap di rumah sang ibu, korban meminta dibelikan buku dan pena seharga Rp10 ribu. Akan tetapi, permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena sang ibu tidak memiliki uang.

Keesokan harinya, sang ibu membangunkan korban untuk bersekolah. Korban mengaku sakit kepala, tapi tetap dipaksa berangkat sekolah oleh sang ibu.

Korban diantarkan ke rumah neneknya untuk mengambil seragam sekolah, dengan ojek. Setibanya di sana, korban justru menuju bale di kebun milik sang nenek.

Pada pukul 11.00 WITA, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan posisi gantung diri.

Baca juga: Kata Cak Imin soal Siswa SD Gantung Diri di NTT: Jadi Cambuk untuk Semua

Polisi menemukan sepucuk surat bersama jasad bocah tersebut. Tulisan di surat tersebut bak salam perpisahan kepada sang ibu.

Motif utama korban melakukan aksi nekatnya masih diselidiki polisi. Akan tetapi, dugaan sementara korban gantung diri karena alasan ekonomi.

"Motif utama karena hal itu namun masih didalami. Untuk sementara, sesuai dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP karena kekecewaan tapi masih didalami lagi," jelas Irjen Rudi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU