Ada Keluarga Korban Ponpes Al Khoziny yang Ingin Keadilan, Bukan Sekadar Santunan dan Ridho Kiai
INDOZONE.ID - Salah satu keluarga korban ambruknya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, menegaskan bahwa mereka ingin proses hukum tetap berjalan. Meski identifikasi korban masih berlangsung, keluarga berharap polisi segera menelusuri penyebab runtuhnya bangunan yang menelan puluhan korban itu.
“Untuk keluarga saat ini sangat terpukul. Kami sangat kehilangan anak kami,” kata Fauzi, warga asal Madura yang kini tinggal di Depok, Jawa Barat, saat ditemui di RS Bhayangkara Surabaya, dikutip dari Antara, Kamis (9/10/2025).
Anaknya, Toharul Maulidi (16), yang duduk di kelas 3 SMP, selamat dari insiden tersebut. Namun, empat keponakannya, Albi, Ubaidillah, Haikal Ridwan, dan Muzaki Yusuf, menjadi korban meninggal dunia.
Pertanyakan Aktivitas Pengecoran Saat Santri Salat
Fauzi juga mempertanyakan kondisi sebelum insiden terjadi. Ia heran mengapa masih ada aktivitas pengecoran di lantai atas saat para santri sedang beribadah di bawah.
“Pada saat itu ada aktivitas ngecor di atas, dan di bawah ada yang salat. Nah, itu SOP-nya dari mana? Kalau memang ada kelalaian manusia, harus diproses. Siapa pun itu, hukum harus ditegakkan,” ujarnya tegas.
Baca juga: Pusdokkes Polri Terima 153 Sampel DNA Korban Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, 22 Korban Teridentifikasi
Hingga kini, keluarga belum mengambil langkah hukum secara langsung. Namun, mereka berharap aparat tidak menunggu proses identifikasi selesai untuk mulai memeriksa pihak-pihak terkait.
“Kita akan bicarakan dulu dengan keluarga. Tapi kami yakin aparat penegak hukum sudah mulai menelusuri dan memeriksa pihak yang terlibat,” lanjutnya.
Minta Fakta yang Valid
Fauzi menegaskan bahwa pihak keluarga tidak ingin berspekulasi soal penyebab ambruknya ponpes Al Khoziny tanpa data yang valid. Ia berharap semua informasi yang beredar di publik tetap mengacu pada fakta lapangan.
“Kalau saya bicara, ya harus berdasarkan fakta. Jangan sampai ada bias,” katanya.
Hingga Selasa siang, RS Bhayangkara Surabaya telah menerima 62 kantong jenazah korban ambruknya Ponpes Al Khoziny. Dari jumlah itu, 17 jenazah sudah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga.
Kembalikan Santunan, Minta Ridho Kiai
Sementara itu, Ponpes Al Khoziny berencana memberikan santunan kepada keluarga korban meninggal dunia. Namun, niat baik tersebut ditolak oleh keluarga almarhum Muhammad Sholeh (22), santri asal Bangka Belitung yang menjadi salah satu korban tewas.
Muhammad Sholeh sempat dievakuasi dalam kondisi kritis pada hari kedua operasi penyelamatan, Selasa (30/10), sebelum akhirnya meninggal dunia di RSUD Notopuro Sidoarjo.
Kakak kandung korban, Abdul Fattah, mengatakan pihak keluarga menghargai niat pesantren, tetapi memilih untuk tidak menerima santunan itu.
“Kami tidak mau menerima santunan itu, bukan karena apa-apa. Kami hanya ingin mendapatkan ridhonya kiai dan guru di pesantren. Semoga doa dan ridho beliau menjadi keberkahan bagi almarhum,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara