INDOZONE.ID - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan soal turunnya produksi minyak Indonesia. Dari 1,6 juta barel per hari di era 90-an, kini tinggal 580 ribu.
Ia kemudian mempertanyakan, apakah ini karena sumber daya Indonesia habis atau memang sengaja diturunkan agar RI terus impor minyak?
Pertanyaan ini muncul saat Bahlil menghadiri Forum Energi Mineral di Jakarta, pada Senin (26/5/2025). Ia menegaskan bahwa hilirisasi dan kemandirian energi jadi dua tugas besar Kementerian ESDM dalam mewujudkan Asta Cita, visi Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Bahlil, hilirisasi bukan cuma soal nilai ekspor, tapi juga cara menciptakan lapangan kerja dan menyeimbangkan keadilan ekonomi.
“Hilirisasi adalah alat untuk pertumbuhan inklusif,” ujarnya dikutip dari laman KemenESDM, Selasa (27/5/2025).
Ia mencontohkan hilirisasi nikel yang sukses mendongkrak ekspor dari USD 3,3 miliar ke hampir USD 40 miliar dalam tujuh tahun terakhir.
Menurut Bahlil, hal tersebut menjadi bukti bahwa kebijakan hilirisasi berdampak nyata jika dijalankan serius.
Ada Apa dengan Minyak?
Namun, untuk sektor minyak, tren sebaliknya terjadi. Produksi justru menurun. Bahlil curiga, ada sistem yang sengaja dibuat di balik penurunan ini.
“Menurut saya ini ada unsur kesengajaan by design,” katanya tegas.
Ia menyoroti bagaimana penurunan lifting minyak bisa memperparah ketergantungan impor. Jika dibiarkan, kondisi ini akan mengancam kedaulatan energi nasional.
Baca Juga: Polda Metro Sidak Pasar di Jakarta, Temukan Minyak Goreng Tak Sesuai Takaran
Cabut Izin KKKS yang Mandek
Bahlil menyatakan, pihaknya akan mengevaluasi dan mencabut izin perusahaan migas yang tak produktif. Bahkan perusahaan besar yang sudah lama pegang konsesi juga akan disorot.
Cara ini disebut penting agar sumber daya tidak mangkrak dan bisa dioptimalkan untuk kebutuhan dalam negeri.
Fokus ke Gas dan Energi Alternatif
Selain itu, pemerintah mendorong penggunaan gas domestik lewat konversi LPG ke DME dan pembangunan jaringan gas (jargas). Ini bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
“Energi adalah semangat, energi adalah kesediaan untuk bersama, energi adalah kepercayaan, energi adalah api dalam dada yang tidak boleh padam,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemen ESDM