Selasa, 21 JANUARI 2025 • 21:15 WIB

Bocah Kelas 6 SD Diduga Jadi Korban Bullying 20 Pelajar SMP-SMA, Pingsan Akibat Dicekoi Pil Koplo

Author

Ilustrasi perundungan. (Pixabay.com)

INDOZONE.ID - Bocah kelas 6 SD berinisial MJF (12) asal Kecamatan Semboro, Jember, diduga menjadi korban bullying (perundungan) oleh 20 siswa SMP-SMA.

Menurut Kakak Sepupu Korban berinisial TK, adiknya itu diduga menjadi korban bullying. Dengan cara dicekoi pil koplo yang dicampur ke dalam minuman es teh yang diminum korban.

Saat korban tidak sadar, kata TK, sebanyak 20 siswa SMP-SMA itu kemudian melakukan tindakan menginjak-injak korban dan ditenggelamkan di aliran irigasi, dengan maksud untuk membuat korban sadar.

Kejadian terkait dugaan perundungan itu, menurut TK, berawal dari kegiatan yang berlangsung sejak Sabtu malam (18/1/2025) kemarin.

Baca Juga: Polisi Periksa Orang Tua dan Korban Bullying di SMAN 70 Jaksel

"Kalau kejadiannya itu, sejak Malam Minggu mereka awalnya ketemuan bakar-bakar gitu. Sampai pukul 3 Subuh. Setelah itu mereka pulang. Kebetulan si korban ini masih SD. Tapi berteman sama anak yang gede-gede, anak SMP, SMA gitu, nggak mau berteman sama anak yang sepantaran," kata TK saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Selasa (21/1/2025).

Kemudian keesokan harinya, Minggu (19/1/2025) kemarin, korban izin kepada ibunya untuk berenang dengan teman-temannya.

"Bilangnya izin mau berenang bersama dengan teman-temannya (yang bersama Malam Minggu kemarin). Bilangnya bersama salah satu temannya, yang dikenal baik oleh ibunya. Kemudian mendapat izin itu. Berangkat pukul 7 pagi," jelasnya.

Namun ditunggu sampai pukul 3 sore, kata TK, korban belum pulang ke rumahnya. Selanjutnya, ibu korban bersama kakak sepupunya mencari korban, diketahui berada di dekat rumah, sekitar areal persawahan.

Baca Juga: Orang Tua Siswa SD Korban Bullying Lapor ke KPAID Jogja, Desak Kepsek dan Wali Kelas Dipecat

"Kagetnya saat itu, korban ini ternyata direndam di aliran sungai dan posisinya hanya terlihat kepalanya saja. Saat kejadian itu hujan, korban segera diselamatkan ibunya saat berada di aliran sungai itu," ulasnya.

Sontak ibu korban kaget dan marah, lanjutnya, karena mengetahui jika anak laki-lakinya itu tampak lemah dan lemas akibat mengkonsumsi pil koplo.

"Setahu ibunya, korban itu dicekoi pil koplo oleh teman-temannya. Pil koplo itu dicampur di minumannya. Saat itu banyak anak-anak umuran SMP-SMA, sekitar 20 orang. Dari kejadian itu, korban dibawa pulang untuk berganti baju. Karena kondisinya tampak tidak sadar, lemah, dan lemas. Langsung dibawa ke Puskesmas," ulasnya.

Terkait kejadian korban yang diduga mengalami perundungan dan sampai dicekoi pil koplo. Lebih lanjut kata TK, berawal dari informasi pengakuan salah satu teman korban.

"Sebelumnya dia (korban) sempet minta uang ke saudara ayahnya. Ayahnya ini kan sudah meninggal, korban ini anak yatim. Saat itu diberi uang, untuk beli es itu. Kalau yang ngasih obat (pil koplo) ke minumannya itu, gak ngerti teman yang mana," jelasnya.

Terkait kapan pil koplo tersebut sampai dikonsumsi korban. Menurut TK, dari pengakuan salah satu teman korban. Dilakukan saat korban pergi ke kamar mandi pemandian tempat korban berenang dengan teman-temannya.

"Saat pergi ke kamar mandi itu, minuman itu dicampur dengan pil koplo katanya. Kemudian korban tidak sadarkan diri. Setelah gak sadar itu, korban dibawa ke lapangan belakang SD, katanya di lapangan itu korban diinjak-injak, niatnya supaya sadar. Tapi anaknya sudah tidak kuat, sudah tidak berdaya," jelasnya.

Selanjutnya korban dibawa ke Kecamatan Tanggul oleh teman-temannya, lebih lanjut kata TK, korban kemudian dibawa ke saluran irigasi yang terdapat aliran mirip air terjun.

Baca Juga: Ini Langkah Ridwan Kamil untuk Atasi Bullying di Sekolah jikaTerpilih Jadi Gubernur DKI Jakarta

"Di sana lokasi kejadian awal korban di tenggelamkan di air agar sadar. Karena tidak sadar, korban dibawa ke sekitar Lapangan Pondok Rampal, untuk diinjak-injak oleh teman-temannya. Masih belum sadar, korban kemudian dibawa ke aliran sungai dekat rumahnya untuk ditenggelamkan lagi sampai ketemu ibunya," ujar TK menjelaskan.

Lebih lanjut kata TK, terkait kejadian ini. Ibu korban bersama keluarganya membuat laporan polisi ke Mapolsek Semboro.

"Laporan polisi itu dilakukan, setelah hari Minggu kemarin korban baru sadar sekitar pukul 3 subuh. Keluarga ke Polsek Semboro sekitar sore harinya," ucap TK.

"Dari pihak keluarga pelaku (ada yang menemui) minta damai. Cuma pihak keluarga itu nggak mau, soalnya ini kan urusan nyawa, terus anak itu kan sendirian dikeroyok. Apalagi waktu ditemukan, kondisi korban menggigil, nafasnya susah. Bahkan di Puskesmas itu, harus di bantu dengan oksigen," imbuhnya.

Baca Juga: Kasus Viral Bullying Siswa di Binus Simprug Sudah Naik Sidik

Menanggapi kejadian ini, Kapolsek Semboro Iptu Andrias Suryo Rubedo mengatakan masih melakukan penyelidikan.

"Sementara ini kita belum bisa mengambil kesimpulan, namun hasil olah TKP di lapangan dan keterangan saksi-saksi, itu masih baru asumsi. Fakta sebenarnya, korban ini masih belum ingat apa yang dialaminya," kata Andrias.

Dari keterangan sejumlah saksi terkait kejadian tersebut. Korban bermaksud ditolong oleh teman-temannya.

"Tapi caranya yang menempelkan kaki di perutnya, tidak menggunakan tangan. Tampak sesuatu yang tidak layak. Sehingga masih kami lidik,"ujarnya.

"Korban saat ini ada dirumahnya, bisa diajak komunikasi. Kami masih lidik, terkait kejadian yang dialami," imbuhnya.


Banner Z Creators.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU