Rabu, 19 JUNI 2024 • 19:45 WIB

Pedih, Warga Gaza Kini Hidup Berdampingan dengan Sampah dan Hewan Pengerat

Author

Di seluruh Jalur Gaza, wilayah yang mengalami perubahan drastis akibat genosida yang dilakukan Israel.

INDOZONE.ID - Di seluruh Jalur Gaza, wilayah yang mengalami perubahan drastis akibat genosida yang dilakukan Israel. Lumpuh dengan hancurnya berbagai fasilitas dan lingkungan yang tidak layak dihuni.

Terlihat tumpukan sampah yang menimbulkan bau busuk amat memprihatinkan karena mampu mengancam kesehatan warga Palestina.

“Kami belum pernah tinggal di dekat sampah sebelumnya,” kata Asmahan al-Masri, seorang perempuan pengungsi, berasal dari Beit Hanoun di utara, yang rumahnya kini menjadi gurun di Khan Younis, sebab dibombardir oleh Israel.

“Saya menangis seperti nenek-nenek lain ketika melihat cucu-cucunya sakit dan menderita kudis. Ini seperti ajang kematian secara melambat. Tidak ada martabat.” Tambahnya.

Baca Juga: Kunjungan Kerja, Jokowi Tinjau Pompanisasi di Desa Krendowahono Karanganyar

Dalam delapan bulan, lebih dari 330.400 ton limbah padat diperkirakan menumpuk di wilayah Palestina, hal ini diutarakan oleh PBB dan badan-badan kemanusiaan yang bekerja di bidang sanitasi.

Enam belas anggota keluarga Masri berbagi tenda di sebuah kamp dekat Universitas al-Aqsa dengan kumpulan lalat dan terkadang ular pun turut mengintai.

Di seluruh Jalur Gaza, wilayah yang mengalami perubahan drastis akibat genosida yang dilakukan Israel.

Tidak hanya itu, Anjing liar pun berkeliaran yang dapat mengancam masyarakat Palestina yang sedang mengungsi. Semua warga turut mengeluhkan bau busuk yang terus menerus.

“Baunya sangat mengganggu. Saya membiarkan pintu tenda saya terbuka agar bisa mendapatkan udara segar, namun tidak ada udara. Hanya bau sampah.” kata Asmahan.

Baca Juga: Terlempar Dari Treadmill, Wanita Muda di Pontianak Jatuh Dari Lantai 3 Berujung Tewas

Lebih dari satu juta orang baru-baru ini melarikan diri dari kota selatan Rafah terpaksa tinggal di daerah terbuka yang telah diubah menjadi tempat pembuangan sampah sementara.

Bukan tanpa sebab, hal tersebut dilakukan untuk menghindari serangan militer Israel yang terus melayangkan bom ke wilayah Rafah.

“Kami mencari tempat yang cocok kemana-mana, namun kami berjumlah 18 orang dengan anak dan cucu kami, dan kami sulit menemukan tempat lain di mana kami dapat tinggal bersama,” tutur Ali Nasser, yang baru-baru ini pindah ke perkemahan Universitas al-Aqsa dari rumahnya di Rafah.

“Perjalanan ke sini menghabiskan biaya lebih dari 1.000 shekel ($268; £212) dan sekarang keuangan kami hancur. Kami tidak mempunyai pekerjaan, tidak mempunyai penghasilan, sehingga kami terpaksa hidup dalam situasi yang mengerikan ini. Kami menderita muntah-muntah, diare, dan kulit selalu gatal.”

Sebelum perang, blokade yang dilakukan Israel dan Mesir selama bertahun-tahun terhadap Gaza, telah memberikan tekanan parah pada layanan dasar, seperti pembuangan limbah.

Sejak serangan mematikan yang dipimpin Hamas pada tanggal 7 Oktober, militer Israel telah memblokir akses ke daerah perbatasan, yang merupakan tempat dua lokasi pembuangan sampah utama di Gaza.

Satu di Juhr al-Dik sebelumnya melayani wilayah utara, dan satu lagi, di al-Fukhari, melayani wilayah tengah dan selatan.

Pembatasan ketat yang Israel lakukan membuat warga Palestina menderita sebab tidak memperbolehkan truk sampah melintas ke wilayah Palestina, kurangnya peralatan untuk memilah dan mendaur ulang sampah rumah tangga.

“Kami melihat krisis pengelolaan sampah di Gaza, dan krisis ini semakin parah dalam beberapa bulan terakhir,” kata Sam Rose, direktur perencanaan badan PBB untuk pengungsi Palestina, Unrwa.

“Genangan besar dengan lumpur abu-abu kecokelatan yang menjadi tempat tinggal orang-orang karena mereka tidak punya pilihan, dan tumpukan sampah. Entah sampah ini dibiarkan begitu saja di luar rumah penduduk atau di beberapa tempat, masyarakat terpaksa pindah ke dekat tempat pembuangan sampah sementara yang telah didirikan,” tutur Rose.

“Orang-orang benar-benar hidup di antara sampah.”tambahnya.

Pengungsian massal telah membuat pemerintah setempat kewalahan dalam menangani fasilitas yang rusak karena pemboman Israel yang sedang berlangsung.

Mereka mengeluhkan kurangnya staf, peralatan, dan truk sampah serta kurang bahan bakar untuk menjalankannya.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone. Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Z Creators

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BBC News

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU