INDOZONE.ID - Kasus tenggelamnya kapal pengangkut pendatang asing tanpa izin (PATI) kembali terjadi di perairan Malaysia. Setelah insiden maut di Perak yang menewaskan belasan warga negara Indonesia, kapal lain yang diduga membawa migran ilegal asal Indonesia dan Bangladesh juga dilaporkan tenggelam di wilayah Selangor.
Badan Penegakan Maritim Malaysia Negeri Selangor menyebut kapal tersebut mengalami kebocoran sebelum akhirnya tenggelam di perairan barat daya Sungai Apong, Sabak Bernam, Selangor, pada Sabtu (16/5/2026).
Direktur Maritim Negeri Selangor Kapten Maritim Abdul Muhaimin bin Muhammad Salleh mengatakan, pihaknya menerima panggilan darurat sekitar pukul 04.45 pagi dari awak kapal yang terdampar.
Setelah menerima laporan, tim penyelamat langsung mengerahkan KM Bagan Datuk dan Kapal Penggalang 41 menuju lokasi kejadian.
“Kapal Penggalang 41 yang tiba di lokasi mendapati kapal tersebut telah tenggelam sepenuhnya sekitar pukul 9.00 pagi. Sebanyak 16 PATI berhasil diselamatkan, sedangkan tiga lagi masih dilaporkan hilang dan usaha pencarian terus dilakukan,” kata Abdul Muhaimin dikutip Senin (18/5/2026).
Baca juga: Perahu Penumpang Tenggelam di Tanimbar Maluku, Empat Orang Tewas
Korban selamat terdiri atas dua warga Bangladesh dan 14 warga Indonesia, yang meliputi delapan pria serta enam perempuan berusia antara 24 hingga 50 tahun.
Sebelum petugas tiba, para korban sempat ditolong kapal nelayan Malaysia yang berada di sekitar lokasi.
Untuk mempercepat pencarian korban hilang, otoritas Malaysia membuka pos operasi di Jeti Kelong Paradise. Operasi penyelamatan melibatkan Maritim Malaysia, Pasukan Polis Marin, dan Jabatan Bomba dan Penyelamat Malaysia dengan area pencarian mencapai 236 mil laut persegi.
Pihak Maritim Malaysia menegaskan akan terus memperkuat pengawasan laut guna mencegah aktivitas ilegal, termasuk penyelundupan migran.
Insiden di Selangor terjadi setelah kecelakaan kapal lain di perairan Pulau Pangkor, Perak, yang membawa warga Indonesia. Dalam peristiwa tersebut, seluruh korban akhirnya berhasil ditemukan setelah operasi pencarian berlangsung selama enam hari.
Kementerian Luar Negeri RI memastikan terus berkoordinasi dengan otoritas Malaysia terkait penanganan korban kapal tenggelam di Perak.
Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang mengatakan, seluruh korban yang ditemukan terdiri atas 23 orang selamat dan 18 meninggal dunia.
“KBRI Kuala Lumpur terus berkoordinasi erat dengan otoritas Malaysia terkait proses identifikasi jenazah dan pendampingan terhadap para korban selamat,” kata Yvonne dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Kemlu RI dan KBRI Kuala Lumpur juga disebut terus memberikan pendampingan kekonsuleran bagi korban maupun keluarga yang terdampak.
Baca juga: Basarnas Palu Kerahkan KN SAR Bhisma Cari Kapal Nazila 05 yang Tenggelam di Perairan Taliabu
Berdasarkan hasil pendataan, para korban selamat berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, di antaranya Aceh, Banten, Kepulauan Riau, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Utara.
Menurut Yvonne, operasi pencarian resmi dihentikan pada Sabtu (16/5/2026) setelah tidak ditemukan lagi korban tambahan.
Ia menjelaskan data awal dari otoritas Malaysia sebelumnya menyebut terdapat 37 penumpang WNI dengan 14 orang hilang. Namun dalam proses pencarian, ditemukan tambahan korban sehingga total korban menjadi 39 orang.
“Kemlu RI menyampaikan apresiasi kepada otoritas SAR dan kepolisian maritim Malaysia atas upaya pencarian dan penanganan para korban dalam kejadian tersebut,” ujar Yvonne.
Sementara itu, Badan Penegakan Maritim Malaysia Negeri Perak menyatakan seluruh jenazah korban telah diserahkan kepada pihak kepolisian, sebelum dibawa ke rumah sakit untuk proses identifikasi dan penyelidikan lebih lanjut.
Otoritas Malaysia menduga para korban merupakan pendatang asing tanpa izin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA