Minggu, 19 APRIL 2026 • 12:30 WIB

Tragedi Helikopter Kalbar, Joko Catur Disemayamkan di Kampung Halaman

Author

Joko Catur Prasetyo Wibowo, Salah Satu Korban Helikopter Jatuh di Kalbar Dimakamkan di Klaten. (Edelweis Ratushima/Z Creators)

INDOZONE.ID  - Salah satu dari 8 korban helikopter jatuh di Kalimantan Barat, Joko Catur Prasetyo Wibowo (45 tahun), sudah dimakamkan di TPU Desa Glodogan, Klaten Selatan, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu malam (18/4/2026).

Kedatangan jenazah disambut isak tangis keluarga dan warga Perumahan Glodogan Indah. Setelah disemayamkan dan disholatkan di rumah duka, jenazah dibawa juga ke Masjid Fajar Indah untuk disholatkan bagi warga lain. Setelah itu, dimakamkan di TPU setempat, jaraknya kurang dari satu kilometer dari rumah duka.

Menurut keterangan kakak korban, Sulistyanto, saat kejadian adiknya bersama 7 orang lainnya, sedang melakukan kunjungan di perkebunan milik PT KPN, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertanian kelapa sawit. Mereka naik helikopter PK-CFX dan jatuh di Sekadau, Kalimantan Barat.

"Saat kejadian, itu sebetulnya kunjungan terakhir yang dilakukan adik saya bersama teman-temannya. Sebelumnya, ada rangkaian kunjungan di beberapa tempat mulai tanggal 12 April," kata Sulistyanto.

Baca juga: Helikopter Jatuh di Kalbar, Seluruh Penumpang Dinyatakan Tewas

Dirinya bekerja satu PT dengan adiknya tersebut. Istilahnya, dirinya bawahannya adiknya yang menjabat sebagai Plantation Head di KPN. Atau yang mengepalai perkebunan di Kalimantan Barat.

"Almarhum Joko Catur ini baru di KPN, sekitar satu tahun. Sebelumnya di PT BGA," jelasnya.

Dalam kesehariannya, Joko Catur Prasetyo Wibowo tinggal di Pontianak bersama istri dan 3 orang anaknya. Anak pertama duduk di bangku SMP, dan dua anak masih di SD. Namun almarhum juga mempunyai rumah di Perumahan Glodogan Indah yang lokasinya di depan rumah ibunya.

Sulistyanto terlihat terus menangis saat menyambut kedatangan jenazah. Dirinya mengenang sosok adiknya sebagai pemimpin yang baik, mengayomi, dan pendiam.

"Almarhum sebagai tulang punggung keluarga, sosok yang suka menolong. Pertama kali dikabari kejadian tersebut, kami semua kaget dan histeris," kata Sulistyanto.

Dirinya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah mengevakuasi semua korban. Sulistyanto menilai, ini proses evakuasi paling cepat yang pernah terjadi di Indonesia dalam kecelakaan pesawat.

"Setelah hilang kontak jam 9, jam 11 Basarnas bergerak, jam 16.00 sudah ditemukan, jam 02.00 dini hari mulai dievakuasi, semuanya lancar dan cepat serta cuaca mendukung," tambah Sulistyanto.

Baca juga: Sempat Hilang Kontak, Helikopter Bawa 4 Penumpang Dipastikan Jatuh di Mimika

Ketua RW setempat, Slamet Riyadi, mengakui hal yang sama. Almarhum ia kenang sebagai sosok yang baik dan penyayang keluarga.

"Sama ibunya luar biasa sayangnya. Juga sama keluarga yang lain. Pulangnya setahun sekali, setiap lebaran," kata Slamet.

Slamet sering diminta almarhum untuk menjemput dan mengantarkan ke bandara bila pulang kampung.

Pertemuan terakhir terjadi pada lebaran 2026 yang lalu. Slamet mengenang, saat perjalanan mengantar balik ke bandara, almarhum titip pesan agar selalu menjaga ibundanya.

"Beliau titip pesan agar saya selalu menjaga ibunya, biasanya tidak pernah berkata begitu," kata Slamet.

Adapun 8 korban lainnya yaitu Charles Dominson Lakidang, Patrick Kee Chuan Peng (WN Malaysia), Victor Tan Keng Liam, Capt Marindra Wibowo (pilot), Harun Arasyd (co-pilot), Fauzi Organta, dan Sugito.

Helikopter PX-CFX milik PT Matthew Air tersebut, jatuh di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat pada Kamis (16/4/2026).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU