Selasa, 17 FEBRUARI 2026 • 17:55 WIB

Grebeg Sudiro 2026, Perayaan Imlek di Kota Solo yang Memadukan Budaya Jawa dengan Tionghoa

Author

Grebeg Sudiro 2026 di Kota Solo (Sandhika Krisna).
INDOZONE.ID - Kota Solo Kembali menggelar Grebeg Sudiro pada Minggu, (15/2/2026). 

Kegiatan ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di Kelurahan Sudiroprajan, Kawasan Pasar Gede, Kota Solo dalam rangka memeriahkan tahun baru imlek 2026.

Grebeg Sudiro adalah salah satu acara karnaval budaya untuk merayakan tahun imlek yang di dalamnya terdapat percampuran budaya lokal Jawa dengan budaya Tionghoa. 

Acara ini digelar dengan kirab budaya mengelilingi Kawasan Pasar Gede dan sekitarnya, yakni melewati Jl. Jenderal Urip Sumoharjo, Jl. Jenderal Sudirman, Jl. Mayor Kusmanto, Jl. Kapten Mulyadi, Jl. R.E Martadinata, Jl. Cut Nyak Dien, Jl. Ir. Juanda, Jalan Urip Sumoharjo, dan finish Kembali di Pasar Gede.

Baca juga: Observatorium Bosscha: Hilal Ramadhan 2026 Dipastikan Tak Terlihat Hari Ini

Grebeg Sudiro tahun ini mengusung tema “Heritage in Harmony”. Hal itu menggambarkan Keindahan keberagaman lintas budaya dalam sebuah perayaan keagamaan.

Keragaman Peserta Menjadi Simbol Kerukunan Perayaan Keagamaan

Peserta diikuti oleh bermacam-macam kalangan, beberapa diantarannya adalah sanggar budaya, seperti sanggar kridho sasono, sanggar tari omah wayang, sanggar tari langit Surakarta, sanggar pesona Nusantara, sanggar pasinaon jawi, dan sanggar lainnya.  

Tak hanya itu, acara ini juga menampilkan keindahan kostum-kostum karnaval dari beberapa komunitas dengan kota yang berbeda beda, seperti komunitas Solo Batik Carnival (SBC) dan Salatiga Carnival Center (SCC), dan penampilan kostum dari individu.

Selain itu, ikut pula aksi barongsai dan liong yang menjadi ciri khas dari perayaan Grebeg Sudiro yang dtampilkan oleh beberapa komunitas di wilayah Solo dan sekitarnya.

Baca juga: Menkeu Purbaya Tawari Lulusan UI Jadi Asisten Pribadi: Gaji Lumayan Gede!

Bahkan, peserta dari luar mancanegara juga turut memeriahkan acara ini, seperti dari negara Pakistan, Tanzania, Timor Leste, Nigeria, Kazakhstan, Malawi, India, Suriah, dan Sudan, Equador, dan Jerman.

Hujan Tak Menyurutkan Semangat Acara

Meskipun di tengah acara diguyur hujan deras, para peserta dalam memeriahkan acara. 

Para peserta tetap melanjutkan dengan semangat tak padam, bukti keragaman budaya harus selalu hidup dalam keadaan apapun. 

Meskipun meneduh, para penonton yang hadir tetap menyaksikan acara hingga pembagian kue keranjang.

Baca juga: Jalur Kebonagung–Gubug Demak Putus Akibat Tanggul Sungai Tuntang Jebol

Pembagian Kue Keranjang Menjadi Akhir Acara

Di akhir acara, ribuan kue keranjang ramai diperebutkan oleh Masyarakat yang hadir. 

Pembagian kue itu menjadi sesi khas yang dinanti-nantikan oleh para penonton, karena Masyarakat secara gratis bebas mengambil kue keranjang. 

Kue itu sebelumnya diarak di atas jodang oleh beberapa komunitas dan RW wilayah sekitar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU