INDOZONE.ID - Kehidupan petani di Desa Ngabab, Kabupaten Malang, Jawa Timur, berubah beberapa waktu belakangan.
Dulu para petani harus berangkat ke lahan dengan perjuangan menembus lumpur, jalan licin, dan medan berat.
Kepala Desa Ngabab, Amin Afandi, mengenang kondisi tersebut sebagai masa yang penuh keterbatasan.
Ia menuturkan akses menuju lahan menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi petani.
“Kalau dulu ke lahan itu bisa hampir satu jam. Sekarang, sepuluh menit sudah sampai,” ujarnya.
Ketika musim hujan, jalan berubah menjadi kubangan.
Baca juga: BMKG Peringkatkan November-Desember Rawan Pembentukan Siklon Tropis di Sejumlah Wilayah Indonesia
Motor mereka sering terjebak, bahkan tak jarang harus ditinggal karena tak bisa bergerak.
Ongkos angkut hasil panen mahal, sementara tenaga sudah terkuras sebelum pekerjaan dimulai.
Kondisi ini membuat bertani terasa berat dan melelahkan.
Kini, Jalan Usaha Tani yang membelah kawasan pertanian mulai mengubah kehidupan petani Desa Ngabab.
Perubahan mulai terasa ketika program pembangunan pertanian berkelanjutan yang diprakarsai Kementerian Pertanian menyentuh Desa Ngabab sekitar tahun 2019. Lewat bagian dari inisiatif itulah Jalan Usaha Tani dibangun.
Baca juga: 2 Helikopter Angkut Bantuan Logistik hingga Alquran ke Aceh Tamiang
Melalui pembangunan Jalan Usaha Tani, pipanisasi, dan infrastruktur pendukung lainnya, akses menuju lahan pertanian menjadi jauh lebih mudah.
Kendaraan dapat langsung masuk ke area tanam, distribusi hasil panen menjadi lebih efisien, dan kebutuhan air pertanian dapat terpenuhi dengan lebih baik.
Bagi masyarakat Ngabab, manfaat program ini tidak hanya diukur dari peningkatan produksi.
Perubahan yang lebih mendalam justru terlihat dari cara pandang warga terhadap profesi petani.
Bertani tidak lagi identik dengan pekerjaan berat dan penuh keterbatasan.
Infrastruktur yang memadai membuat aktivitas pertanian terasa lebih terasa ringan.
Keberlanjutan dampak program ini tidak lepas dari keterlibatan masyarakat sejak awal.
Baca juga: Geger Buaya Besar Muncul di Sawah Kota Bekasi, Damkar Evakuasi
Infrastruktur yang dibangun tidak dipandang sebagai milik proyek semata, melainkan sebagai milik bersama.
Kepala desa menyebut bahwa kesadaran warga untuk merawat infrastruktur tumbuh karena mereka merasakan langsung manfaatnya.
Hingga kini, kondisi Jalan Usaha Tani di Desa Ngabab sebagian besar masih terjaga dengan baik.
“Jalan Usaha Tani di sini hampir 99 persen masih mulus sampai sekarang,” ungkap Amin.
Akses jalan yang lebih baik juga membawa dampak sosial yang signifikan.
Baca juga: Polri Gencar Lakukan Perbaikan Gereja-gereja di Sumut Jelang Natal 2025
Aktivitas menuju lahan menjadi lebih aman dan mudah, sehingga membuka ruang partisipasi yang lebih luas, termasuk bagi perempuan dan generasi muda.
Perlahan, anggapan bahwa bertani adalah pekerjaan yang berat dan tidak menjanjikan mulai bergeser.
Pertanian kembali dipandang sebagai pilihan hidup yang layak dan dekat dengan masa depan.
Secara kasat mata, perubahan juga terlihat dalam kehidupan sosial dan ekonomi desa.
Kondisi rumah warga membaik, aktivitas ekonomi lebih hidup, dan nilai tanah di sekitar kawasan pertanian meningkat seiring dengan membaiknya infrastruktur.
Bagi Kepala Desa Ngabab, kehadiran program pengembangan sistem pertanian terpadu di kawasan dataran tinggi menjadi tonggak penting dalam perjalanan pembangunan desa.
Baca juga: Pastikan Ibadah Aman di Gereja Kelapa Gading, Kapolda Metro Lakukan Peninjauan Langsung
Ia mengakui bahwa tanpa program ini, membangun infrastruktur pertanian dengan kualitas seperti sekarang hampir mustahil dilakukan hanya mengandalkan dana desa.
“Saya jadi kepala desa tiga puluh tahun pun belum tentu bisa membangun Jalan Usaha Tani seperti ini,” ujar Amin lugas.
Program pembangunan pertanian berkelanjutan di Desa Ngabab sendiri rencananya akan berakhir pada 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan