INDOZONE.ID - Hujan yang turun tanpa jeda di dataran tinggi Gayo berubah menjadi bencana besar berupa tanah longsor, dan banjir bandang. Tujuh orang tenaga kesehatan (nakes) Puskesmas Ketapang, beserta 25 orang anggota grup Didong Linge Meriah, harus merasakan betapa dahsyatnya bencana tersebut. Mereka terjebak longsor dan banjir bandang selama empat hari di ruas Jalan Nasional Simpang Simpil–Bintang, Aceh Tengah, pada akhir November 2025.
Ketujuh nakes tersebut masing-masing adalah Meri Juwita Fitri, A.Md.Kes. (staf laboratorium), drg. Istiqomah, M.S. (dokter gigi), Feby Alyanur, A.Md.Gz. (staf gizi), dr. Espi Akhiria Putri (dokter umum), Riswandi, A.Md.Kep. (perawat), Almardiana, A.Md.Keb. (bidan), dan Qurrahmi Hidayani, A.Md.Kep. (perawat).
Mereka berangkat dari Puskesmas Ketapang menuju Kota Takengon pada Rabu pagi, 26 November 2025, sekitar pukul 10.00 WIB, dengan mengendarai sepeda motor lengkap mengenakan jas hujan. Seperti biasa, para nakes memilih jalur Simpang Simpil menuju Bintang karena dianggap lebih dekat. Hujan deras tak menyurutkan niat mereka untuk segera pulang dan bertemu keluarga.
Namun, harapan itu buyar ketika sampai di kawasan Uyem Mude. Badan jalan mulai amblas. Dibantu warga setempat, sepeda motor yang mereka tumpangi terpaksa diangkat satu per satu agar bisa melintas. Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga Simpang Serule. Di titik inilah hujan semakin deras, tanah mulai longsor, dan kayu bertumbangan menutupi badan jalan. Aliran air pun mulai mengamuk.
Baca juga: Pascabanjir dan Longsor, Perbaikan Jaringan Telekomunikasi di Aceh Baru Capai 51 Persen
Hari menjelang senja. Perut mulai lapar dan tubuh menggigil kedinginan. Rasa cemas mulai mengisi ruang pikiran. Ketika malam tiba, situasi semakin mencekam. Listrik padam, jaringan komunikasi terputus. Yang terdengar hanya gemuruh air bercampur hantaman bebatuan serta suara patahan batang pinus.
Isak tangis mulai pecah. Dalam gelap gulita tanpa penerangan, tubuh menggigil kedinginan. Beruntung, pemilik rumah tempat mereka singgah berbaik hati mempersilakan para nakes masuk dan menghangatkan badan di tungku yang telah dinyalakan. Dalam kegalauan, terlintas dalam benak dan pikiran, “Masihkah kami bisa bertemu keluarga esok hari?” cerita Isti, salah seorang dokter dari Puskesmas Ketapang.
Di tengah kepanikan, serombongan grup Didong Linge Meriah yang terdiri dari Bujang Merpati, Gelingan Raya, dan Bujang Tawar Bengi tiba di tempat yang sama. Pemilik warung, Rasidan (40), mempersilakan rombongan Didong menuju loteng rumahnya untuk beristirahat. Malam itu, para nakes, seniman didong, dan beberapa penumpang travel dari Kotacane menuju Banda Aceh ikut berkumpul dan bermalam di sana.
Sementara itu, suasana semakin mencekam. Hujan tak kunjung reda hingga berlanjut ke hari berikutnya. Sungai kecil yang biasanya aman berubah menjadi monster ganas. Malam hari, tidur tak pernah pulas, dan sebagian memilih menghidupkan perapian.
Memasuki hari kedua, sejumlah pengungsi dari Desa Atu Payung tiba dengan menerobos hutan untuk menghindari tanah longsor. Kehadiran mereka membawa kabar duka tentang desa yang dihantam banjir bandang disertai korban jiwa. Mereka datang bersama keluarga, orang tua, perempuan, dan seorang bayi yang menggigil basah kedinginan.
Di sinilah naluri pengabdian para nakes diuji. Bayi yang kedinginan dan mulai membiru segera ditangani dengan segala keterbatasan. Di tengah bencana, nilai kemanusiaan tetap harus menyala.
Pada Jumat pagi, 28 November 2025, hujan mulai reda. Secercah harapan pun muncul. Hamdani (50), ketua rombongan sekaligus anggota Persatuan Wartawan Bener Meriah selaku orang yang dituakan, mengarahkan rombongan agar dapat keluar dari Simpang 27 Serule menuju Bintang.
Perjalanan dimulai dengan membuka jalur darurat, menyeberangi sungai bekas banjir bandang, kemudian mendaki gunung dan melewati hutan. Banyak timbunan tanah bekas longsor yang memutuskan jalan. Namun rombongan tetap kuat, saling berpegangan dan saling menguatkan satu sama lain.
Sepanjang perjalanan, telapak kaki terasa perih seperti tercabik-cabik. Terkadang tubuh terperosok dalam kubangan lumpur dan jatuh bangun akibat tanah licin. Beruntung, sepanjang perjalanan penuh tantangan itu tidak ada anggota rombongan yang cedera. Rasa lapar hanya bisa ditahan dengan mengonsumsi mi instan serta air sungai yang mengalir keruh.
Perjalanan jauh tersebut cukup menyita waktu. Berjalan sejauh 27 kilometer ditempuh dengan berjalan kaki selama 12 jam. Rasa lelah dan takut terus menghantui jiwa dan pikiran. Namun ada satu tekad yang harus diraih, “Kami harus tiba di Kampung Bintang.”
Suka duka perjalanan terasa mengerikan. Terkadang terjebak lumpur, tanah kembali turun, sehingga dengan sisa tenaga yang ada, rombongan harus menghindar agar tidak tertimbun material longsor. Bongkahan kayu, cadas bebatuan, serta duri-duri menyertai perjalanan yang menyedihkan.
Menjelang tengah hari, rombongan tiba di Kampung Konyel, kampung yang dihantam banjir bandang hingga menghanyutkan sekitar 25 unit rumah penduduk. Saat tiba, para korban telah mengungsi di masjid setempat.
Baca juga: Kekurangan Alat Berat, Pemerintah Aceh Utara Kesulitan Buka Akses Jalan Pascabanjir dan Longsor
Menjelang pukul 17.00 WIB, rombongan pertama tiba di Desa Dedamar Bintang. Sambutan hangat warga setempat menjadi pelipur lara yang membangkitkan kembali semangat hidup. Secercah harapan pun kembali tumbuh. Selanjutnya, sekitar pukul 20.30 WIB, rombongan kedua tiba di Desa Dedamar Bintang, yang juga terdampak bencana tanah longsor.
Keesokan harinya, Sabtu, 29 November 2025, sekitar pukul 09.00 WIB, aparatur desa setempat melakukan evakuasi dan mengantar rombongan ke Dermaga Pante Menye. Dengan perasaan gembira setelah terlepas dari kejamnya bencana, rombongan nakes Puskesmas Ketapang bersama grup Didong Linge Meriah diberangkatkan menuju Kota Takengon.
Pemerintah Kabupaten Bener Meriah juga tidak tinggal diam dan langsung mengirimkan satu unit perahu berkapasitas 25 orang untuk mengevakuasi warganya yang terjebak longsor.
Butuh waktu tiga jam mengarungi Danau Laut Tawar untuk tiba di dermaga Kota Takengon. Hal ini disebabkan banyaknya batang kayu yang mengapung di danau. Air danau pun berubah keruh akibat banyaknya titik longsor di sejumlah desa sekitar danau.
Perjalanan malam itu meninggalkan jejak yang dalam. Tubuh boleh terluka, kaki boleh melepuh, tetapi keyakinan hanya satu: kami harus tiba di rumah dan berkumpul bersama keluarga. Dalam keyakinan diri, kami percaya mungkin beginilah cara Allah mengingatkan kita semua untuk kembali mengintrospeksi diri. Wallahu a’lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan