Senin, 01 DESEMBER 2025 • 15:30 WIB

Wamendiktisaintek Stella Christie Serukan Kesetaraan Ilmuwan Perempuan di FWIS 2025

Author

Prof. Stella Christie, Ph.D (Sumber: UNESCO)

INDOZONE.ID - Kontribusi perempuan di dunia sains Indonesia semakin terlihat kuat. Tahun ini, empat peneliti perempuan menerima apresiasi nasional atas riset yang dinilai membawa dampak bagi masyarakat. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknologi kesehatan, energi, hingga pengelolaan lingkungan.

Salah satu penerimanya adalah Dr. rer. nat. Lutviasari Nuraini, peneliti dari Pusat Riset Metalurgi BRIN. Ia meneliti pengembangan material implan tulang berbasis magnesium sebagai alternatif yang dapat terurai di dalam tubuh. Ia menjelaskan bahwa material implan yang tersedia saat ini, seperti titanium dan stainless steel, tidak biodegradable sehingga memerlukan operasi lanjutan. “Kami ingin menghadirkan material yang bisa menyatu dengan tubuh dan terurai secara alami,” katanya dalam pemaparannya.

Lutviasari menuturkan bahwa magnesium dipilih karena memiliki sifat mekanik yang mirip tulang dan aman bagi tubuh. Tantangannya terletak pada laju degradasi yang terlalu cepat serta produksi gas hidrogen berlebih yang bisa memicu pembengkakan. Untuk mengatasi hal tersebut, ia menambahkan unsur zinc dan logam tanah jarang agar material lebih stabil serta mampu memperpanjang masa pakai implan tanpa efek samping. Penelitian ini dilakukan melalui proses pengecoran logam, perlakuan panas, uji kekuatan mekanik, hingga simulasi degradasi dalam media yang menyerupai plasma darah.

Baca juga: Budaya Sehat Jamu Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO

Ia berharap riset ini dapat mendukung kemandirian Indonesia dalam produksi alat kesehatan. “Penelitian ini bukan hanya tentang logam, tetapi tentang kemandirian bangsa,” ujarnya. “Saya percaya, peneliti perempuan Indonesia mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.”

Inovasi Peneliti Perempuan di Bidang Biologi hingga Lingkungan

L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) (Sumber: UNESCO)

Selain penelitian Lutviasari, tiga peneliti perempuan lain juga menunjukkan karya yang tidak kalah penting. Mereka mengembangkan inovasi di bidang biologi, rekayasa bahan, hingga teknologi pengolahan limbah. Arah riset yang mereka lakukan memberikan gambaran bagaimana ilmu pengetahuan dapat menyelesaikan masalah nyata, mulai dari kesehatan, krisis pangan, hingga lingkungan.

Ketua Dewan Juri FWIS Indonesia 2025, Prof. dr. Herawati Sudoyo, menyampaikan bahwa kualitas proposal penelitian tahun ini menunjukkan keberanian dan konsistensi perempuan dalam bidang sains. “FWIS bukan sekadar penghargaan, tetapi simbol dukungan, kesempatan, dan harapan,” tuturnya.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, juga menegaskan pentingnya representasi perempuan dalam lingkungan sains Indonesia. Ia menekankan bahwa kemampuan perempuan dalam sains dan matematika setara dengan laki-laki. “Bias tidak hilang begitu saja dengan AI, justru bisa bertambah jika kita tidak hati-hati. Karena itu, kita perlu intervensi nyata, regulasi yang bijak, dan lebih banyak role model perempuan dalam sains,” ujarnya.

Penghargaan yang mereka terima memberi ruang bagi penelitian untuk terus berkembang melalui pendanaan riset, kolaborasi, dan akses jejaring ilmiah. Melalui kesempatan ini, keempat peneliti diharapkan dapat memperluas dampak penelitiannya untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Baca juga: Profil Stella Christie, Ilmuwan Bidang Cognitive Science Yang Dicalonkan Sebagai Menteri Dalam Kabinet Pemerintahan Prabowo-Gibran

Dukungan Para Peneliti Perempuan

Tahun ini, terdapat hampir 150 peneliti perempuan yang mendaftar, jumlah tertinggi dalam lima tahun terakhir. Lebih dari 70 persen di antaranya merupakan peneliti muda berusia di bawah 40 tahun. Angka ini menjadi sinyal bahwa generasi baru ilmuwan perempuan sedang tumbuh, semakin percaya diri, dan siap mengambil peran lebih besar dalam dunia riset.

Program L’Oréal - UNESCO For Women in Science (FWIS) menjadi bagian dari perjalanan tersebut, bukan sekadar penghargaan, tetapi jembatan untuk penelitian yang memiliki dampak jangka panjang. Sejak program ini berjalan di Indonesia, sebanyak 79 perempuan telah mendapat dukungan riset yang kemudian menciptakan multiplier effect bagi ekosistem sains nasional.

Upaya ini sejalan dengan laporan UNESCO yang menyebutkan bahwa 43,5 persen peneliti di Indonesia adalah perempuan. Meskipun pencapaian tersebut cukup tinggi, dukungan berkelanjutan tetap dibutuhkan agar lebih banyak peneliti perempuan dapat berperan dalam inovasi yang relevan bagi masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: UNESCO

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU