Cerita Dokter Lakukan Amputasi di Bawah Reruntuhan Ponpes Al Khoziny Demi Selamatkan Korban
INDOZONE.ID - Tragedi ambruknya bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Sidoarjo, menyisakan kisah dramatis penyelamatan nyawa di tengah reruntuhan.
Seorang dokter ortopedi melakukan amputasi darurat di lokasi untuk menyelamatkan korban yang terjepit beton dan berisiko kehilangan nyawa.
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, dr. Larona Hydravianto, menjadi salah satu sosok kunci di balik penyelamatan Nur Ahmad, korban reruntuhan Ponpes Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, pada Senin malam (29/9/2025).
Ahmad ditemukan masih hidup, namun lengannya terjepit di bawah beton tebal. Untuk mencapai posisinya, dr. Larona harus merangkak sejauh 10 meter ke dalam puing bangunan.
Bersama dokter anestesi dr. Farouq Abdurrahman, dokter TNI, dan PPDS ortopedi dr. Aaron Franklyn, mereka menghadapi keputusan sulit — antara menunggu evakuasi atau mengambil risiko melakukan amputasi langsung di lokasi.
“Jadi saya merangkak sampai ke dalam itu kira-kira sampai ke tempatnya sekitar 10 meteran di bawah reruntuhan. Saya lihat dia juga masih hidup, saya cek nadi dan sebagainya, masih hidup, komunikasi tidak,” ujar dr. Larona Hydravianto, dikutip dari Garuda TV, Minggu (5/10).
Ia menjelaskan bahwa amputasi dilakukan setinggi siku di lokasi kejadian. Prosedur itu berlangsung sekitar 20 menit di bawah tekanan tinggi dan kondisi ekstrem.
“Sekitar 20 menit sudah terpotong, sambil pasien sedikit kita tarik karena memang sikunya itu sangat susah dimobilis,” tambahnya.
Baca juga: 91 Korban Disinyalir Masih Tertimbun Bangunan Pondok Pesantren Sidoarjo yang Ambruk
Pilihan Sulit
Menurut dr. Farouq Abdurrahman, tim medis dihadapkan pada dua pilihan berat: menunggu beton diangkat atau segera melakukan pemotongan.
“Sepertinya tidak memungkinkan untuk yang opsi pertama, karena risikonya pasien kehilangan darah lebih banyak lagi, oksigen menipis, sehingga pasien bisa hipoksia yang berujung fatal,” ujarnya.
Keputusan cepat pun diambil. Amputasi darurat dilakukan di lokasi demi menyelamatkan nyawa Ahmad, meski sempat menuai keberatan dari pihak keluarga. Setelah proses selesai, korban berhasil dievakuasi dan dibawa ke RSUD R.T. Notopuro untuk perawatan lanjutan.
Basarnas: 39 Korban Meninggal
Sementara itu, proses evakuasi di lokasi Ponpes Al Khoziny masih terus berlangsung. Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, melaporkan bahwa hingga Minggu (5/10), total korban yang berhasil dievakuasi mencapai 143 orang, dengan 39 di antaranya meninggal dunia.
“Dua korban berhasil dievakuasi. Satu bagian tubuh dan satu jenazah berhasil diangkat dari sektor A3,” kata Nanang dilansir Antara.
Ia menambahkan, sejak Sabtu (4/10) siang, tim berhasil mengangkat 23 jenazah hanya dalam 24 jam. Jika proses berjalan lancar, evakuasi diperkirakan selesai pada Senin (6/10) siang.
Namun, Nanang menegaskan bahwa angka korban belum bisa dipastikan sepenuhnya karena masih ada 23 korban yang dilaporkan belum ditemukan. Hingga kini, pengangkatan puing-puing mencapai sekitar 75 persen, menyisakan area di sektor A2 dan A1.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara, Garuda TV