Mimbar masji Al-Aqsha di Jerusalem. (Instagram/HabibNeta)
Kisah lima orang pria pengukir kayu asal Jepara terlibat dalam pembuatan mimbar masjid Al-aqsa, membuka mata publik betapa tingginya kearifan dan talenta orang-orang Indonesia di mata dunia.
Satu orang yang merasakan dan melihat langsung betapa hebatnya talenta orang Jepara, wartawan senior Neta S Pane saat mengunjungi langsung Jerusalem.
"Di Aqsa awak menemukan mimbar tempat qatib khotbah ternyata dipesan dari Jepara. Berbagai mebel ukiran Jepara ini sempat awak temukan juga saat mengunjungi Istana Musim Dingin Tsar Rusia di Stpetersburg," tulis Neta S Pane melalui akun Instagramnya seperti yang dikutip Indozone, Rabu (24/3/2021).
Dalam perjalanan keliling Israel, Neta yang kini sebagai Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) mengungkapkan saat mengunjungi negara itu tentunya tak melupakan menjelajahi Yerusalem, wabil khusus Majidil Aqsa.
Kebetulan dia menginap tak jauh dari Aqsa, hanya 400 meter. Sehingga selama di Yerusalem awak bisa bolak balik ke Aqsa dan menjelajahi Aqsa.
"Untuk melihat jejak jejak Rasulallah Muhammad SAW saat melakukan perjalanan Isra Miraj. Melihat batu pijakan Rasulallah saat menuju ke langit ke tujuh atau melihat jejak pendaratan Buraq saat tiba dari Makkah. Awak juga sempat sholat Jumat di Aqsa," sebutnya.
Dalam sebuah seminar yang membahas tentang masjid Al-Aqsha di Jakarta beberapa waktu yang lalu, seorang narasumber asal Palestina pernah mengemukakan bahwa dalam proses replikasi mimbar Nuruddin Zanki dalam masjid Al-Aqsha yang dibakar Israel tahun 1969, ternyata melibatkan lima orang pengukir kayu dari Jepara, Indonesia.
Seperti yang dikutip dalam situs adararelief.com, Adara Relief International sebagai LSM yang peduli pada urusan Palestina langsung mencari tahu keberadaan warga Jepara yang terlibat dalam proses replikasi yang membutuhkan waktu selama empat tahun tersebut (2003-2007).
Hingga pada Selasa 13 Juni 2017, Adara berhasil menemui tiga dari lima orang yang terlibat. Mereka adalah Abdul Mutholib (47), Zaenal Arifin (42) dan Ali Ridho (65), warga Desa Tegal Sambi, kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Dua yang lainnya adalah Sarmidi (53) dan Mustafid Dinul Azis (39).
“Merupakan kebahagiaan bagi kami disini menerima kehadiran pengurus Adara. Ini adalah apresiasi pertama yang kami terima dari sesama masyarakat Indonesia,” ucap haru Zaenal Arifin.
“Dalam proses pembuatan replikasi mimbar di Jordan selama empat tahun, kami ditengok oleh para wakil pemerintahan negara-negara yang terlibat dalam proses. Ada dari Turki, Jordan dan Aljazair. Kami selalu ditanya oleh teman-teman dari dua negara itu dengan pertanyaan yang tidak bisa kami jawab, mana wakil pemerintah Indonesia?,” kisah bapak tiga anak ini mewakili dua rekannya.
Abdul Mutholib adalah pengukir yang berkesempatan memasang potongan-potongan ukiran langsung di Masjid Al-Aqsha.
Selama sepuluh hari, bapak dua anak ini tinggal di lingkungan masjid ketiga yang dianjurkan Nabi Muhammad untuk menjadi salah satu tempat yang harus dikunjungi setelah masjid Al-Haram di Mekah dan masjid Nabawi di Madinah.
“Saya sangat senang dan bangga bisa terlibat dalam proses replikasi mimbar Nuruddin Zanki ini, yang membuat saya bisa langsung mendatangi dan salat di masjid Al-Aqsha,” tutur pria yang biasa dipanggil Tholib ini.
Menurutnya ada kisah yang sedikit mendebarkan ketika mereka ditahan di perbatasan Jordan-Israel. Semua potongan-potongan ukiran yang berjumlah 16.300 keping yang terbungkus rapi masing-masing dalam kertas anti api dan diangkut dengan menggunakan enam mobil pick-up, dibongkar satu persatu untuk alasan keamanan.
Jadi, sebelum dibungkus dan diangkut, pihak Israel sudah ikut mengawal sejak di Jordan dengan memfoto satu persatu kepingan ukiran dan kembali membongkarnya di perbatasan untuk mencocokkan kesamaan kepingan yang di Jordan dengan yang ada di perbatasan.
"Bisa dibayangkan betapa melelahkan dan merepotkan serta mendebarkan bagi kami proses tersebut,” ujar ayah dua anak ini.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula Kepala Desa Tegal Sambi, Agus Santoso. Dalam sambutannya, Agus menyatakan baru tahu juga bahwa ada warganya yang pernah terlibat dalam peristiwa bersejarah di Masjid Al-Aqsha.
“Saya sebagai aparat pemerintah merasa bangga. Saya akan mengusahakan untuk membawa dan memperkenalkan empat warga saya ke Bupati Jepara. Semoga juga bisa diupayakan untuk bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah,” janji Agus Santoso.
Di kesempatan yang sama, Ketua Adara Relief International, Hj. Nurjanah Hulwani, S.Ag, M.E, menyatakan kebanggaan dan keharuannya bisa bersilaturahim dengan tiga warga Jepara yang membuatnya makin bersemangat untuk peduli Palestina dan masjid Al-Aqsha.
“Ini adalah pertemuan yang membahagiakan sekaligus mengharukan bagi saya karena Bapak-bapak ini sudah kami cari sejak lama. Berkat pertolongan Allah, kami bisa bersilaturahim dan mengambil inspirasinya. Semoga kita umat Islam bisa segera salat di masjid Al-Aqsha dalam kondisi Palestina merdeka seutuhnya. Disini Adara memberikan tanda kasih untuk lima warga Jepara yang membanggakan ini,” ucap Nurjanah.
Selanjutnya Nurjanah menambahkan, setelah pertemuan ini, Adara akan menyebarluaskan kabar gembira ini kepada masyarakat Indonesia atas kerja mulia yang telah ditunaikan putera-putera Jepara dalam ketelibatannya membuat mimbar Al-Aqsha yang membutuhkan waktu pengerjaan empat tahun di Jordan dan 10 hari merangkainya di masjid Al-Aqsha.
“Semoga kerja mulia yang sudah diawali Pak Tholib dan kawan-kawan akan dilanjutkan masyarakat Indonesia dalam bentuk doa dan donasi,” tambah Nurjanah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: