Tumpukan batang kayu menumpuk di Aceh Tamian usai banjir. (ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso)
INDOZONE.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur melaporkan bahwa banjir yang terjadi sejak Rabu (26/11/2025) menyebabkan kerusakan pada 10.715 rumah dan fasilitas umum, serta membuat 1.200 warga mengalami luka ringan maupun berat.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Timur Afifullah menyampaikan, pendataan masih berlangsung dan angka tersebut merupakan data sementara yang dapat berubah sesuai temuan di lapangan.
“Berdasarkan informasi terkini bencana banjir di Aceh Timur, sebanyak 10.715 rumah dan fasilitas umum rusak dan sebanyak 1.200 warga mengalami luka-luka,” ujar Afifullah, Minggu (7/12/2025).
Menurut laporan terkini, 47 orang meninggal dunia, 894 warga mengalami luka ringan, dan 306 warga mengalami luka berat. Para korban yang terluka dirawat melalui pos medis darurat maupun fasilitas kesehatan yang masih beroperasi.
Dari total bangunan yang terdampak, 3.823 unit mengalami rusak berat, 3.316 rusak sedang, dan 3.576 rusak ringan.
Baca juga: Update Korban Banjir dan Longsor di Sumatra: 883 Orang Tewas dan 520 Jiwa Masih hilang!
Kerusakan tersebut mencakup rumah warga, rumah ibadah, sekolah, meunasah, jembatan, dermaga, hingga fasilitas publik lainnya.
“Kerusakan infrastruktur juga menyebabkan lumpuhnya aktivitas perekonomian, pendidikan, serta pelayanan masyarakat di sejumlah wilayah terdampak bencana,” kata Afifullah.
Banjir turut melanda 413 desa di 24 kecamatan dengan ketinggian air mulai dari 10 sentimeter hingga tiga meter. Sejumlah wilayah masih terisolir akibat jembatan putus, longsor, dan akses jalan yang belum dapat dilalui.
Total warga terdampak mencapai 235.127 jiwa dari 55.483 keluarga. Dari jumlah tersebut sebanyak 204.867 jiwa (47.094 keluarga) mengungsi, sementara 33.752 jiwa (8.543 keluarga) lainnya tidak mengungsi
Baca juga: Kemendagri Tanggapi soal Bupati Aceh Selatan Bepergian ke Luar Negeri di Tengah Bencana
Saat ini terdapat 820 titik pengungsian yang tersebar di meunasah, sekolah, gedung publik, ataupun rumah warga yang masih memungkinkan digunakan sebagai tempat berlindung.
Afifullah menyebut penanganan darurat terkendala oleh kondisi infrastruktur, logistik, dan jaringan komunikasi. Banyak wilayah mengalami listrik padam, keterbatasan bahan bakar untuk operasional transportasi, akses jalan terputus total, kekurangan perahu karet, serta jaringan komunikasi terputus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA