Ilustrasi bendera merah putih. (Freepik/garakta_studio)
INDOZONE.ID - Sejak proklamasi 17 Agustus 1945, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di meja perundingan.
Diplomasi menjadi senjata tak kasat mata yang menghubungkan visi kemerdekaan dengan dukungan internasional, memperkuat kedaulatan, dan membuka jalan bagi kemajuan bangsa.
Kini, setelah hampir delapan dekade, diplomasi Indonesia telah berkembang menjadi instrumen strategis yang mampu menjangkau tiga dimensi sekaligus, yakni menjaga kedaulatan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan membangun citra positif di mata dunia.
Dalam peringatan Hari Kemerdekaan ini, kita melihat kembali jejak-jejak keberhasilan diplomasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Perjalanan diplomasi Indonesia bermula dari masa-masa penuh ketegangan pasca-proklamasi. Perundingan Linggarjati (1946–1947) menjadi salah satu titik krusial.
Baca juga: Perkuat Diplomasi Budaya, Thailand dan Indonesia Resmikan Paviliun dan Petway di Curug Dago Bandung
Meskipun terbatas, hasilnya mengakui kedaulatan de facto Indonesia atas Jawa, Madura, dan Sumatera (DPR RI).
Langkah itu diikuti perjuangan di panggung PBB, dengan delegasi Indonesia memainkan diplomasi opini publik internasional. Publikasi Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi bukti bahwa Indonesia masih berdiri tegak, menarik simpati dunia.
Puncaknya adalah pengakuan kedaulatan de jure pada Konferensi Meja Bundar 1949, yang menempatkan Indonesia sebagai negara merdeka yang sah di mata hukum internasional.
Seiring waktu, diplomasi Indonesia tidak lagi sebatas mempertahankan kedaulatan, tetapi juga menggerakkan mesin ekonomi. Bergabungnya Indonesia ke G20 sejak 1999, dan menjadi tuan rumah KTT G20 Bali 2022, memberi ruang bagi Indonesia untuk menyuarakan kepentingan negara berkembang di forum ekonomi global.
Ada beberapa hal yang tampak jelas sebagai pencapaian Indonesia dalam diplomasi ekonomi yang dilakukan. Keberhasilan ini memberi dampak baik langsung atau tidak langsung, pada kesejahteraan rakyat.
Di antara contohnya adalah nilai ekspor 2023 yang mencapai US$ 258,82 miliar, dengan surplus perdagangan US$ 36,93 miliar
Selain itu, investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) dari China & Hong Kong naik menjadi US$ 8,2 miliar pada semester pertama 2025, diiringi pertumbuhan ekonomi 5,12 %.
Keberhasilan diplomasi ekonomi juga tercermin dari penandatanganan Free Trade Agreement (FTA) dengan Peru pada Agustus 2025, yang membuka akses pasar Amerika Latin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal