INDOZONE.ID - Kasus keracunan masal diduga akibat menu makan bergizi gratis (MBG) yang terjadi di Bandung, Jawa Barat, semakin membuat program MBG dilema.
Masyarakat terpecah, ada yang menolak dan ada pula yang mendukung program tersebut tetap berjalan.
Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas di Kabupaten Bandung Barat jadi dua lokasi titik keracunan MBG pada dua hari terakhir di penghujung bulan September 2025.
Kendati demikian, dari luasnya wilayah di Kabupaten Bandung Barat, tak bisa dipungkiri hanya dua wilayah yang mengalami keracunan.
Baca juga: 16 Siswa SD Ngaku Mual Setelah Santap MBG, Besok Tim Polda Jatim Datang ke Jember
MBG di 14 Kecamatan di Bandung Barat tidak mengalami masalah, berbeda dengan dua lainnya.
Pasca adanya peristiwa keracunan massal hingga membuat polisi turun tangan menjadi polemik.
Banyak pihak yang mencaci bahkan menolak program itu tetap dilanjutkan. Namun, ada pula masyarakat atau penerima manfaat yang menginginkan program ini tetap dilanjutkan.
Seorang penjaga sekolah di SD Negeri yang berada tepat di tepi Jalan Raya Cimareme, Bandung Barat bernama Zainudin mengatakan sejauh ini tidak ada siswa di sekolah tersebut yang keracunan usai menyantap MBG.
"Alhamdulillah selama ini aman, nggak ada murid yang mengeluh atau sakit setelah makan," ujarnya.
Siti, orang tua salah satu murid kelas 4 mengaku was-was atas munculnya berita keracunan massal siswa usai menyantap MBG.
Meski ada kekhawatiran akibat berita keracunan, dia yakin pihak guru di sekolahnya turun tangan mengawasi makanan tersebut.
"Kalau dengar dari berita ya khawatir (keracunan), tapi guru-guru di SD Negeri 2 Cimareme selalu cek makanan itu satu satu. Jadi sebelum dikasih ke murid, dicoba dulu sama gurunya. Kalau ada yang basi, ya nggak dikasih ke murid. Itu yang membuat saya yakin makanan untuk anak saya aman," jelas Ibu Siti.
MBG buat Siti cukup membantu keluarganya. Pasalnya, dia tidak perlu menyiapkan bekal atau memberi uang saku untuk makan anak.
Senada dengan Siti, Linda orang tua siswa kelas 2 SDN 2 Cimareme bahkan menyebut MBG ini sangat membantu keluarganya.
"Adanya program MBG jadi tidak memberatkan beban keluarga untuk makan anak di sekolah. Sangat membantu. Kalau mau diteruskan, kumaha pemerintah wae. Saya mengikuti saja,” kata Linda.
Baca juga: Dapur MBG di Baubau Belum Bersertifikat, Kasus Keracunan Massal Jadi Sorotan
Dinilai Harus Ada Perbaikan
Sementara itu, Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Pasundan Bandung, Eki Baehaki menilai tidak boleh ada yang meragukan urgensi MBG.
Pasalnya, Indonesia tengah menghadapi masalah serius dari stunting, anemia hingga malnutrisi kronis yang menggerogoti kualitas generasi muda.
"Sepiring makan bergizi gratis di sekolah adalah intervensi negara yang sangat dibutuhkan namun, niat mulia bisa runtuh oleh tata kelola yang rapuh. Program MBG harus terus dilanjutkan tetapi dengan perbaikan tata kelola yang radikal," kata Eki Baehaki.
Dengan adanya insiden keracunan massal yang berulang, diniai menjadi tanda lampu merah.
"Program MBG adalah investasi besar, tetapi tanpa tata kelola yang disiplin, investasi itu justru bisa menghasilkan kerugian kesehatan, hilangnya kepercayaan publik dan kegagalan politik. Walau bagaimanapun agar program MBG harus tetap jalan maka harus ada jalan selamat bagi revitalisasi program MBG itu sendiri," pungkas Eki Baehaki.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan