Sabtu, 06 SEPTEMBER 2025 • 16:02 WIB

Penipuan Berkedok Pengiriman: Ancaman Nyata yang Terus Mengintai, Pesohor Pun Bisa Jadi Korban

Author

Ilustrasi penipuan phising berkedok pengiriman barang. (Youtube)

INDOZONE.ID - Ada ungkapan yang sering ditemukan saat berbicara tentang kejahatan dan penegakkan hukum di mana pun di seluruh dunia. Ungkapan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah bahwa “kejahatan atau pelaku kejahatan selalu selangkah lebih maju dari penegak hukum”.

Ternyata hal itu bukan hanya hiperbola, tetapi refleksi nyata dari sejumlah kondisi yang ada. Teknik, alat, dan kecepatan inovasi pelaku kejahatan sudah lebih dulu melaju dibandingkan kemampuan adaptasi penegak hukum.

Menurut Persatuan Jaksa Indonesia yang dikutip dari laman PJI Kejaksaan, menyebutkan bahwa perkembangan teknologi informasi yang pesat sering disalahgunakan sebagai alat kejahatan, sehingga aparat sering ketinggalan dan dalam menyelidik dan menindak. 

Apalagi bila aparat atau bahkan masyarakat tak mau beradaptasi dengan teknologi dan kurang edukasi dalam kejahatan digital. Perkembangan teknologi yang cepat, dimanfaatkan pelaku untuk simpelnya melakukan kejahatan digital. Modus baru yang tak diprediksi, seperti penipuan digital atau cybercrime canggih, memakan waktu adaptasi aparat.

Baca juga: Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Dipolisikan Atas Dugaan Penipuan Haji, Korban Rugi Rp800 Juta

Penipuan melalui jasa pengiriman

Salah satu kejahatan digital yang tak kalah bikin heboh adalah penipuan melalui jasa layanan pengiriman barang. Para pelaku kejahatan dengan licik bisa mengakali aplikasi, situs atau nomor telepon customer service untuk menipu pelanggannya. 

Dalam beberapa tahun terakhir, lonjakan aktivitas belanja online tak hanya memicu pertumbuhan isdutri logistik dan pengiriman barang, tetap juga membuka celah bagi kejahatan siber dan penipuan. Banyak konsumen menjadi korban penipuan yang mengatasnamakan perusahaan logistik, termasuk salah satu satunya J&T Express. 

Modus penipuan semakin canggih dan terorganisir, mulai dari website palsu, notifikasi pengiriman palsu, hingga telepon atau pesan yang memaksa korban melakukan pembayaran atau membagikan data pribadi.

Aktris Pun Menjadi Korban

Aktris Asmara Abigail membagikan pengalamannya terkena phising. (Youtube)

Yang mengejutkan, bahkan publik figur sekaliber Asmara Abigail—aktris yang dikenal dari berbagai film horor—pun turut menjadi korban. Hal itu iaungkapkan di YouTube Channel RJL5 - Fajar Aditya episode ‘Asmara Abigail Tinggal di Rumah Mewah Penuh Teror Sampai Hilang 70 Juta dalam Sekejap?!’. 

Peristiwa itu terjadi saat ia sedang bersiap menjalani syuting di daerah Takengon, Aceh. Karena keterbatasan bagasi pesawat kecil yang hanya mengizinkan 5 kilogram, Asmara memutuskan mengirimkan perlengkapan syuting melalui jasa ekspedisi langganannya, J&T Express. 

Baca juga: Laris Manis Bisnis Jasa Pengiriman Selama Ramadhan, Lion Parcel Naik Tajam 20 Persen

Namun, beberapa hari setelah pengiriman, ia menerima pesan iMessage yang mengaku dari pihak J&T dan menyatakan bahwa paketnya bermasalah karena alamat tidak terbaca.

Dalam kondisi kelelahan dan tidak fokus setelah menyelesaikan dua film sekaligus, Asmara mengikuti instruksi dalam pesan tersebut. Ia diarahkan ke situs yang tampilannya menyerupai situs resmi, lalu diminta memperbarui alamat dan membayar biaya tambahan sebesar sembilan ribu rupiah. Tanpa curiga, ia mengisi data kartu kreditnya. 

“Ternyata tiap kali aku melakukan pembayaran, keterangannya ‘transaksi gagal’. Aku coba sampai lima kali, dan ternyata transaksinya sukses semua,” ungkapnya. 

Transaksi itu ternyata dilakukan dalam mata uang Riyal (SAR), dan dalam hitungan menit, saldo kartu kreditnya terkuras hingga Rp70 juta.

Asmara mengaku panik, stres, dan menangis. Ia segera menghubungi ibunya, yang kemudian meminta bantuan asisten rumah tangga untuk mengecek langsung ke outlet J&T. Dari sana, barulah diketahui bahwa paketnya sebenarnya sedang dalam proses pengiriman dan tidak pernah bermasalah. 

“Ternyata itu semua bohong. Alamatnya jelas, paketnya jalan. Dan iMessage itu bahkan dari nomor Filipina,” jelas Asmara. 

Setelah menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban phishing, Asmara menghubungi pihak J&T Express dan mengadakan pertemuan untuk menindaklanjuti kasus ini. 

Baca juga: Mengerikan, Asmara Abigail Laporkan Kondisi Italia Soal Virus Corona

Modus Impersonasi

Herline Septia, selaku Brand Manager J&T Express (INDOZONE/M Fadli)

Salah satu tantangan terbesar adalah impersonasi — peniru identitas, baik itu website, nomor telepon, hingga tampilan pesan yang sangat menyerupai saluran resmi. Herline menekankan bahwa di daerah-daerah pedalaman, masyarakat masih kesulitan membedakan mana website asli dan mana yang palsu.

“Mereka itu sudah sepintar itu impersonate website kami,” ungkap Herline Septia, selaku Brand Manager J&T Express saat media gathering di kawasan Senayan, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu .

J&T Express sendiri telah melakukan audit internal dan memperkuat sistem verifikasi, tetapi Herline mengakui bahwa skala dan kompleksitas penipuan membuat perusahaan tidak bisa mengontrol semuanya. Oleh karena itu, penguatan literasi digital dan kewaspadaan pelanggan menjadi hal yang tak kalah penting.

Kampanye 3C: Antisipasi Pintar di Tengah Modus Penipuan yang Semakin Pintar

Dari kasus Asmara Abigail inilah kampanye “3C: Cek, Curiga, Cancel” lahir sebagai upaya edukatif dari J&T Express untuk membentengi masyarakat dari jebakan serupa. Sang aktris pun memutuskan untuk menjadi bagian dari kampanye edukatif ini.

Herline juga menegaskan bahwa penipuan yang mengatasnamakan layanan pengiriman telah menimbulkan kerugian serius, tidak hanya bagi pelanggan tetapi juga bagi reputasi perusahaan.

“Satu sisi bukan cuma merugikan pelanggan dan masyarakat, tapi juga secara langsung merugikan J&T,” ujar Herline dalam media gathering beberapa waktu lalu.

Baca juga: Rayakan 10 Tahun di Indonesia, J&T Express Gelar Perayaan Seru Bareng Jurnalis

Kampanye “3C: Cek, Curiga, Cancel” dirancang sebagai bentuk pertahanan pertama masyarakat dari upaya penipuan:

  • CEK – Periksa nomor pengirim, tautan, dan situs web dengan teliti. Pastikan semuanya berasal dari kanal resmi J&T Express.
  • CURIGA – Jangan langsung percaya. Bandingkan nomor resi dengan sistem pelacakan resmi, atau konfirmasi ke call center.
  • CANCEL – Jika ada yang mencurigakan, hentikan proses segera dan laporkan ke J&T Express atau pihak berwenang.

Perlindungan Dimulai dari Kesadaran

Modus penipuan melalui jalur pengiriman akan terus berevolusi. Namun, kunci perlindungan utama tetap berada di tangan masyarakat: kesadaran, kewaspadaan, dan keberanian untuk bertanya dan menolak.

Kolaborasi antara J&T Express dan Asmara Abigail bukan hanya kampanye seremonial, melainkan ajakan nyata untuk membangun ekosistem digital yang aman, khususnya di tengah melonjaknya aktivitas e-commerce.

“Semakin banyak orang tahu, semakin sedikit juga nanti upaya penipuan yang bisa terjadi di masyarakat," pungkas Herline. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Analisis Redaksi, Youtube, Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU