INDOZONE.ID - Ayah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, Gabriel Pakaenoni menangis histeris melihat putri tercintanya sudah tiada. Sang ayah memohon kepada pemerintah agar memberikan keadilan untuk anaknya.
Hal itu diungkapkan Gabriel Pakaenoni di depan Gubernur Melki Laka Lena yang datang melayat ke rumah duka di RSS Baumata, Minggu (28/6/2026).
Sambil menangis sesegukan dan berlutut, Gabriel memohon keadilan atas penyebab kematian putrinya yang diduga diintimidasi tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Baca juga: Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Sekolahnya Diduga Pungut Sumbangan Rp1 Juta per Anak
"Bapa Gubernur, saya meminta penegakan kebenaran dan keadilan dan perlindungan, keamanan, kenyamanan bukan hanya untuk anak saya, tetapi untuk seluruh tenaga kesehatan," ucap Gabriel.
Sang ayah melanjutkan, aksi intimidasi dari tiga oknum DPRD itu sungguh keterlaluan hingga menyebabkan mental anaknya hancur dan mengakhiri hidup.
"Terlalu kejam dan sadis membunuh dan mengambil hidup anak saya. Anak kami ingin mengabdi untuk daerah ini, tetapi hidupnya berakhir seperti ini. Tolong kami, Bapa,” ucapnya dengan suara lirih.
Kasus ini bermula pada 13 Juni 2026 ketika dr. Icha bertugas sebagai dokter jaga di IGD RS Leona Kefamenanu. Saat itu pukul 12.50, ia kedatangan pasien seorang anak korban gigitan ular hijau.
Dokter Icha pun menangani pasien sesuai dengan SOP berlaku. Kepada keluarga korban, dr. Icha menjelaskan bahwa pasien belum direkomendasikan menerima vaksin tertentu. Selain itu, vaksin yang diminta pihak keluarga juga tidak tersedia di rumah sakit.
Mendengar penjelasan dr. Icha, keluarga korban yang merupakan anggota DPRD TTU, Therensius Lazakar (Golkar) dan Norbertus Tubani (PKB), tidak terima. Mereka berbicara dengan nada tinggi dan membentak dr. Icha, membuat situasi jadi tegang.
Akibat hal ini, dr. Icha mengalami tekanan mental dan psikologis. Kondisinya memburuk dan sempat dirawat di rumah sakit.
Therensius dan Nobertus membantah telah mengintimidasi dr. Icha saat bertugas di rumah sakit. Namun mereka mengakui saat itu nada berbicaranya memang tinggi.
Hal itu semata-mata hanya karena panik dengan kondisi pasien jika tidak diberi vaksin.
"Kami akui dalam situasi itu nada bicara memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber