Sosok detektif Swasta Jubun. (INDOZONE/M Fadli)
INDOZONE.ID – Penipuan berkedok cinta atau 'love scamming' makin marak di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Banyak korban yang akhirnya mengalami kerugian secara mental bahkan finansial, namun tak berani melapor ke polisi karena terlalu privasi.
Para korban pun mendatangi pihak luar yang bisa membantu memecahkan masalahnya secara pribadi, yaitu agensi detektif swasta.
Hal ini diungkapkan oleh Jubun, seorang detektif swasta senior, yang menyebut kasus ini sebagai salah satu jenis permintaan jasa paling tinggi sejak tahun 2022.
“Sangat sering dan ini merupakan produk jasa yang paling laris sejak tahun 2022 sampai sekarang,” ujar detektif Jubun kepada Indozone dalam sebuah wawancara eksklusif.
Baca juga: Waspada Penipuan Modus Friend Request di Medsos, Detektif Swasta Jubun Bongkar Motif dan Trik Pelaku
Menurutnya, kasus love scamming kerap bermula dari perkenalan korban dan pelaku di media sosial atau aplikasi kencan. Setelah hubungan terjalin, pelaku mulai menyusun skenario manipulatif untuk memancing empati dan cinta korban, hingga akhirnya meminta uang dalam jumlah besar.
“Modusnya sangat banyak beraneka ragam sesuai dengan alur cerita atau drama yang memang didesign oleh pelaku yang memang boleh dikatakan sebagai penipu ulung," kata Jubun.
"Setelah korbannya termakan rayuan dan jatuh cinta maka pelaku akan meminta sejumlah uang misalnya katanya sedang tertahan disebuah negara dan perlu membayar uang tebusan agar bisa bebas, ada banyak uang warisan yang hendak dicairkan namun perlu membayar sejumlah uang terlebih dahulu," katanya.
Korban yang sudah terlanjur jatuh cinta kerap tak sadar bahwa mereka sedang ditipu, hingga akhirnya menyadari ketika uang yang dikirim tak pernah kembali dan pelaku mulai menghilang. Saat menjadi korban, mereka datang minta bantuan.
"Biasanya mereka para korban datang ke saya ingin meminta bantuan saya agar bisa menemukan keberadaan pelaku. Sekaligus mereka meminta jasa pendampingan atau bantuan hukum ketika hendak membawa ke ranah hukum," tuturnya.
Berdasarkan penuturan Jubun, banyak korban wanita yang tertipu dengan para pria, yang ternyata tak sedikit warga negara asing. Bahkan bukan perorangan saja.
"Mereka itu sindikat, kerja berkelompok, kerja tim, masing-masing memiliki peranan misalnya ketika si pelaku mengaku kepada korban yang merupakan pacarnya bahwa ia sedang tertahan di bandara dan harus membayar sejumlah uang kepada petugas maka nantinya akan ada temannya yang berperan sebagai petugas bandara," kata Jubun.
Yang mengejutkan, sebagian besar pelaku love scamming merupakan sindikat internasional, yang bekerja dalam tim dan memanfaatkan teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara