Bank BRI kembali menjadi sorotan karena kasus nasabah kehilangan uang dalam tabungan.
Yang teranyar, seorang nasabah BRI atas nama Marsen Benediktus Sinaga mengungkap bahwa dirinya kehilangan uang dalam tabungannya sebesar Rp38,4 juta.
Hal itu ia ketahui pada Kamis, 24 November 2021 saat dirinya mengecek saldonya yang tiba-tiba tinggal tersisa Rp95 ribu.
"Saya kaget bercampur bingung saat tiba-tiba, pada Kamis, 24 November, sekitar pukul 14.30, saldo di rekening BRI saya tinggal Rp. 95.000. Ini saya ketahui saat mau menarik uang di ATM," tulis Marsen di Facebook.
Saat tahu tabungannya hilang, Marsen lantas melapor ke petugas di Kantor BRI Cabang Prawirotaman. Ia meminta petugas untuk mencetak laporan transaksi atas rekeningnya.
Di sana tertera dalam laporan transaksi bahwa pada tanggal 23 November 2021, pukul 10:28 pagi, ada mutasi dari rekening Marsen sebesar Rp. 38.400.000.
"Saya memberi kesaksian kepada petugas CS bahwa saya tidak melakukan transaksi mutasi tersebut, dan bahwa pada tanggal dan jam tersebut saya sedang ada kegiatan pelatihan di dalam ruang pertemuan. Untuk hal ini, saya bisa menghadirkan saksi-saksi yang ada bersama dengan saya di ruangan tersebut. Kartu ATM saya juga ada di dalam dompet saya, tidak pernah dipinjamkan kepada siapapun," tulis Marsen.
1. Mutasi Antarbank
Selanjutnya, lewat penelurusan yang dilakukan oleh petugas customer service BRI, diperoleh informasi bahwa rekening tujuan mutasi dana sebesar Rp38.400.000 tersebut rekening nomor 004801001563564 atas nama SURYA ZIDAN. Kepada Marsen, petugas CS tersebut mengatakan bahwa jenis transaksi tersebut adalah mutasi antar bank lewat ATM.
"Sementara saya sudah memberi kesaksian bahwa ATM saya tidak pernah pindah tangan kepada siapapun," kata Marsen.
Marsen lantas meminta petugas CS untuk melakukan penelurusan lebih lanjut terhadap transaksi mutasi tersebut untuk mengetahui di mana lokasi ATM tempat transaksi dilakukan jika itu transaksi via ATM.
"Akan tetapi, petugas tersebut mengaku tidak bisa melakukannya, dan hanya bisa meneruskan laporan saya ke kantor pusat BRI di Jakarta," lanjut Marsen.
Pada hari yang sama, Marsen menghubungi call center 14017 dan menceritakan peristiwa yang menimpanya. Ia menyampaikan bahwa dirinya sudah memasukkan laporan dari Kantor Cabang BRI di Prawirotaman, Yogya.
Sesudah petugas ini memeriksa laporannya, petugas mengatakan bahwa laporan yang disampaikan oleh petugas CS dari kantor BRI Cabang Prawirotaman salah, lalu petugas itu membuat laporan baru.
"Dia memberi saya nomor laporan saya yang baru, yaitu 37661286," kata Marsen.
Keesokan harinya, Jumat, 25 November 2021, Marsen datang lagi ke petugas Customer Service di Kantor BRI Wilayah Yogya. Ia bermaksud memastikan bahwa laporannya sudah masuk dan meminta versi cetak dari laporannya.
"Petugas CS ini juga mengaku bahwa mereka hanya bisa meneruskan pengaduan seperti ini karena penanganannya terpusat di Jakarta. Dalam laporan ini saya melampirkan surat pernyataan bermeterai bahwa saya tidak melakukan transaksi mutasi yang memakai rekening saya. Pihak BRI meminta saya menunggu selama 20 hari kerja, tanpa ada kepastian apapun bahwa dana saya yang hilang akan kembali," kata Marsen.
2. Sistem Keamanan Dianggap Lemah
Setelah itu, Marsen pun merasa tidak berdaya.
"Ini bukti bahwa kedudukan saya sebagai nasabah bank, artinya juga kedudukan begitu banyak orang sebagai nasabah bank, sangatlah rentan. Kapanpun dan siapapun tiap kali berisiko menghadapi kejahatan seperti ini," katanya.
Marsen merasa dirinya menjadi korban dari sistem keamanan perbankan yang lemah dan tidak bisa diandalkan.
"Ini satu lagi bukti dan alasan perlunya memperkuat gerakan konsumen di Indonesia untuk memaksa perbankan untuk bertanggungjawab atas buruknya sistem keamanan perbankan yang membuat banyak orang rentan kehilangan uang," tulis Marsen.
3. Kejahatan Skimming
Menanggapi apa yang menimpa nasabahnya, pemimpin Cabang BRI Yogyakarta Katamso, Rahmad Budi Sulistia menyampaikan bahwa BRI telah menerima dan menindaklanjuti pengaduan nasabah tersebut, dengan melakukan investigasi atas pengaduan dimaksud.
Rahmad bilang, apa yang menimpa Marsen adalah tindak kejahatan skimming. Dan BRI telah mengganti kerugian Marsen.
"Ybs merupakan korban tindak kejahatan skimming, sehingga BRI telah melakukan penggantian atas kerugian nasabah tersebut," ujar Rahmad.
Untuk memerangi kejahatan skimming, BRI, kata Rahmad, telah berkoordinasi dan bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menangkap sindikat kejahatan skimming, di mana tidak hanya nasabah yang menjadi korban.
BRI juga menghimbau nasabah agar lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi perbankan, rutin melakukan penggantian PIN kartu ATM, dan juga menjaga kerahasiaan data nasabah seperti nomor rekening tabungan, nomor kartu, nomor CVV kartu kredit, nomor OTP transaksi, dan sebagainya kepada pihak manapun, termasuk yang mengatasnamakan BRI.
"Di samping itu, apabila mendapat notifikasi melalui sms/email atas transaksi yang tidak dilakukan, nasabah agar segera menghubungi Contact BRI 14017/1500017 untuk melakukan disable/pemblokiran kartu ATM. Apabila hendak menggunakan ATM perbankan di manapun, agar selalu memeriksa kondisi sekitar dan kewajaran dari mesin ATM tersebut. Input PIN anda sembari menutup dengan tangan untuk menjaga kerahasiaan," ujar Rahmad.
4. Marsen Berterima Kasih kepada Warganet
Marsen sendiri membenarkan kalau uang tabungannya yang raib telah kembali.
Ia mengaku dihubungi oleh pejabat BRI yang menyampaikan bukti pengembalian uang tersebut.
"Saya tidak menyangka secepat itu. Sekitar pukul 10.30 pagi ini, pejabat dari BRI Cabang Yogya Jalan Cik Di Tiro menghubungi saya via whattsup call. Dia mengabari bahwa dana saya yang hilang sudah dikembalikan. Lalu, petugas CS mengirimi saya foto laporan transaksi di bawah ini," tulisnya.
Marsen mengungkap bahwa pejabat BRI tersebut meminta dirinya untuk take-down berita tentang kasus tersebut di media sosial, dan juga memintanya untuk menyampaikan ucapan terima kasih ke BRI Yogya Jalan Cik Di Tiro karena respons yang cepat dalam menyelesaikan permasalahan yang ia hadapi.
"Tapi, masak gitu ajah, BRI? Pemberitaan di medsos menjadi viral, menurut saya, karena banyak orang mengalami dan punya perasaan kerentanan yang sama. Semua yang saya sampaikan tidak punya muatan hasutan apalagi berita bohong. Itu menjadi viral karena kecemasan yang sama dialami oleh begitu banyak orang. Yang saya alami bisa menimpa mereka kapanpun," kata Marsen.
Marsen pun merasa beruntung karena punya banyak teman yang bekerja sebagai jurnalis, pengacara dan yang cukup melek medsos, yang dengan sigap membuat kasus ini jadi viral.
"Tapi saya membayangkan begitu banyak orang nasabah BRI yang akan bingung dan galau kalau mengalami kasus saya. Maka, alih-alih berterimakasih ke pejabat BRI yang menghubungi saya tadi pagi, saya mau berterimakasih kepada teman-teman yang ikut membuat kejadian ini viral di media sosial, yang namanya tidak bisa saya sebut satu per satu. Ini sebentuk people-power di jaman digital ini," tulisnya.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: