Selasa, 20 OKTOBER 2020 • 13:53 WIB

1 Tahun Jokowi-Ma'ruf, Ini Deretan 'PR' di Bidang Militer yang Harus Dibenahi

Author

Peringatan HUT Ke-75 TNI di Makodam XIV-Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (5/10/2020). (ANTARA/Arnas Padda)

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Wapres Ma'ruf Amin sudah berjalan selama 1 tahun. Banyak pencapaian yang sudah dilakukan keduanya, terutama dalam menghadapi Pandemi Covid-19.

Lalu, bagaimana kondisi pertahanan dan militer dalam 1 tahun kepempinan Jokowi-Ma'ruf? Pengamat Intelijen dan Militer, Susaningtyas Kertopati mengatakan, ada beberapa pekerjaan rumah (PR) di bidang Milliter yang harus dibenahi. 

"Kondisi pertahanan atau militer pada 1 tahun Jokowi-Maruf terbilang cukup unik, karena kondisi negara yang masih berjuang menghadapi Pandemi Covid-19," kata perempuan yang akrab disapa Nuning kepada Indozone, Selasa (20/10/2020). 

Dia menjelaskan, sejak Maret 2020, TNI bersama kementerian dan instansi pemerintah yang lain serta seluruh komponen bangsa bahu-membahu menangani korban yang terinfeksi sekaligus berusaha memutus rantai penularan.

"TNI dituntut mampu merespon bencana non alam ini secara terukur dan sistematis. Pengalaman TNI selama beberapa tahun terakhir menghadapi bencana alam kini diproyeksikan menghadapi bencana non alam," ujarnya. 

Presiden Joko Widodo memimpin upacara HUT ke-75 TNI di Istana Negara Jakarta, Senin (5/10/2020). (ANTARA/Biro Pers/Lukas)

Menurut dia, Operasi Militer Selain Perang (OMSP) menghadapi bencana non alam seperti Pandemi Covid-19 merupakan pelajaran berharga untuk mengantisipasi terulangnya kembali Pandemi. Dari Perspektif Sistem Pertahanan Negara, maka OMSP menghadapi Pandemi Covid-19 juga dapat diterapkan menghadapi ancaman senjata biologis. 

"Dengan parameter dan indikator yang sama, maka kemampuan TNI menghadapi ancaman senjata biologis pada gilirannya juga bisa diimplementasikan untuk menghadapi Senjata Pemusnah Massal (Weapon of Mass Destruction) lainnya," tutur dia.

"Ancaman senjata nuklir, senjata kimia dan senjata radiasi juga memiliki skala tinggi untuk dideteksi dan ditangkal," sambung Nuning.

Nuning pun berharap TNI segera meningkatkan kemampuan dan persenjataannya untuk menghadapi ancaman CBRN (Chemical, Biology, Radiation and Nuclear). Wabah Covid-19 merupakan ancaman nirmiliter. 

"Ancaman nirmiliter berbeda dengan ancaman militer dan ancaman nonmiliter. Ketiganya kini dikenal sebagai ancaman hybrida dan telah merubah perspektif ancaman di masa mendatang," paparnya.

Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, KSP Moeldoko, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) dan KASAD Jenderal TNI Andika Perkasa memimpin upacara HUT ke-75 TNI di Istana Negara Jakarta, Senin (5/10/2020). (ANTARA/Biro Pers/Lukas)

Senjata biologi dan pertahanan negara anti senjata biologi, sambung dia, merupakan ilmu pengetahuan yang harus dikuasai TNI. Melihat semakin luasnya ancaman, dalam kurun waktu ke depan TNI membutuhkan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

"Peningkatan SDM diperlukan sebagai bagian modernisasi Alutsista sehingga dibutuhkan kemampuan manajemen tempur dan diplomasi militer yang handal," pungkas mantan anggota Komisi I DPR RI itu.

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU