Rabu, 08 APRIL 2020 • 12:21 WIB

Bikin Terenyuh, Sopir Ambulans Sampai Nginap dengan Jenazah, Ditolak Warga Takut Corona

Author

Mobil ambulans Nurul Hayat (NH) Zakat Kita yang mengantarkan janazah ditahan warga. (Facebook/HeriLatief)

Akibat kepanikan wabah virus corona di tanah air, berbagai masalah dialami warga bahkan bagi mereka yang telah meninggal pun tidak bisa dimakamkan dengan layak.

Kisah pilu dialami oleh petugas Nurul Hayat (NH) Zakat Kita yang memberikan dukunagan operasional layanan ambulans gratis, membagikan pengalaman saat jenazah yang mereka antarkan ditolak warga untuk diantar kepada pihak keluarga.

Padahal jenazah tersebut meninggal bukan karena korban wabah COVID-19, namun wafat dalam keadaan wajar akibat penyakit jantung.

Cerita yang bikin hati terenyuh ini dibagikan oleh Heri Latief Amil Zakat di Laznas Nurul Hayat dalam akun Facebooknya, Rabu (8/4/2020).

"Saya kira Jenazah ditolak itu cuma di Medsos. Ternyata kami mengalami sendiri. Semalam, Mas M Teguh Santoso, driver Mobil Jenazah #NHZakatKita nginap bareng jenazahnya di atas Mobil," tulis Heri Latief. 

Katanya, gara-gara tokoh masyarakatnya tak berkenan menerima. Jenazah bertahan di atas mobil mulai jam 9 malam sampai tulisan tersebut dia unggah jam 10 pagi ini. 

"Padahal Jenazah bukan pasien Covid," katanya.

Dia menceritakan kalau jenazah dibawa dari Surabaya menuju salah satu kabupaten di Jatim. Sampai di kampung halaman ditolak. Padahal sudah mengantongi surat kematian dari Rumah Sakit. 

Pihaknya pun sudah menjelaskan secara baik-baik bahwa sakitnya sakit jantung. Katanya belum cukup. Suruh ke Surabaya lagi minta surat yang entah surat apa lagi. 

"Akhirnya keluarga balik ke Surabaya. Sampai jelang siang ini belum datang. Mungkin rumah sakitnynya juga bingung, mau berkas apa lagi?, Mungkin RS tak mau ambil sikap diluar prosedur. Atau dokter jaganya boleh jadi sudah pulang. Atau admin RS tak berani bertindak di luar SOP. Dan segala macam keribetan lain. Yang pasti, kasihan Jenazah sekarang tertahan lama di dalam Mobil. Semoga segera ada jalan keluar," tulisnya.

Dia mengatakan logikanya kalau memang almarhum adalah Pasien Covid, pasti masuk dalam penindakan Gugus Tugas penanganan wabah yang dibentuk pemerintah.

Atau petugas RS pasti lebih tahu. Tidak dibiarkan begitu saja. 

"Saya membayangkan. Kalau sikap seperti itu merata di semua orang, berapa banyak keluarga meninggal dunia yang kecele. Ini masih antar kabupaten. Gimana kalau lebih jauh lagi, antar propinsi misalnya. Ditolak mentah-mentah atau disuruh kembali ke RS. Mengurus berkas yang RSnya bingung atau tidak mau," tambah Heri Latief lagi.

"Aduhai saudaraku sekalian. Ummat Rasulullah. Hamba Allah. Yang juga pasti Mati..."

Heri Latief pun mengatakan bahwa di NH Zakat Kita punya pedoman untuk layanan jenazah masih mereka buka kendati di tengah ketakutan ancaman COVID-19. 

"Memangnya tim layanan Jenazah kami itu tidak takut juga oleh ancaman Covid. Sampai sekarang, Layanan Jenazah untuk masyarakat tetap kami buka. Meski begitu, namanya manusia, kami juga punya kekhawatiran sama. Atau keluarga kami pastinya punya ketakutan setiap kami pergi menjemput Jenazah. Riwa riwi keluar masuk rumah sakit. Angkut Jenazah dari kamar mayat sampai ke Rumah. Siapa bisa jamin?," ungkapnya.

Tapi bagaimanapun, katanya ini tuntutan layanan. Lebih persisnya panggilan kemanusiaan. Layanan ini bukan komersil.

Kalau semua lari dengan alasan takut dan cari aman, siapa ummat Rasulullah yang akan turun memberi pertolongan buat sesama ummat Rosulullah.

Dia menyebutkan kalau pihak Layanan Jenazah NH sendiri sementara sudah memutuskan hanya menangani Jenazah biasa. 

"Karena kami belum menyiapkan penanganan khusus Covid. Yang meskipun, kalau akhirnya ada permintaan dari Pemerintah, InsyaAllah kami siap belajar prosedur dan terjun menjadi anggota penanganan Jenazah Covid," bebernya.

Dia pun mengatakan kalau ini menjadi pelajaran oleh pihaknya bahwa mulai hari ini dan ke depan. Untuk kalau membawa Jenazah, surat kematian dari RS yang ditandatangani dokter, bisa jadi masih belum cukup. 

"Semoga ada bukti penguat lain dari RS. Yang disepakati oleh semua RS dan Aparatur Pemerintah. Kalau tidak ada standart yang jelas begini, ya, kami yang niatnya bantu begini jadi kebingungan," katanya.
 

Artikel Menarik Lainnya:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Tags
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU