Senin, 16 MARET 2026 • 14:00 WIB

Apa Itu Propaganda? Kenali Jenis, Teknik, dan Cara Kerjanya dalam Mempengaruhi Opini Publik

Author

Ilustrasi propaganda. (freepik)

INDOZONE.ID - Di era digital yang dipenuhi arus informasi seperti saat ini, propaganda menjadi salah satu cara yang kerap digunakan untuk memengaruhi opini publik. Propaganda adalah teknik komunikasi persuasif yang dirancang untuk membentuk cara berpikir, emosi, dan sikap masyarakat terhadap suatu ide, kelompok, atau agenda tertentu.

Propagana bekerja melalui pesan yang disusun secara strategis agar mampu membentuk persepsi publik. Sering kali propaganda dikemas seperti informasi biasa, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa pesan tersebut sebenarnya bertujuan memengaruhi cara pandang mereka.

Praktik propaganda sendiri bukan hal baru. Sejak lama, metode ini digunakan dalam berbagai keperluan, mulai dari penyebaran ajaran agama, kampanye politik, hingga strategi komunikasi pada masa perang untuk membangun dukungan publik.

Di era media sosial, propaganda semakin mudah menyebar karena didukung teknologi digital. Pesan propaganda dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat, sehingga kemampuan literasi media dan berpikir kritis menjadi hal penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang manipulatif.

Baca juga:  Polisi Kawal Ribuan Pemudik Motor dari Bakauheni Menuju Bandar Lampung

Apa itu Propaganda?

Kata "propaganda" bermula dari Gereja Katolik Roma pada tahun 1622 melalui lembaga bernama Congregatio de Propaganda Fide, yang bertugas menyebarkan ajaran agama.

Seiring berjalannya waktu, makna propaganda berkembang. Dalam era Reformasi Protestan, tokoh agama seperti Martin Luther menggunakan propaganda untuk membentuk opini publik yang menentang otoritas Gereja Katolik saat itu.

Sejak saat itu, propaganda tidak lagi menjadi wadah untuk menyebarkan informasi, tetapi juga menjadi alat untuk memengaruhi cara pandang masyarakat.

Pakar komunikasi, Terrence Qualter. mendefinisikan propaganda sebagai upaya yang dilakukan secara sengaja oleh individu atau kelompok tertentu dengan menggunakan media komunikasi untuk memengaruhi reaksi publik sesuai dengan tujuan pihak yang menyebarkannya.

Sementara, ilmuwan politik Harold Lasswell menyebut propaganda sebagai teknik mengubah sikap dan perilaku manusia melalui manipulasi simbol.

Jenis-Jenis Propaganda

Baca juga: Pemprov DKI Gratiskan Ancol hingga Transportasi Umum saat Lebaran Bagi Warga yang Tak Mudik

Propaganda Putih

Propaganda putih adalah bentuk propaganda yang sumbernya diketahui secara jelas dan disampaikan secara terbuka kepada publik. Informasi yang disampaikan biasanya berasal dari pihak yang secara terang-terangan mengakui identitas diri mereka sebenarnya.

Contoh propaganda jenis ini bisa ditemukan dalam kampanye melalui media massa, seperti iklan politik, siaran resmi pemerintah, atau pesan kampanye dari organisasi tertentu.

Propaganda putih sering kali memunculkan respons atau propaganda tandingan dari pihak lain yang memiliki kepentingan berbeda.

Propaganda Abu-Abu

Propaganda abu-abu berada di antara propaganda terbuka dan propaganda tersembunyi.

Sumber informasi propaganda abu-abu tidak dijelaskan secara jelas sehingga sulit bagi publik untuk memastikan siapa sebenarnya pihak yang menyebarkan pesan tersebut.

Pesan propaganda abu-abu biasanya disampaikan dengan cara yang terlihat netral atau informatif, tetapi sebenarnya memiliki tujuan tertentu.

Ketidakjelasan sumber inilah yang membuat propaganda jenis ini cukup efektif karena publik cenderung tidak langsung mencurigainya.

Propaganda Hitam

Propaganda hitam merupakan bentuk propaganda yang paling tersembunyi.

Sumber informasi dari propaganda ini sengaja disamarkan atau bahkan dipalsukan sehingga tampak berasal dari pihak lain.

Tujuan dari propaganda hitam adalah menipu publik dengan cara menciptakan kesan seolah-olah informasi tersebut datang dari sumber yang dapat dipercaya.

Propaganda jenis ini sering dianggap paling berbahaya dalam memengaruhi opini publik karena menggunakan manipulasi identitas.

Baca juga: Wapres Gibran: Nyepi dan Idul Fitri yang Berdekatan Jadi Momentum Perkuat Persatuan Bangsa

Teknik Psikologis yang Sering Digunakan dalam Propaganda

Bandwagon

Teknik bandwagon merupakan propaganda yang mendorong masyarakat untuk mengikuti suatu gagasan dengan menekankan bahwa “semua orang sudah melakukannya”. Pesan propaganda biasanya menampilkan kesan bahwa mayoritas masyarakat telah mendukung suatu ide, program, atau tokoh tertentu.

Dengan menciptakan persepsi bahwa sebuah pilihan sudah didukung banyak orang, publik secara psikologis terdorong untuk ikut bergabung agar tidak merasa tertinggal atau berbeda dari kelompok mayoritas itu.

Teknik ini sering digunakan dalam kampanye politik maupun promosi produk.

Name-Calling

Name-calling adalah teknik propaganda yang dilakukan dengan memberikan label atau julukan bernada negatif kepada individu, kelompok, atau gagasan tertentu.

Tujuannya adalah membentuk citra buruk di mata publik tanpa perlu menjelaskan atau membuktikan kesalahan secara mendalam.

Melalui penggunaan istilah yang merendahkan atau mengejek, khalayak diharapkan langsung menolak pihak yang diserang. Teknik ini banyak digunakan dalam persaingan politik, propaganda perang, maupun konflik ideologi.

Penyebaran Hoaks

Penyebaran informasi palsu atau hoaks juga menjadi salah satu teknik propaganda yang sering digunakan. Dalam metode ini, fakta yang sebenarnya dapat disembunyikan, dipelintir, atau digantikan dengan informasi yang tidak benar agar publik mempercayai narasi tertentu.

Hoaks biasanya dirancang agar terlihat meyakinkan, misalnya dengan mencantumkan data yang seolah-olah valid atau mengaitkannya dengan tokoh terkenal. Jika informasi tersebut terus diulang dan disebarkan secara luas, sebagian masyarakat bisa saja menganggapnya sebagai sebuah kebenaran.

Teknik semacam ini menjadi semakin efektif di era digital, di mana informasi dapat menyebar dengan sangat cepat melalui berbagai platform. 

Baca juga: Suasana Salat Witir di Alun-alun Malang Ricuh, Petasan Meledak dan Diduga Terjadi Pencopetan

Bagaimana Propaganda Mempengaruhi Pikiran Publik? 

Pengaruh propaganda terhadap cara berpikir masyarakat telah lama menjadi perhatian para ahli komunikasi dan politik. Salah satu tokoh yang banyak membahas hal ini adalah Harold Lasswell.

Menurut Lasswell, propaganda bekerja efektif ketika kondisi psikologis masyarakat sedang rentan, seperti berada dalam krisis ekonomi, konflik politik, atau tekanan sosial.

Masyarakat cenderung lebih mudah menerima pesan yang menawarkan solusi atau harapan, sebab mereka akan kehilangan kemampuan berpikir kritis jika berada di kondisi tersebut.

Propaganda biasanya memanfaatkan simbol-simbol yang kuat dari segi emosional, seperti nasionalisme, agama, atau identitas kelompok.

Ketika simbol tersebut dipadukan dengan pesan yang menyentuh mereka, propaganda dapat memicu respons massa secara cepat.

Pandangan serupa juga diungkapkan oleh jurnalis Walter Lippmann. Ia menilai bahwa manusia sering kali tidak melihat realitas secara objektif, melainkan melalui gambaran atau asumsi yang sudah terbentuk dalam pikiran mereka.

Akibatnya, banyak orang lebih mudah mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan pribadi, meskipun belum tentu sesuai dengan fakta.

Baca juga: Dear Pemudik! Polri Imbau Jangan Beristirahat di Bahu Jalan Tol

Contoh Penerapan Propaganda

Era Perang Dunia

Pada periode ini, propaganda digunakan secara sistematis oleh negara-negara yang terlibat perang untuk membangun dukungan publik terhadap konflik yang sedang berlangsung.

Di Amerika Serikat, propaganda digunakan untuk menggerakkan masyarakat agar mendukung perang, termasuk mendorong perekrutan tentara dalam jumlah besar.

Selain itu, propaganda juga dimanfaatkan untuk menjaga semangat warga sipil agar tetap percaya pada tujuan perang meskipun situasi saat itu penuh tekanan dan ketidakpastian.

Teknik propaganda dalam masa perang biasanya memanfaatkan simbol-simbol nasionalisme, pesan emosional, serta narasi yang menggambarkan pihak lawan sebagai ancaman.

Dengan cara ini, pemerintah dapat membangun solidaritas nasional sekaligus memperkuat dukungan masyarakat terhadap kebijakan perang.

Setelah Perang Dunia I berakhir, praktik propaganda tidak serta-merta berhenti. Sebaliknya, teknik ini justru semakin berkembang dan digunakan oleh berbagai gerakan politik di Eropa untuk memperluas pengaruh serta membentuk opini publik.

Era Kampanya Digital di Media Sosial

Di platform digital, propaganda sering muncul dalam bentuk konten yang dirancang untuk memengaruhi emosi atau persepsi pengguna yang membacanya.

Pesan tersebut dapat berupa narasi politik, opini yang dibungkus sebagai fakta, maupun informasi yang sengaja dipilih untuk memperkuat sudut pandang tertentu.

Menurut pandangan tentang propaganda modern, manipulasi informasi melalui media menjadi semakin efektif ketika masyarakat memiliki tingkat literasi informasi yang rendah dan tidak terlalu terlibat secara aktif dalam isu politik.

Kondisi ini membuat sebagian orang lebih mudah menerima pesan tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

Di sisi lain, derasnya arus informasi di media sosial juga membuat masyarakat sering kali sulit membedakan antara informasi yang faktual dengan pesan yang bersifat manipulatif.

Sebab itu, kemampuan berpikir kritis dan literasi media menjadi hal penting agar publik tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang beredar di ruang digital yang luas ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Umsida.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU